Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 07, Toponimi Merawang.

IMG-20260504-WA0003

Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada masa kekuasaan Sultan Muhammad Bahauddin (Tahun 1776-1803) telah dilakukan ekspedisi oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Bangka yang dimulai pada 18 Juli 1803 sebagaimana dikutip dari Marihandono, Elvian, Sancin (2019;209-210). Ekspedisi mengikutsertakan beberapa kapal perang antara lain kapal perang Maria Rijgersbergen bersama dengan kapal-kapal layar eks VOC Maria Jacoba dan Beschermer dan dengan menggunakan beberapa kapal perang serta dikawal oleh beberapa kapal jenis panjajab milik sultan, Pada Tanggal 19 Agustus 1803 ekspedisi tiba di Pulau Bangka. Dari hasil pengamatan diketahui, bahwa terdapat beberapa teko atau tiko di kompleks tambang Timah di Pulau Bangka antara lain; …Nyai Rangga Bulo, yang bertindak sebagai teko dari raja dari distrik Marawang, yang mencakup 12 tambang Timah dan 33 kuli tambang Cina.

Pada masa kekuasaan Inggris (Tahun 1812-1816), dalam Map of the Island of Banka Compiled from Remarks and Materials Collected during a Journey Through the Island Annexed to a Report on the same and Addressed to the honourable Thomas Stamford Raffles, wilayah Merawang (stocade of Marawang) berada di divisi bagian Utara (northern division).

Stocade of Marawang telah terhubung ke Stocade of Soongie Liat dan telah terhubung juga ke Village of Dipatty Barin (kampung Mendara yang didirikan untuk Depati Bahrin) dan terus ke Stocade of Kootto Waringin. Selanjutnya, dalam Report on the Island of Banka Journal of the Indian Archipelago, 1848, .By Thomas Horsfield, Esq.M.d, pada Section III, View of the Tin Mines on Banka, hal. 796, dituliskan parit penambangan Timah di Distrik Marawang: (1). Large mines: Wehing, Kimsowa. Pada masa Residen Inggris untuk Palembang dan Banca, M.H. Court, dalam Almanak 1815, yang menjabat sebagai Inspector of Mines adalah Mr. H. Brown. Berdasarkan catatan residen M.H. Court, diketahui, produksi timah dari tahun 1813 sampai tahun 1816 yang dihasilkan dan yang diserahkan kepada East-India Company sejumlah 78, 309 Pikol, 61,1/4 Catties“, Total of all Collections, from the lstJanuary 1813 the 2d December 1816. …. 78, 309 pikul, 61,1/4 catties. Produksi timah di Pulau Bangka dari distrik Merawang sekitar 10.589 pikul (Court, 1821: 258).

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #95, Masjid Al Hidayah, Cambai.

Berita tertulis selanjutnya tentang Merawang dapat dipelajari dari buku: Franz Epp, dalam buku keduanya berjudul Schilderungen aus Hollandisch-Ostinden, Heidelberg, J.C.B. Mohr, 1852. Franz Epp adalah seorang ahli medicine dari Jerman yang berkunjung ke Bangka sejak Tahun 1836. Epp menulis tentang jumlah Timah yang dihasilkan di distrik Sungailiat dan Merawang pada tahun 1840, dan pada tahun 1848 atau pada saat kedatangan dan kepulangannya di Pulau Bangka yaitu sebesar 16.000 dan 20.000 pikul (Satu pikul sekitar 60 kilogram). Pada saat ini Distrik Sungailiat dan Distrik Merawang masih disatukan dengan nama Distrik Sungiliat und Marawang. Selengkapnya Epp: Die Quantitat Zinn, welche jeder distrikt liefern kaan, war vor meiner Abreise folgendermassen berechnet: in Jahre 1840, in Jahre 1848. Sungiliat und Baturussak (Merawang), 16000 dan 20000 Pikol (Epp,1851:193).

Dalam bukunya yang sama Epp juga merinci jumlah penduduk di Distrik Sungailiat dan Merawang pada Tahun 1848 yang tinggal di 105 kampung, terdiri dari Pribumi Banka (Bangkanese) 6.991 Orang, Melayu 375 Orang, China 1.190 Orang, dengan total jumlah penduduk 8.556 Orang. Selengkapmya Epp: Der Zustand der Bevolkerung von Banka war in Jahre 1848 folgender: distrikt Sungiliat und Merawang 105 kampongs, 6991 Bankanesen, 375 Melajen, 1190 Chinesen, total 8556. (Epp, 1851:209).

Distrik Soengy-Leat en Marawang (Sungailiat dan Merawang) mulai dipisahkan berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4, Tanggal 28 Maret Tahun 1851. Distrik Sungailiat-Merawang yang pada awalnya disatukan dipisahkan menjadi Distrik Merawang dan Distrik Sungailiat. Selanjutnya pada Tanggal 24 Desember 1851, Administratur Distrik Merawang kemudian diangkat berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 4 dan rumah Administratur Distrik Merawang juga mulai diusulkan untuk segera dibangun di kampung Baturusak. Selanjutnya untuk memperlancar transportasi antar distrik di Pulau Bangka dibangunlah jalan raya yang menghubungkan Distrik Pangkalpinang dan Baturusak di distrik Merawang dan ke Distrik Sungailiat pada Bulan Mei Tahun 1851.

See also  16 April 1929. Dari Kumamoto Jepang, Hamazaki Hana dimakamkan di Kerkhof Pangkalpinang.

Dalam Algemeen Verslag der Residentie Banka Over Het Jaar 1850, bundel Bangka Nomor 41, dijelaskan tentang pemisahan antara administrasi pertambangan (tinmynen) dan administrasi pemerintahan (bestuur) District Soengyliat und Marawang menjadi Dua distrik yaitu Distrik Sungailiat dan Distrik Merawang. Dalam laporan Belanda tersebut dinyatakan bahwa pemisahan menjadi Dua distrik sudah berkali-kali diusulkan oleh Residen Bangka, kepada Direktur Prasarana dan Wilayah di Batavia sejak Tanggal 4 November Tahun 1850 dengan surat Nomor 1964 dan pada Tanggal 26 Januari 1851 berdasarkan surat Nomor 14. Usulan pemisahan Satu Distrik Sungailiat-Merawang menjadi Dua distrik yang terpisah, didasari atas rumitnya permasalahan pengelolaan pertambangan dan pemerintahan di Dua wilayah yaitu Merawang dan Sungailiat serta luasnya Dua wilayah tersebut jika tetap disatukan dalam satu distrik (pada distrik Merawang terdapat 1 tambang besar yaitu di daerah lembah Cengal yang oleh penambang Timah Cina disebut Lokiufun).

Merawang atau dalam peta Eropa, sering ditulis dengan Marawang, adalah salah satu kampung di Pulau Bangka yang Toponimi, atau sejarah penamaan wilayah geografisnya berasal dari nama Flora atau Tumbuhan. Merawang atau Marawang adalah berasal dari nama spesifik kayu Merawan (Hopea odorata), dengan nama lain: Tekam, Tekam Rayap; Bangkirai Tanduk, Emang, Amang Besi; Cengal, Merawan Telor; Ngerawan, Cengal Balau.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments