Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 5)

Burung

Editor: Meilanto

Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


Saya tidak mengetahui apa yang terjadi pada burung ini. Spesies tersebut tidak tercantum dalam Catalogue of Birds (Hargitt, 1890), meskipun Bangka secara tegas disebut sebagai bagian dari wilayah persebarannya (hlm. 499). Saya juga tidak menemukan sumber terbitan yang dapat dijadikan rujukan untuk informasi tersebut.

Ketika mengunjungi Munich pada Maret 1982, saya tidak berhasil menemukan sembilan spesimen burung yang tercantum dalam daftar Parrot (1907). Kecuali satu spesimen yang diketahui pernah dipamerkan, tidak ada keterangan jelas mengenai keberadaan burung-burung lainnya. Arsip di Munich pun tidak memberikan informasi tentang hal ini (Reichholf, surat tertanggal 18 Agustus 1982).

Saya menduga beberapa spesimen mungkin telah dikirim ke Berlin. Namun, setelah menanyakannya kepada Dr. Mauersberger, saya menerima jawaban negatif (surat tertanggal 22 November 1982).

Temuan De Schauensee dan Kejanggalan dalam Koleksi Kannegieter

De Schauensee (1958: 281) menyebutkan bahwa berdasarkan koleksi Kannegieter, ia mencatat 15 spesies burung yang dianggap sebagai catatan baru untuk Bangka. Dua di antaranya dideskripsikan sebagai subspesies baru. Selain itu, ia menambahkan dua catatan berdasarkan pengamatannya sendiri ketika melintasi Selat Bangka dengan kapal pada 1932, yakni Fregata andrewsi dan Sterna fuscata.

Dengan demikian, terdapat 17 spesies yang diduga menambah daftar fauna burung (avifauna) Pulau Bangka. Namun, salah satu spesies yang dianggap sebagai catatan baru, yaitu Eurylaimus javanicus, ternyata telah tercatat sebelumnya. Karena itu, jumlah spesies yang benar-benar menjadi tambahan dalam daftar tersebut berkurang menjadi 14.

Hal yang menarik sekaligus tidak terduga adalah kedekatan sebagian besar spesies tersebut dengan fauna burung Jawa, bukan Sumatra. Bahkan, 11 dari 14 spesies itu tidak diketahui terdapat di Sumatra.

Berikut daftar spesies yang dibahas dalam penelitian tersebut:

  1. Megalaima haemacephala rosea — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  2. Dendrocopos m. moluccensis — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  3. Pitta guajana bangkae — subspesies baru, tidak ditemukan di Sumatra (X).
  4. Mirafra j. javanica — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  5. Lalage n. nigra — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  6. Pericrocotus cinnamomeus cf. saturatus.
  7. Criniger b. bres — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  8. Malacocincla sepiaria bangkae — subspesies baru, tidak ditemukan di Sumatra (X).
  9. Parus major — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  10. Dicaeum t. trochileum — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  11. Sturnus contra jalla — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  12. Aethiopsar fuscus javanicus — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  13. Padda oryzivora — tidak ditemukan di Sumatra (X).
  14. Lonchura leucogastroides — tidak ditemukan di Sumatra (X).
See also  Dari Mayang, Buddingh ke Pelangas, Beli Nasi Bungkus.

Tanda silang (X) digunakan penulis untuk menandai spesies yang sama sekali tidak ditemukan di Sumatra atau, dalam kasus tertentu, subspesies dari Bangka yang justru lebih dekat kekerabatannya dengan subspesies di Jawa daripada dengan yang ada di Sumatra.

Sebelum penelitian de Schauensee diterbitkan, keberadaan unsur khas Jawa dalam fauna burung Bangka belum diketahui. Temuan tersebut juga tidak sesuai dengan dugaan persebaran geografis yang berlaku saat itu.

Kejanggalan ini semakin menarik karena Kannegieter diketahui pernah mengumpulkan spesimen di sekitar Batavia (sekarang Jakarta) dan sejumlah tempat lain di Jawa Barat. Empat belas spesies yang disebutkan di atas justru mencakup jenis-jenis burung yang umum dijumpai di kawasan pertanian sekitar Batavia.

De Schauensee juga menyebutkan bahwa beberapa spesimen dikumpulkan di tempat yang ditulis sebagai Omstreek, Jawa. Padahal, omstreek dalam bahasa Belanda berarti “sekitar” atau “daerah sekitar”, bukan nama tempat tertentu. Tanpa keterangan lokasi yang menyertainya, istilah tersebut tidak menunjukkan tempat pengumpulan yang jelas.

