3 Juni 1961, Pukul 09.00 Masjid Jamik Pangkalpinang Diresmikan.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260603_075750_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Masjid Jamik yang terletak di Kampung Dalam Pangkalpinang awalnya dibangun pada Tanggal 3 Syawal 1355 H atau bertepatan dengan Tanggal 18 Desember 1936 M. Prasasti pendirian awal masjid dapat dilihat pada marmer putih di halaman masjid sekarang.

Bentuk fisik masjid sejak awal berdiri adalah semi permanen dengan pondasi yang cukup kuat, berlantai semen berdinding papan dan beratap genteng, bila dilihat dari atas berbentuk seperti piramida, lebar di bagian bawah menciut di bagian tengah dan atasnya. Bentuk arsitekturnya sama dengan arsitektur masjid masjid tua di Nusantara yaitu bentuk “Meru Tumpuk”.

Bangunan masjid bertingkat Tiga, pada bagian bawah digunakan untuk tempat beribadah terutama sholat Lima waktu berjamaah, pengajian dan diperkirakan dapat menampung jamaah sekitar 600 orang. Di bagian tingkat tengah berfungsi sebagai tempat menyimpan kitab-kitab kuning, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya, sedangkan di bagian tingkatan atas berfungsi sebagai menara untuk Muazin mengumandangkan azan.

Mengingat perkembangan akan kebutuhan jemaah yang semakin bertambah di pulau Bangka, khususnya di Kota Pangkalpinang, maka atas musyawarah masyarakat Bangka diputuskan untuk dilakukan renovasi atau pembangunan baru terhadap bangunan masjid Jamik.

Renovasi pertama dipelopori oleh seorang ulama kharismatik di pulau Bangka yaitu K.H. Mas’ud Nur yang pada saat itu menjabat sebagai penghulu Pangkalpinang. K.H. Mas’ud Nur dibantu oleh tokoh-tokoh agama yang ada di pulau Bangka antara lain KH. Mochtar Yasin, KH. Masdar, KH. Abdullah Addary, H.M. Ali Mustafa, KH. Achmad Razaq, KH. Suhaimi dan kiai-kiai lainnya.

Pada periode renovasi pertama (akhir Tahun 1950-1954), ditetapkan rancangan/ukuran masjid dengan Panjang 30 meter, Lebar 30 meter dilengkapi dengan kubah dan satu menara masjid setinggi 23 meter dengan kapasitas dapat menampung 1.500 orang jamaah.

See also  2 Mei 1949, Dari Menumbing Bangka Bung Hatta Ingatkan Bahaya Komunisme.

Dana pembangunan diperoleh dari sumbangan seluruh komponen masyarakat Bangka, baik Masyarakat yang ada di pulau Bangka, maupun masyarakat Bangka yang ada di perantauan di luar Kepulauan Bangka Belitung.

Pengerjaan fisik bangunan masjid juga dilakukan dengan cara bergotong royong. Wakil Presiden RI, Mohd. Hatta ikut menyumbang dana sebesar Rp.1000,-, pada saat beliau berkunjung kembali ke pulau Bangka Tahun 1951.

Pada saat yang bersamaan masyarakat Kota Pangkalpinang juga secara bergotong royong sedang membangun Gedung Nasional sebagai simbol nasionalisme masyarakat Bangka setelah kembalinya ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 17 Agustus 1950.

Kegiatan renovasi masjid kemudian dilanjutkan pada periode kedua Tahun 1955-1961. Pada periode ini panitia pembangunan masjid tetap diketuai oleh KH. Mas’ud Nur dibantu seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha dan seluruh komponen masyarakat di pulau Bangka.

Arsitek/tekhnik bangunan masjid dirancang oleh Hady Susilo (karyawan PN Tambang Timah Bangka). Pengerjaan fisik pada periode kedua lebih banyak difokuskan pada penyelesaian akhir bangunan masjid dan pembuatan menara masjid setinggi 23 meter.

Masjid Jamik selesai direnovasi dan diresmikan pada Tanggal 3 Juni 1961, tepat pada pukul 09.00 WIB dan renovasi pembangunannya menghabiskan biaya sebesar Rp. 6.115.855,32 (Elvian, 2009:76-77).


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments