Buddingh Melihat Proses Penambangan Timah
Admin 13 August 2026
Oleh : Meilanto
Setelah menemui buruh tambang timah, perjalanan dilanjutkan ke Sungailiat melewati Kampung Panji dan tambang Lakfoentiouw, Buddingh melihat langsung proses penambangan timah seperti yang ia tulis pada bukunya pada halaman 54-56 NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857. Ternyata ada pantangan saat turun ke lokasi penambangan timah. Simak tulisannya!
Al verder bragl de Kongsi-che f of President ons aan de eigenlijke tin-mijn of de parit . Doch hier deed hij zijn pajong of zonnescherm toe en zijn bengh é of Chinesche schoenen uit, dewijl de Chinesche mijnwerkers gelooven, dat de
ertslagen dieper zinken, of zich verplaatsen, of van onwaarde worden zouden, indien zij (de Chinezen) met de schoenen aan de voeten en de pajong s boven het hoofd, en dus oneerbiediglijk,
in de mijnen kwamen.
De mijn te Lakfoentiouw is een zoogenaamde kollong-mij n of parit-kollong , waarin alleen die
ertslagen worden opgedolven, welke diep in den grond liggen, b. v. 30 à 40 of 50 of meer voeten diep, – en die door deze wijze van bewerking onderscheiden wordt van de zoogenaamde koeliet-mijnen , waarvan alleen de bovenste, slechts 5 à 6′ voet diep liggende, ertslaag opgegraven wordt, – en van de koeliet-kollong—mijnen, waarvan eerst de bovenste erlslaag bewerkt wordt, en daarna de successivelijk volgende en successivelijk al dieper en dieper liggende lagen hare beurt krijgen (1).
dan seterusnya
.
Maksudnya:
Selanjutnya, Ketua Kongsi mengantar kami menuju lokasi tambang timah yang sebenarnya, atau yang disebut parit. Namun di sini ia menutup payung pelindung matahari (payung) dan melepas sepatu Tionghoa (benghé), karena para pekerja tambang Tionghoa percaya bahwa lapisan bijih timah akan tenggelam lebih dalam, berpindah tempat, atau menjadi tidak berharga jika mereka masuk ke dalam area tambang dengan mengenakan sepatu dan membawa payung—yang dianggap tidak sopan.
Tambang Lakfoentiouw termasuk jenis kollong-mijn atau parit-kollong, yaitu jenis tambang yang menggali lapisan bijih yang terletak jauh di dalam tanah, misalnya sedalam 30 hingga 40, bahkan 50 kaki atau lebih.
Cara ini berbeda dengan tambang kulit, yang hanya menggali lapisan paling atas sedalam 5–6 kaki, maupun tambang koeliet-kollong yang terlebih dahulu mengeruk lapisan atas, baru kemudian secara bertahap mengeruk lapisan yang semakin dalam satu per satu.

Kini kami berada di lahan yang sangat luas, yang seluruhnya telah digali sedalam sekitar 20 kaki atau ditimbun kembali dengan tanah galian. Di antaranya mengalir tiga saluran air atau bandar selebar 2–3 kaki, sementara pipa-pipa sempit dan saluran kayu yang disangga tiang mengalirkan air dari bandar ke tempat-tempat yang membutuhkannya untuk pekerjaan tambang.
Kepala tambang pertama-tama mengantar kami ke sebuah aliran sungai dalam di mana mereka telah membuat bendungan atau bandongan, guna membentuk waduk atau tebat sebagai persediaan air yang sangat dibutuhkan untuk pengolahan tambang. Ia juga menunjukkan saluran kedua atau Piotjélé, yang berfungsi membuang kelebihan air dari waduk penampung.
Setelah itu kami berjalan menyusuri tepian saluran utama (bandar utama, yang disebut orang Tionghoa Laaitjoei-kiauw) yang posisinya lebih tinggi dari dua saluran lainnya. Air dari waduk dialirkan melalui kincir air atau kientjier-aijer (dalam bahasa Tionghoa disebut Tjia-tiauw), yang dilengkapi pompa rantai kayu (Kioekoet atau tali-aijer) untuk mengangkat air dari dasar tambang, lalu menyalurkannya ke area kerja.
Selanjutnya kami menyusuri tepi saluran ketiga (Sjan-kiauw) yang letaknya sedikit lebih rendah, yang berfungsi mengalirkan air bekas ke area yang lebih rendah, sambil melewati berbagai saluran pembilas untuk mencuci dan memisahkan tanah dari bijih timah.
Air mengalir deras melalui saluran-saluran ini; agar tanah tidak longsor, dinding saluran dilapisi kulit kayu (koeliet) dan papan, sedangkan dasarnya dilapisi papan pula—supaya bijih timah yang tertinggal di dasar setelah dicuci dapat dengan mudah diambil.
Tak lama kemudian kami tiba di tengah keramaian pekerja, yang sibuk bekerja menggunakan cangkul (patjol atau Kioktjo), keranjang gendong (poenkie atau pinkie), pikulan kayu (Tamkoon), dan linggis (Tjiong). Sebagian pekerja mencungkil tanah bijih dari dinding atau sisi tambang, atau melonggarkan dasar tanah yang dalam dengan linggis; sebagian lain menyodok tanah bijih yang telah gembur ke atas keranjang datar; ada pula yang mengangkut keranjang yang telah penuh—yang diikat rotan pada pikulan di bahu—menuju saluran kecil, lalu menuangkan isinya, atau memindahkannya ke keranjang bilas terlebih dahulu untuk membuang batu-batu yang tercampur.

Sementara itu, pekerja lain berdiri berjarak satu sama lain di tengah saluran, mencuci bijih timah dari tanah dan pasir di air yang mengalir deras—yang dialirkan dari bak kayu di samping kincir—dengan cara menyodok tanah bijih melawan arus air.
Kegiatan berlangsung sangat sibuk, dan pekerjaan para pekerja yang gagah berani dilakukan di bawah terik matahari, karena tambang timah di Bangka sepenuhnya terbuka dan tidak memiliki terowongan bawah tanah seperti jenis tambang lainnya.
(Catatan: Kolong berarti lubang atau kedalaman; koeliet berarti kulit kayu atau lapisan atas; sedangkan koeliet-kollong berarti lubang lapisan atas. Biasanya hanya terdapat satu lapisan bijih di atas lapisan lainnya. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan merujuk tulisan Bapak LANGE mengenai tambang timah Bangka dalam karya yang dikutip, yang menjadi sumber catatan saya mengenai topik ini.)
Foto : Transportinstallatie in mijn 5 te Blinjoe
anonymous, 1914 – 1919
Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
