5 Agustus 1999, Peresmian Pemugaran Kelenteng Kwan Tie Miaw Setelah Musibah Kebakaran pada 22 Februari 1998.

IMG_202608217_080107363

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Berdasarkan Algemeen Verslag Der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, Bundel Bangka Nomor 41, dilaporkan tentang kondisi rumah ibadah di pulau Bangka. Di Kota Mentok, bagi umat Islam sudah tersedia Satu masjid yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan pendidikan bagi umat dan anak-anak muslim. Bagi orang-orang Cina sudah tersedia Satu kelenteng, kemudian di distrik Pangkalpinang juga terdapat kelenteng yang cukup besar dan bersih.

Di distrik lainnya rumah ibadah dan Toapekong kecil disediakan dan diperbolehkan dibangun oleh orang-orang Cina untuk keperluan peribadatannya.

Gereja agama Kristen pada masa ini belum ada yang didirikan di pulau Bangka. Para pendeta yang berkunjung ke pulau Bangka biasanya tinggal di rumah pejabat pemerintahan dan melakukan pelayanan keagamaan di gedung milik pemerintah.

Kelenteng di distrik Pangkalpinang yang disebutkan cukup besar dan bersih adalah kelenteng Kwan Tie Bio atau Kwan Tie Miaw.
Kelenteng Kwan Tie Miaw didirikan cukup besar dengan luas 12,5 x 24 m² merupakan salah satu kelenteng tertua di Pulau Bangka, nama awal kelenteng pada waktu berdiri adalah Kwan Tie Bio atau Kwan Tie Miaw.

Pada tahun 1980 sesuai dengan kebijakan pemerintah Orde Baru yang melarang penamaan yang berbau Cina, maka nama kelenteng diubah menjadi kelenteng Amal Bakti hingga terjadi kebakaran pada tahun 1998.

Setelah dipugar kembali dengan bentuk sesuai aslinya nama kelenteng diubah menjadi Kelenteng Kwan Tie Miaw hingga sekarang. Penamaan Kwan Tie Miau diambil dari nama Dewa tuan rumah di kelenteng yaitu Kwan Tie dan sebagai dewa utama di kelenteng yang dipuja masyarakat Tionghoa di samping pemujaan terhadap dewa-dewa lainnya.

See also  6 Mei 1804, Hari Lahirnya Horatio Nelson Levyssohn Adsistent Resident & Administrateur der Tinmynen van Soengy-Leat en Marawang.

Kelenteng diperkirakan dibangun pada tahun 1841, berdasarkan aksara Cina dari sebuah lonceng besi di dalam kelenteng dan diresmikan tahun 1846, diketahui dari plakat bertuliskan ucapan selamat dari beberapa kumpulan penambangan atau kongsi penambangan timah yang bertulis peresmian kelenteng dilakukan pada hari dan bulan baik tahun ke-26 Daoguang bertepatan dengan tahun 1846. Kelenteng didirikan oleh beberapa kelompok kongsi pertambangan Timah yang ada di Pangkalpinang.

Kelenteng Kwan Tie Miaw pernah beberapa kali mengalami pemugaran pada tahun 1986 dan tahun 1991, dan setelah musibah kebakaran pada tanggal 22 Februari 1998 dilakukan pemugaran besar-besaran yang dimulai pada tanggal 17 April 1998.

Pemugaran pertama pada tahun 1986 dilakukan akibat adanya pelebaran Jalan Mayor Muhidin sehingga pekarangan depan kelenteng, pintu dan tembok depan mundur beberapa meter dari asalnya, bagian altar Kwan Tie Miaw tetap utuh, lalu bagian depan dibangun menjadi 2 lantai.

Pemugaran kedua pada tahun 1991, mengubah fungsi belakang kelenteng menjadi tempat tinggal petugas dan dapur.

Pemugaran ketiga dilaksanakan setelah musibah kebakaran pada tanggal 22 Februari 1998 (sekitar pukul 4 dinihari) yang memusnahkan seluruh bangunan beserta isinya, yang tersisa hanya bagian kiri depan kelenteng, kemudian atas perintah Walikota Drs. H. Sofyan Rebuin, MM, segera dibentuk satu panitia renovasi dan pada tanggal 17 April 1998 mulai dilaksanakan pemugaran, sekitar bulan Juli 1999 pemugaran selesai dan peresmiannya ditetapkan bertepatan dengan kelahiran Kwan Tie Miaw yaitu tanggal 5 Agustus 1999.


*Keterangan gambar: Kelenteng Kwan Tie Miaw, pada masa Orde Baru Bernama Amal Bakti.
Sumber Foto: Buku Bangka Tin and Mentok Pepper, Mary F. Somers Heidhues, 1992, hal. 158.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments