5 Mei 1820, Detasemen Kavaleri Berkuda Legiun Mangkunegaran Dikirim ke Bangka.
Admin 5 May 2026
Dato’ Akhmad Elvian*)
Dalam Militaire Spectator VERHAAL PALEMBANGSCHEN OORLOG VAN 1819-1821, DOOR, A. MEIS, Kapitein-Adjudant hij den Generaal-Majoor, Kommandant van het Nederlandscht Oost-Indische leger, halaman 142, dinyatakan: ” Op den 5den Mei, vertrok van Samarang een detachement van 70 beredene kavalleristen van het legioen van Pangerang PRANG-WEDONO, onder het bevel van drie zijner eigene zonen, alsmede eene kompagnie infanterie van 181 inlanders , gekommandeerd door den Kapitein Du PERRON. Tot het aanleggen en verbeteren van communicatie-wegen werd de Luitenant-Kolonel overeen komstig zijn voorstel geautoriseerd”.
Maksudnya, pada tanggal 5 Mei, sebuah detasemen 70 kavaleri berkuda dari legiun Pangerang PRANG-WEDONO berangkat dari Samarang, di bawah komando tiga putranya sendiri, serta sebuah kompi infanteri yang terdiri dari 181 penduduk asli, yang dipimpin oleh Kapten Du PERRON. Letnan Kolonel tersebut diberi wewenang sesuai dengan usulannya untuk membangun dan meningkatkan jalur komunikasi.
Tiga puteranya yang dikirimkan ke Bangka yaitu Ritmeester (Kapten Kaveleri) Pangeran Ario Soerio Mataram, Letnan Satu Raden Ario Soerio Direjo dan Letnan Dua Raden Ario Soerio Midjojo. Legiun dikirim ke Bangka untuk menumpas Bajak laut dan merupakan pengalaman pertama bertempur di luar pulau Jawa.
Letnan Kolonel Aukes dalam bukunya Het Legioen Van Mangkoe Nagara mencatat, bahwa Gubernur Jenderal Hindia Belanda G.A.G.Ph. Van der Capellen pada Tanggal 28 Maret 1820 mengeluarkan besluit No. 10 memerintahkan pengiriman Detasemen Kaveleri Legiun Mangkunegaran ke pulau Bangka. Dalam laporan Tanggal 10 Mei 1820, Mayor Jenderal De Kock menjelaskan kapal Minerva mengangkut kontingen Legiun Mangkunegaran dari Semarang-Bangka.
De Kock memberikan rincian personalia kontingen Legiun Mangkunegaran yang dikirim yakni seorang Letnan Dua bangsa Eropa dari Batalyon Infanteri ke-22 sebagai penanggung jawab administrasi, seorang Ritmeester (Kapten Kavaleri), seorang Letnan Satu dan seorang Letnan Dua, seorang Kapten Ajudan, 63 bintara dan tamtama. Mereka dibekali 54 buah pedang kavaleri, 62 pucuk pistol, dan 310 kotak amunisi, 62 setel jaket militer dan celana.
Sedangkan kontingen infanteri dari Batalyon ke-21 terdiri atas seorang Kapten, seorang Letnan Satu dan Tiga Letnan Dua, seorang Sersan Mayor, Empat Sersan Eropa, Delapan Kopral Eropa, seorang Letnan Dua Bumiputera, 131 bintara dan tamtama Bumiputera. Keseluruhan ada 151 personel infanteri (Santosa, 2011:136-137).

Sebenarnya yang dimaksud Bajak Laut, adalah pejuang Bangka yang dipimpin Depati Bahrin. Dengan taktik gerilya berpindah dari Bangkakota, Kotawaringin, Jeruk dan Menareh/Mendara. Menurut laporan A. Meis, Depati Bahrin lebih senang tinggal di Mendara/Menareh dan tempat berkumpul bajak laut (Arsip Nasional (ARNAS-RI) Arsip Daerah Palembang, no.67…hlm.125-169).
Iwan Santosa dalam bukunya Legiun Mangkunegaran (1808-1942), bahwa pasukan ini mengalami kesulitan bertempur karena perbedaan bahasa dengan penduduk setempat dan sulit mengenali lawan tempurnya siapa serta kesulitan dalam menggelar satuan kaveleri dan sulitnya mengurus kuda-kuda yang didatangkan dari pulau Jawa karena perbedaan iklim serta tidak terbiasanya pasukan ini tinggal di barak-barak sementara.
Letkol Keer sebagai residen merangkap pemimpin tertinggi militer di Bangka dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Tanggal 31 Desember 1820 Masehi, menyarankan pemulangan kembali Detasemen Kavaleri Legiun Mangkunegaran ke Jawa. Diputuskan juga 37 ekor kuda Legiun Mangkunegaran yang tersisa dari 70 ekor yang dibawa karena hampir sebagiannya mati di Bangka, dibeli Pemerintah Hindia Belanda seharga 1.113 gulden.
Selanjutnya, setelah surat menyurat antara Letkol Keer dengan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, diputuskan, Detasemen Legiun Mangkunegaran dikembalikan ke Jawa dengan menumpang Kapal Jacoba (Santosa, 2011:138).
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
