31 Mei 1949, Tadjoeddin Noor Ketua Panitia Penyambutan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta Menghadap Soekarno ke Bangka
Jelajah Bangka
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Sri Sultan Hamengkubowono IX telah membentuk Panitia Penyambutan Kembalinya Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta, yaitu kembalinya pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta dari pengasingan di Pulau Bangka. Tajuddin Noor (mantan ketua Parlemen Indonesia Timoer) telah ditunjuk sebagai ketua panitia, Ki Hajar Dewantoro sebagai Wakil Ketua, dengan anggota Pangeran Purboyo (salah satu saudara tiri Sultan), Ruslan Abdoelgani (Sekjen Kementerian Penerangan) dan perwakilan dari Chung Hwa Tsung Hui (CHTH) atau organisasi payung masyarakat Tionghoa), serta dari Liga Pakistan dan Liga India.
Kembalinya Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta dan kenapa panitia penyambutan terdapat unsur unsur di luar Republik Indonesia sesuai dengan kesepakatan Rum-Royen dan menjadi kehendak Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta agar Pemerintah Republik Indonesia selekas-lekasnya setelah dipulihkan di Yogyakarta.
Dr. Van Royen, ketua delegasi Belanda, menerangkan: Delegasi Belanda diberi kuasa menyatakan bahwa, berhubung dengan kesanggupan yang baru saja diucapkan oleh Mr. Rum, ia menyetujui kembalinya Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta.
Delegasi Belanda selanjutnya menyetujui pembentukan satu panitia bersama atau lebih di bawah auspices U.N.C.I. dengan maksud: mengadakan penyelidikan dan persiapan yang perlu sebelum kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Yogyakarta,
Pada hari Selasa tanggal 31 Mei 1949 Tadjoeddin Noor selaku ketua Panitia Penyambutan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta berangkat ke Bangka untuk menghadap Soekarno membahas persiapan penyambutan kembalinya Pemerintah Republik Indonesia ke Jogjakarta (Harian De vrije pers: ochtendbulletin edisi 2 Juni 1949).

Dalam konferensi pers setibanya dari Bangka, Tajuddin Noor ketua panitia penyambutan pemerintah Republik Indonesia menyatakan tidak menutup kemungkinan perwakilan negera-negera federal akan diundang ke Yogyakarta ketika Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta tiba.
Selain itu turut hadir menyambut di Lapangan udara Maguwo antara lain perwakilan pemerintah pusat, pemerintah daerah, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Tentara Nasional Indonesia, polisi dan dari Sekretariat Negara. Setelah itu akan mengadakan resepsi di Istana Kepresidenan. Wartawan dalam dan luar negeri akan diberi kesempatan untuk menjemput di Lapangan udara. Untuk waktunya sebelum awal bulan puasa atau bertepatan tanggal 6 Juli 1949.
Penjelasan kenapa kembalinya pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta dari Bangka ditetapkan tanggal 6 Juli 1949 adalah atas usul dari Merle H Cochran utusan UNCI dari Amerika Serikat.
Selengkapnya Hatta dalam bukunya yang Ia tulis, berjudul Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi mengatakan: ”Pada Tanggal 27 Juni 1949 kami mendengar berita radio yang mengatakan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada Tanggal 30 Juni akan mengambil alih kekuasaan di Yogya dari tangan Belanda. Diduga bahwa kami di Bangka akan Kembali ke Yogya tanggal 5 atau 6 Juli 1949. Atas usul Cochran, kami berangkat dari Bangka Kembali ke Yogya tanggal 6 Juli 1949, kenangnya”.
*Keterangan gambar: Tadjoeddin Noor, Ketua Panitia Penyambutan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
