6 Juni 1949, Merupakan Hari Spesial Bagi Bung Karno di Tempat Pengasingan Pulau Bangka.
Admin 6 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)
Hari Senin, tanggal 6 Juni 1949 merupakan hari spesial bagi Sukarno, karena merupakan hari tanggal kelahirannya. Untuk merayakan ulang tahunnya di tempat pengasingan Mentok pulau Bangka, Bung Karno melakukan sesi pemotretan bersama anak-anak Mentok. Bung Karno juga mendapat telegram dari Sultan Hamengkubuwono IX yang berisi ucapan selamat ulang tahun ke-47 dan rakyat menanti Soekarno kembali ke Yogyakarta. Terjemahan telegram sebagai berikut: “Atas nama warga Keresidenan Yogyakarta mengucapan selamat kepada Yang Mulia. Seluruh Yogyakarta menunggu dengan tidak sabar kembalinya Yang Mulia ke ibu kota. Kepercayaan seluruh rakyat terhadap kebijakan Yang Mulia tetap tak tergoyahkan.” (Dalam De Locomotief: Samarangsch handle- en advertentie-blad, edisi 7 Juni 1949).
Bung Karno lahir di Kota Blitar, Jawa Timur tanggal 6 Juni 1901 dengan ayah bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Sukarno tumbuh dengan semangat nasionalisme yang kuat. Ia sekolah di HBS Surabaya, dan mulai berkenalan dengan pemikiran politik dan nasionalisme. Aktivitas politiknya semakin meningkat setelah menyelesaikan pendidikan teknik di Bandung, Ia semakin sadar akan penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Membebaskan masyarakat Indonesia dari belenggu imperialisme dan kolonialisme yang memotivasi Sukarno untuk terlibat dalam berbagai aktivitas politik.
Pada tahun 1927, Soekarno bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI) dan menjadi salah satu pemimpinnya. Ia terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menjadi juru bicara bagi kaum nasionalis dalam berbagai forum. Pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jakarta, Sukarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sehingga beliau terkenal dengan Proklamator. Proklamasi Kemerdekaan menjadi tonggak paling penting dan bersejarah bagi Bangsa Indonesia.
Saat Agresi militer Belanda Kedua, tanggal 22 Desember 1948, Bung Karno bersama Agus Salim dan Sjahrir diasingkan ke Brastagi, kemudian Belanda memindahkan pengasingannya ke Parapat di sisi Barat Danau Toba, selanjutnya Tanggal 6 Februari 1949 bersama Agus Salim, tempat pengasingannya dipindahkan ke Pulau Bangka bergabung dengan pemimpin Republik lainnya yang telah diasingkan lebih awal. Aktivitas politiknya selama pengasingan di Bangka dari tanggal 6 Februari 1949 hingga 6 Juli 1949 sangat padat, Bung Karno sering berbicara di muka umum, mimbar Jumat, menerima delegasi dari kelompok-kelompok politik setempat dan nasional serta bertemu dengan Delegasi Republik, utusan UNCI serta BFO di tempat pengasingannya di Mentoka tau bertemu di House Hill BTW Pangkalpinang. Ia berjanji bahwa “merdeka” akan datang sebelum matahari terbit di Tahun 1950.

Pada Tanggal 21 Februari 1949 atau setelah 16 hari berada di pulau Bangka, Bung Karno berkata, bahwa: “Rakjat Bangka njata bersemangat republikein, njata berkehendak Bangka masuk dalam daerah Republik.
Seseorang pemimpin rakjat Bangka yang tidak berbuat sesuai dengan kehendak rakjat Bangka itu, dan berbuat memisahkan rakjat Bangka dari Republik, adalah berbuat bertentangan dengan demokrasi, bahkan mengchianati demokrasi itu.
Agar supaja kehendak rakjat Bangka itu dapat dikemukakan dengan sempurna di dalam sesuatu pemungutan suara, maka perlulah dibangunkan satu organisasi untuk memimpin dan mengawasi pemungutan suara itu”.
Merdeka !
Mentok 21/2 ‘49
Soekarno
Pres.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
