IMG-20260714-WA0012

Oleh : Meilanto


Membaca tulisan Buddingh, ternyata di Merawang juga terdapat benteng yang terletak di tengah hutan luas. Simak tulisannya pada halaman 62-63.

Op den 24.sten Oktober vertrok ik naar Batoe-roessak of Marawang, hoofdplaats of pankal van het Tin-mijn-distrikt van dien naam, op 14 palen of ruim 4 uur afstands van Soengi-liat gelegen, en door de rivier Batoe-roessak van het distrikt Pankal-pinang gescheiden. De weg loopt, langs de oostkust en een’ zijtak der Lajang-rivier, over een met alang-alang begroeid terrein, en passeert de parit’s of mijnen Lampar en Padang, en de bergen Betong, Rebo, Lobo-klie en Sambong-Giri, en verder de kampongs Aijer-Kenanga, Reding-panjang, en de groote Chinésche en inland-sche kampong Marawang, alwaar vroeger eene verschansing stond en de Administrateur woonde, doch waar thans alleen de Luitenant-Chinees van het distrikt verblijt houdt. Even voorbij kampong Marawang, die 5 palen van Batoe-roessak ligt, passeerde ik een’ van de vele zijtakken der breede Marawang-rivier, en bereikte tegen 11 uren de pankal-Batoc-roessak, alwaar de Administrateur, de Heer VAN BLOEMEN WAANDERS, mij gastvrijheid verleende. De pankal, een groot vlek, doch eene kleine inlandsche en Chinésche bevolking tellende, ligt aan een’ breeden weg en in een boschrijk oord, en hare redoute verheft zich, digt aan de breede Soengi-Marawang, voor welker monding het eiland Panjang ligt, in het midden van een groot woud. Het Europeesch Personeel, hetwelk in de overige hoofdplaatsen der distrikten gewoonlijk, behalve de militairen. van het garnizoen, slechts uit den Administrateur en den Kom-mandant der benting bestaat, telt te Marawang één persoon meer, te weten den Officier van gezondheid, die bij de Infirmerie der Benting geplaatst en tevens belast is met de dienst te Pankal-pinang, Soengi-slan, Soengi-liat en Blienjoe.

Slope with railway tracks at a tin plantation in Merawang
Anonymous, ca. 1900 – ca. 1920

Tulisan tersebut jika diterjemahkan dengan google translate maka artinya kurang lebih:

See also  23 Juni 1892, Laij Nam Sen, Diangkat sebagai Luitenant der Chineezen in de Afdeeling Koba.

Pada tanggal 24 Oktober, saya berangkat menuju Batoe-roessak—atau Marawang—pusat wilayah (pankal) pertambangan timah yang bernama sama; tempat ini terletak sejauh 14 pal (perjalanan selama lebih dari empat jam) dari Soengi-liat dan dipisahkan dari wilayah Pankal-pinang oleh Sungai Batoe-roessak. Jalan tersebut membentang di sepanjang pantai timur dan menyusuri anak Sungai Lajang (maksudnya Sungai Layang) melintasi medan yang ditumbuhi rumput alang-alang; jalan ini melewati lokasi tambang (parit) Lampar (maksudnya Lampur_dekat Sungailiat/ Pemali) dan Padang, pegunungan Betong, Rebo, Lobo-klie (Lubuk Kelik), dan Sambong-Giri, serta Kampung Aijer-Kenanga dan Reding-panjang (Ridingpanjang) juga kampung Marawang yang dihuni oleh komunitas Tionghoa dan penduduk pribumi dalam jumlah besar.
Sebuah benteng pertahanan dan kediaman Administrator pernah berdiri di lokasi terakhir ini, meskipun kini hanya Letnan Tionghoa wilayah tersebut yang tinggal di sana. Tepat setelah melewati kampung Marawang—yang terletak 5 pal dari Batoe-roessak—saya menyeberangi salah satu dari banyak anak Sungai Marawang yang lebar dan tiba sekitar pukul 11 siang di pangkal Batoe-roessak, tempat Administrator, Tuan Van Bloemen Waanders, menyambut saya dengan ramah. Pankal tersebut—sebuah permukiman besar namun dengan populasi penduduk pribumi dan Tionghoa yang sedikit—terletak di sepanjang jalan lebar di kawasan berhutan; benteng pertahanannya menjulang di tengah hutan luas, dekat dengan Sungai Marawang yang lebar, yang di depan muaranya terletak Pulau Panjang (dekat Pulau Semujur). Staf Eropa, yang di ibu kota wilayah lainnya biasanya dari garnisun, yang hanya terdiri dari Administrator dan Komandan benteng, susunan personel di Marawang mencakup satu orang tambahan: Petugas Medis, yang ditempatkan di balai pengobatan benteng dan juga bertanggung jawab atas tugas medis di Pankal-pinang, Soengi-slan, Soengi-liat, dan Blienjoe.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. 14, Masjid Al-Mujahidin, Pemuhun, Mentok.

____________________________________

Catatan: Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

*Keterangan gambar sampul; Straatlocomotief met Arbenz Vrachtauto voor Rijołpakhuis te Batoeroesa Merawang. (Lokomotif Jalanan dengan Truk Pengangkut Arbenz untuk Gudang Barang di Baturusa, Merawang)

Sumber : Rijksmuseum.nl
Sekitar tahun 1914-1919

Comments

comments