Setiap Tanggal 5 April, Perayaan Ceng Beng pada Pemakaman Tionghoa di Pat Kong Mun

2
IMG_20260405_051819

Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.


Salah satu tradisi Masyarakat Tionghoa di Bangka adalah Ceng Beng. Tradisi ini dibawa dari daratan Tiongkok ke Pulau Bangka oleh pekerja pekerja Tambang Timah yang secara resmi telah didatangkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin 1 sejak Tahun 1724 Masehi.

Ceng Beng sendiri sudah dirayakan di Tiongkok sejak masa Dinasti Han sekitar Tahun 206 Sebelum Masehi.

Ceng berarti cerah atau bersih dan Beng berarti terang atau cemerlang biasanya dilaksanakan pada Tanggal 4 (bila tahun Kabisat) atau 5 April, atau hari ke-104 setelah Imlek.

Karena kegiatan Ceng Beng merupakan ritual penghormatan atau tanda bakti terhadap leluhur dan dilaksanakan di makam leluhur sehingga di Pulau Bangka, Ceng Beng sering disebut Upacara Sembahyang Kubur.

Pada masa Hindia Belanda, Pekerja Tambang Tionghoa dalam setahun mereka mendapatkan liburan selama 15 hari yang biasanya digunakan untuk menikah, 4 hari untuk merayakan Tahun Baru Imlek atau Kongian dan sisanya untuk upacara upacara tradisi lainnya termasuk untuk perayaan Ceng Beng.

Orang Tionghoa di Pulau Bangka umumnya menempati wilayah pertambangan Timah yang disebut Pat Kong Mun, yaitu Wendao atau Buntu (Mentok), Nampong (Jebus), Blijong (Belinyu), Liatkong (Sungailiat), Liusak (Merawang atau Baturusa), Pinkong (Pangkalpinang), Komuk (Koba), dan Sabang (Toboali).

Pada wilayah wilayah tersebut umumnya memiliki Pemakaman yang luas (Tjhunghua Kung Mu Yen). Khusus di Kota Pangkalpinang, komplek pemakamannya di sebut Pemakaman Sentosa.

Sebelum menjadi Komplek Makam Sentosa, berdasarkan peta Resident Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929 Blad 34/XXV d. Reproductiebedrijf Topografische dienst, Batavia 1931 Auteursrecht Voorbehouden (Stbl 1912 No.600) Digital Collections Libraries Leiden University, pada posisi Timur verharde weg (jalan beraspal) menuju Distrik Koba, tepatnya di Steenen kilometerpaal 3 (Tugu 3 kilometer) sudah banyak terdapat Chineesche Graven atau makam orang China di Distrik Pangkalpinang yang kemudian pada Tahun 1935 masa Pemerintahan Residen Mann, CJ (Tahun 1934-1942) diresmikan menjadi kompleks makam Tionghoa Sentosa Pangkalpinang ditandai dengan bangunan Pintu gerbang, Paithin dan Tugu pendiri makam.

See also  Bagaimana Cara Mengonsumsi Buah Malik? Begini Caranya!

Menurut prasasti pada tugu pendiri makam yang terletak di depan atau pada sisi Barat Paithin yaitu rumah tempat sembahyang, kompleks makam didirikan oleh Empat orang yaitu Yap Fo Sun wafat Tahun 1972, Chin A Heuw wafat Tahun 1950, Yap Ten Thiam wafat Tahun 1944 dan Lim Sui Cian (tidak jelas tahun wafatnya pada masa pendudukan Facisme Jepang).

Kompleks Makam Sentosa sekarang terletak di jalan Bukit Abadi, di sisi Timur Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang dan sering disebut dengan Ngi Cung, memanjang dari Utara ke arah Selatan dengan luas kompleks makam saat ini seluruhnya sekitar 199.450 m² (19,945 hektar) dengan jumlah makam sekitar 13 ribu makam.

Luas awal makam sekitar 25,2 hektare, dan pada 7 Juli 1981 ada bagian tanah kompleks makam yang diserahkan sekitar 5,6 hektare ke Pemerintah Kota Pangkalpinang untuk pembangunan beberapa kantor dan pembangunan rumah sakit.

Komplek makam ini sangat luas karena berdasarkan volkstelling atau sensus yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda pada Tahun 1920 Masehi, perkembangan jumlah penduduk orang Tionghoa (Chinesen termasuk peranakan) di Pulau Bangka mencapai 67.398 orang atau meliputi 44,6 persen dari keseluruhan penduduk Pulau Bangka yang berjumlah 154.141 orang (termasuk orang Eropa).

Dari 67.398 orang Tionghoa (Chinesen) di Pulau Bangka, sebesar 10.653 orang tinggal di Pangkalpinang atau meliputi hampir 68,9 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Pangkalpinang yang berjumlah 15.666 orang (termasuk orang Eropa).

Selanjutnya pada Tahun 1930 jumlah penduduk Pangkalpinang 52.000 orang, di antaranya 273 orang Eropa dan 21.000 Tionghoa (Chinesen). Penduduk Orang Melayu bergantung pada hasil pertanian (Lada dan Beras) dan Perikanan. Tionghoa (Chinesen) dipekerjakan di pertambangan Timah atau dalam perdagangan, pertanian atau perikanan (Goggryp 1934, 1128).

See also  Makam Irene Mathilde Ehrencron di Kerkhof Pangkalpinang, Istri Orang Penting Di Bangka Waktu Itu.


Pada komplek pemakaman Sentosa sangat tampak kebinekaannya karena di sana dimakamkan hampir semua agama, Khonghucu, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha, bahkan terdapat Dua makam Islam yaitu makam Ny. Tjurianty binti Kusumawidjaya (lahir tanggal 27 September 1947, wafat pada tanggal 9 Desember 1994) dan pada sisi selatan agak ke barat di sisi jalan terdapat makam Gunawan bin Tanda (lahir pada tanggal 30 Maret 1978, wafat pada tanggal 7 November 2008). Di Pulau Bangka dikenal tradisi menguburkan mayat dengan menggunakan peti mati dari kayu yang disebut kerendak (atau kong choi) pada masyarakat Tionghoa di Pulau Bangka. Dinsamping dikubur di tanah terdapat juga tradisi mayat dibakar dan abunya disimpan di dalam tempayan keramik. Relatif banyak ditemukan tempayan tempat penyimpanan abu mayat ketika masyarakat membuka ladang dan tempayan tersebut sebagian masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Comments

comments

2 thoughts on “Setiap Tanggal 5 April, Perayaan Ceng Beng pada Pemakaman Tionghoa di Pat Kong Mun

  1. luck8 là nền tảng cá cược trực tuyến uy tín, hoạt động hợp pháp với giấy phép từ Curacao và PAGCOR. Nhà cái gây ấn tượng với giao diện thân thiện, công nghệ mã hóa SSL 256-bit an toàn, tốc độ xử lý giao dịch nhanh chóng cùng nhiều chương trình khuyến mãi hấp dẫn. Ngoài ra, Luck8 còn cung cấp hơn 2000 trò chơi đa dạng từ các nhà phát hành hàng đầu và dịch vụ hỗ trợ khách hàng 24/7 chuyên nghiệp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *