Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 4)

Murai Batu

Editor: Meilanto

Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


KOLEKTOR BURUNG DI BANGKA

J. Z. Kannegieter (1862–1899), seorang kolektor yang bekerja untuk ahli entomologi J. A. H. Neervoort van de Poll (1862–1925), tinggal di Bangka pada 13 April hingga 11 Juli 1898. Ia menjadikan Soengailiat sebagai basis pengumpulan spesimennya.

De Schauensee (1958) mencatat 60 spesimen dari 34 spesies yang dikumpulkan Kannegieter. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan kurang dari separuh angka tersebut setelah spesimen yang keliru diberi label sebagai berasal dari Bangka, padahal berasal dari Jawa, dikeluarkan dari perhitungan. Persoalan ini dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya. Informasi biografi Kannegieter dapat dilihat dalam Lampiran 2.

Pada 1904, Dr. W. L. Abbott (1860–1936), bersama C. B. Kloss (1877–1949), melakukan pengumpulan spesimen burung di Bangka. Berdasarkan register akuisisi Museum Nasional Amerika Serikat, rute perjalanan mereka dapat direkonstruksi sebagai berikut:

  • Tanjong Rengsam atau Resang: 20–29 Mei.
  • Tanjong Tedong: 1–5 Juni.
  • Tanjong Bedaun: 6–12 Juni.
  • Bukit Permisan: 10, 11, dan 15 Juni.
  • Tanjong Pamuja atau Pemoedja: 18–21 Juni.
  • Teluk Klabat: 22–28 Juni dan 1 Juli.
  • Tanjong Meng Kudu atau Mengkoedoe: 3–4 Juli.

Koleksi Abbott dan Kloss berjumlah 143 spesimen yang mewakili 73 spesies. Oberholser dan Riley telah mendeskripsikan beberapa subspesies yang diduga baru berdasarkan koleksi tersebut. Meski demikian, secara keseluruhan, koleksi ini belum pernah dilaporkan secara lengkap.

Berikutnya, pada awal Mei hingga pertengahan Juni 1905, Dr. B. Hagen (1853–1919) mengumpulkan spesimen di sekitar Simpang. Material yang mencakup 60 spesies itu dikirim ke Munich, Jerman. Parrot (1907) kemudian memasukkannya ke dalam sebuah makalah penting mengenai koleksi burung dari Sumatra dan pulau-pulau sekitarnya yang tersimpan di Munich.

See also  Dalam Gelap Malam, Buddingh Menyeberangi Sungai Kampa Menuju Jebus.

Menurut Mees, Hagen merupakan kolektor ornitologi terakhir yang secara khusus tercatat bekerja di Bangka. Namun, masih ada satu orang lain yang patut disebutkan.

Ia adalah P. Buitendijk (1870–1932), seorang dokter kapal yang biasa mengawetkan burung-burung yang terbang ke kapalnya. Dalam berbagai pelayarannya, Buitendijk diperkirakan berulang kali melintasi Selat Bangka. Koleksinya menyimpan tiga spesimen yang berasal dari kawasan tersebut.

Jumlah itu memang sedikit. Namun, dua dari tiga burung yang dikumpulkannya mewakili spesies yang sebelumnya belum diketahui terdapat di Bangka, sedangkan spesimen ketiga menambah catatan subspesies dalam daftar fauna burung pulau ini. Karena itulah, Buitendijk tetap layak dimasukkan dalam catatan sejarah pengumpulan spesimen burung Bangka.

RINGKASAN KOLEKSI BURUNG DARI BANGKA

Berbagai ekspedisi dan kegiatan pengumpulan spesimen telah menghasilkan koleksi burung Bangka yang tersebar di sejumlah museum. Berikut ringkasan data koleksi sebagaimana dicatat Mees:

Kolektor dan periodeJumlah diterimaSpesimen yang masih ada
Diard (1825)Tidak tercantumTidak tercantum
v. d. Bossche (1859–1861)330215
Buddingh’ (1865–1866)Tidak tercantum17
Teysmann (1869–1872)Tidak tercantum49 + 4
Vosmaer (1872–1873)188171
Kannegieter (1898)Tidak tercantumSedikitnya 20
Abbott & Kloss (1904)143143
Hagen (1905)149140*
Buitendijk (1904, 1924)Tidak tercantum3
Jumlah762

Koleksi tersebut tercatat berada di sejumlah museum, dengan rincian berikut:

  • Leiden: 455 spesimen diterima, ditambah satu tengkorak.
  • Washington: 143 spesimen.
  • Munich: 140 spesimen.
  • Philadelphia: sekitar 30 spesimen.
  • Amsterdam: 4 spesimen.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian spesimen yang dahulu dikirim ke museum telah hilang. Dari koleksi yang dikirim v. d. Bossche, sedikitnya 115 spesimen—atau 102 menurut kemungkinan perhitungan lainnya—tidak lagi ditemukan. Dari koleksi Vosmaer, sebanyak 17 spesimen hilang, atau 16 apabila tengkorak Leptoptilos javanicus termasuk dalam hitungan awal. Sementara itu, sembilan spesimen dari koleksi Hagen juga tidak diketahui keberadaannya.

See also  Sejarah PDAM Pangkalpinang di Gunung Mangkol (Bagian 1)

Mees menduga sebagian besar spesimen yang hilang telah diberikan kepada lembaga atau kolektor lain sebagai barang pertukaran. Sebagian di antaranya mungkin masih dapat dilacak, tetapi penelusuran satu per satu dinilai tidak sebanding dengan usaha yang diperlukan.

Meski demikian, pemeriksaan singkat terhadap buku pertukaran lama memberikan sejumlah petunjuk menarik. Pada 11 Maret 1863, misalnya, sebanyak 16 spesimen burung dari Bangka termasuk dalam kiriman 191 kulit burung yang dikirim kepada R. Swinhoe sebagai barang pertukaran.

Pada periode yang sama, spesimen juga dikirim kepada Pangeran Maximilian von Wied serta Museum Berlin dan Wina.

Catatan pertukaran pada tahun-tahun berikutnya menunjukkan persebaran koleksi burung Bangka yang semakin luas. Pada 1898, spesimen Copsychus malabaricus yang dikumpulkan v. d. Bossche dikirim kepada D’Arcy W. Thompson di Dundee, Skotlandia. Setahun kemudian, spesimen spesies yang sama dari koleksi Vosmaer dikirim ke Museum Publik di Wanganui, Selandia Baru.

Sementara itu, pada 1888, satu spesimen Dryocopus javensis dikirim ke British Museum (Natural History) di London. Nama pengumpulnya tidak tercatat dalam register. Mees menyatakan tidak mengetahui nasib spesimen tersebut karena burung itu tidak tercantum dalam katalog burung museum tersebut.

Catatan-catatan ini memperlihatkan bahwa sejarah penelitian burung Bangka tidak hanya berkaitan dengan para kolektor yang datang ke pulau ini, tetapi juga dengan perjalanan spesimen ke berbagai museum dan lembaga ilmiah di dunia.

Catatan: De Schauensee (1958: 280) menyebutkan bahwa Hagen mengumpulkan 152 spesimen. Namun, berdasarkan perhitungan Mees, jumlahnya adalah 149 spesimen.

Bersambung.


Foto: Murai batu (Copsychus malabaricus), spesimen koleksi Naturalis Biodiversity Center, RMNH.AVES.129487 2 — Copsychus malabaricus tricolor (Vieillot, 1818), famili Turdidae.

See also  Buddingh Tiba Di Sungailiat.

Sumber foto: Rijksmuseum van Natuurlijke Historie.

Related Images:

Comments

comments