3 Juli 1949, Persiapan Akhir di Kota Mentok Sebelum Kembalinya Pemimpin Republik Ke Yogyakarta.
Admin 3 July 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC
Setelah mendapatkan kepastian tentang kembalinya pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka ke Yogyakarta pada Tanggal 6 Juli 1949, sebagaimana kenangan Hatta pada otobiografinya yang berjudul “Untuk Negeriku”: “diduga bahwa kami di Bangka akan Kembali ke Yogya tanggal 5 atau 6 Juli 1949. Atas usul Cochran, kami berangkat dari Bangka Kembali ke Yogya tanggal 6 juli 1949, kenang Hatta”.
Untuk mempersiapkan pelaksanaan kembalinya pemimpin Republik dari Bangka ke Yogyakarta, maka pada tanggal 1 Juli 1949, Moh. Rum (Ketua Delegasi Juru Runding Indonesia), Ali Sastroamidjojo (Menteri Pendidikan/ Pengajaran) dan Mr. Asaat, Ketua Badan Pekerja Komite Indonesia Pusat (KNIP) menuju Bangka untuk menunggu kembali ke Jogja. Sementara para pemimpin Republik di Bangka menunggu kepulangannya ke Yogyakarta. Sementara itu Dr. Leimena, Mohammed Natsir dan Dr. Halim, didampingi pengamat militer dari UNCI menuju ke Bukittinggi untuk melakukan pertemuan dengan Sjafruddin Prawiranegara Pemimpin PDRI pada tanggal 4 Juli 1949.
Rencana kembalinya pemimpin Republik dari Bangka ke Yogyakarta dimulai pada tanggal 4 Juli 1949 yaitu melakukan perpisahan dengan Masyarakat Mentok yang akan dilaksanakan di Pesanggrahan BTW Mentok, dilanjutkan kemudian perjalanan menuju Pangkalpinang ke Gedung House Hill BTW Pangkalpinang untuk menginap.
Rencananya keesokan hari pada tanggal 5 Juli 1949 akan diserahkan dana hasil sumbangan rakyat Bangka untuk menyokokong Pembangunan Ibukota Yogyakarta di Balai Gemeente Pangkalpinang dan lusanya tanggal 6 Juli 1949 sebelum kembali ke Yogyakarta dilakukan perpisahan dengan rakyat Bangka di Balai Gemeente Pangkalpinang.

Persiapanpun dilakukan baik di Mentok dan Pangkalpinang sejak tanggal 3 Juli 1949 atau sehari sebelum keberangkatan dari Kota Mentok. Rencananya perpisahan di Kota Mentok akan hadir sekitar 1000 orang dan di Pangkalpinang akan hadir sekitar 3000 orang.
Perpisahan dengan pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka memang sangat mengharukan. Setelah berinteraksi selama 197 hari dengan rakyat Bangka banyak kenangan kenangan manis yang membanggakan. Bung Hatta, R.S. Suryadarma, Asaat, A.G. Pringgodigdo sudah berinteraksi dengan masyarakat Bangka sejak 22 Desember 1948, kemudian disusul oleh M. Rum dan Ali Sastroamijoyo sejak tanggal 31 Desember 1948, kemudian menyusul Bung Karno dan Agus Salim tanggal 6 Februari 1949.
Pengasingan pemimpin-pemimpin Republik ke pulau Bangka, pada kenyataannya, justru semakin mengobarkan semangat rakyat Bangka utuk mencintai Republik. Bahkan Bung Karno dalam tulisannya mengatakan, bahwa Rakyat Bangka sangat nyata republiken.
Hampir seluruh kota kota di Bangka mulai dari Pangkalpinang, Tempilang, Koba, Toboali, Sungailiat, Belinyu dikunjungi para pemimpin Republik. Mereka hadir di rapat rapat umum, berpidato di mimbar Jumat, menghadiri pesta panen padi dan hadir dalam berbagai aktifitas olahraga masyarakat.
Kehadiran pemimpin Republik menorehkan kenangan indah bagi Masyarakat Bangka. Bung Karno dan pemimpin Republik bertemu masyarakat, membakar semangat nasionalisme dan patriotisme.

Salah satu tokoh yang menulis kenangan manis itu adalah, A.A. Bakar: “Waktu itu ada rapat raksasa di Balai Haminte (gemeente) di Kota Pangkalpinang. Aku pun ikut hadir. Di sekeliling balai itu orang bersesak-sesakan dan berdesak-desakan. Suasananya ribut sekali. Tetapi tatkala Pak Karno akan memulai pidatonya, keadaannya menjadi tenang. Seperti sediakala Pak Karno mengucapkan pidatonya dengan berapi-api, membangkitkan semangat dan kesadaran berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu (Bakar, 1993:48).
*Keterangan gambar: Presiden Sukarno mendatangi anak-anak yang sedang berbaris di pinggir Jalan.
Sumber : PERPUSNAS
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.