Dr. Gill kemudian memeriksa label spesimen-spesimen itu dan memberi tahu penulis bahwa keterangan sebenarnya berbunyi Omstreek Batavia, yang berarti “sekitar Batavia”.

Informasi tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa sebagian material koleksi Kannegieter yang dinyatakan berasal dari Bangka sebenarnya berasal dari sekitar Batavia atau mungkin dari lokasi lain di Jawa Barat, tetapi keliru diberi label.

Petunjuk dari Spesimen Arachnothera longirostra

Bukti lain ditemukan dalam pembahasan de Schauensee mengenai Arachnothera longirostra. Populasi dari Jawa dan Sumatra diketahui memiliki subspesies yang berbeda secara jelas.

Empat spesimen dari Bangka dicantumkan di bawah nama longirostris prillwitzi, seolah-olah memiliki karakter di antara kedua subspesies tersebut. Namun, uraian de Schauensee justru menunjukkan perbedaan yang tegas.

See also  TOPONIMI TANJUNG KALIAN.

Ia menjelaskan bahwa dua spesimen memiliki bagian bawah tubuh berwarna kuning tua dan paruh panjang, masing-masing 42 dan 44 mm. Keduanya tidak dapat dibedakan dari prillwitzi yang berasal dari Jawa. Sementara itu, dua spesimen lainnya memiliki ciri khas longirostris, dengan bagian bawah tubuh berwarna kuning lemon dan paruh lebih pendek, masing-masing 35 dan 37 mm.

Dengan kata lain, keempat burung itu tidak menunjukkan karakter peralihan seperti yang mungkin diperkirakan. Kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa dua spesimen pertama berasal dari Jawa, sedangkan hanya dua lainnya yang benar-benar dikumpulkan di Bangka.

Kasus Pericrocotus cinnamomeus

Kasus serupa ditemukan pada Pericrocotus cinnamomeus. Vosmaer pernah memperoleh spesimen Pericrocotus cinnamomeus igneus di Bangka. Subspesies ini juga diketahui terdapat di Sumatra dan Billiton (Belitung).

Namun, spesimen dari spesies yang sama, yang konon dikumpulkan Kannegieter di Sungailiat, ternyata sangat mirip dengan subspesies Jawa yang berbeda, yaitu P. c. saturatus.

De Schauensee menduga burung tersebut mungkin merupakan subspesies baru karena warnanya lebih gelap dan paruhnya lebih besar dibandingkan dengan saturatus. Meskipun demikian, ia tidak terburu-buru memberikan nama baru.

Penulis kemudian memeriksa spesimen tersebut, yang tersimpan di ANSP dengan nomor 56455. Hasilnya menunjukkan bahwa burung itu sesuai dengan sejumlah besar spesimen P. c. saturatus dari Jawa. Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa sebagian spesimen yang dikaitkan dengan Bangka mungkin sebenarnya berasal dari Jawa.

Kedekatan Subspesies Bangka dengan Jawa

Subspesies Pitta guajana bangkae dan Malacocincla sepiaria bangkae juga digambarkan memiliki kemiripan yang lebih besar dengan burung dari Jawa daripada dengan burung dari Sumatra.

Spesimen tipe kedua subspesies tersebut telah dibandingkan oleh Dr. Gill dengan sejumlah spesimen sejenis dari Jawa. Dalam surat tertanggal 20 Desember 1982, ia menyampaikan bahwa keduanya menunjukkan kemiripan yang sangat kuat dengan burung dari Jawa.

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #128, Masjid Al Mukminin, Kedondong

Pada spesimen Pitta, garis-garis di bagian bawah tubuh memang lebih tipis daripada yang terlihat pada burung dari Jawa, sebagaimana disebutkan dalam deskripsi de Schauensee. Namun, tingkat ketebalan garis pada burung betina dari Jawa juga sangat bervariasi.

Karena variasi tersebut, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa spesimen tipe Pitta guajana bangkae berada di luar rentang variasi yang ditemukan pada populasi Jawa.

Temuan-temuan ini memperlihatkan adanya sejumlah kejanggalan dalam koleksi burung yang dikaitkan dengan Bangka. Kesalahan pelabelan spesimen menjadi salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan untuk menjelaskan mengapa sejumlah burung yang tercatat dari pulau ini justru memperlihatkan kedekatan yang kuat dengan fauna burung Jawa.

Bersambung.


Foto: Naturalis Biodiversity Center — RMNH.AVES.10424, Eurylaimus javanicus harterti van Oort, 1909 (famili Eurylaimidae), spesimen kulit burung.

Sumber foto: Rijksmuseum.nl.

Related Images:

Comments

comments