Daftar Burung yang Tercatat dari Pulau Bangka (Bagian 8)

Burung Kruak

Editor: Meilanto

Dikutip dari buku A List of the Birds Recorded from Bangka Island, Indonesia, karya G. F. Mees (1986).


DAFTAR SISTEMATIS BURUNG

Dalam pembahasan sebelumnya, digunakan sejumlah singkatan untuk menyebut lembaga penyimpan spesimen yang belum diperkenalkan, yaitu American Museum of Natural History, New York (AMNH); Royal Belgian Institute of Natural Sciences, Brussels (KBIN); Zoological Museum, Berlin (ZMB); dan Zoological Reference Collection, Singapura (ZRC).

Seperti dijelaskan pada bagian sebelumnya, spesimen yang dikumpulkan oleh v. d. Bossche tidak memiliki label masing-masing. Namun, berdasarkan surat-suratnya, diketahui bahwa spesimen tersebut dikumpulkan pada periode 1859–1861. Karena itu, tahun-tahun tersebut dicantumkan dalam daftar. Pada spesies yang memiliki perbedaan mencolok antara jantan dan betina, baik dalam warna bulu maupun ukuran tubuh, jenis kelamin turut dicantumkan. Jika masih meragukan, keterangan tersebut diberi tanda kurung. Cara yang sama diterapkan pada spesimen koleksi Teysmann.

Dari koleksi ANSP, saya hanya mencantumkan spesimen yang asalnya dari Bangka dapat dipastikan. Kepastian ini didasarkan pada ciri spesies atau subspesies yang tidak ditemukan di Jawa. Dengan penyaringan tersebut, koleksi Kannegieter dari Sungailiat yang dapat dicantumkan hanya berjumlah 20 spesimen, mewakili 12 spesies.

Parrot (1907) telah menerbitkan hasil pengukuran panjang sayap dan ekor seluruh spesimen koleksi Hagen. Saya mengukur ulang sejumlah spesimen tersebut dan mendapati bahwa hasil pengukuran sayap saya secara konsisten lebih panjang satu hingga dua milimeter dibandingkan angka yang dicatat Parrot. Sebaliknya, pengukuran panjang ekor oleh Parrot justru lebih besar daripada hasil pengukuran saya, bahkan dengan selisih yang cukup jauh.

Sebagai contoh, pada spesimen tipe Sitta frontalis hageni, Parrot mencatat panjang sayap 77,5 mm dan ekor 55 mm. Hasil pengukuran saya menunjukkan panjang sayap 79 mm dan ekor 43 mm. Perlu dijelaskan bahwa saat mengukur sayap, saya meratakannya di atas penggaris tanpa memberikan tekanan berlebihan. Sementara itu, panjang ekor diukur dari bagian tengah pangkal hingga ujung bulu ekor yang paling panjang.

See also  Karena Unik, Buddingh Beli Kayu Sala Di Kampung Mayang

Secara keseluruhan, terdapat 172 spesies burung yang tercatat dari Bangka. Dua spesies, Amaurornis phoenicurus dan Cuculus fugax, masing-masing diwakili oleh dua subspesies, sedangkan Pitta sordida diwakili oleh tiga subspesies. Dengan demikian, jumlah keseluruhannya mencapai 176 bentuk taksonomi. Namun, identifikasi satu spesies, Pycnonotus brunneus, masih bersifat sementara.

Catatan Spesies Burung

  1. Sula leucogaster plotus (Forster)

Nama ini tercatat dalam literatur sebagai Pelecanus plotus, dideskripsikan Forster pada 1844. Lokasi tipe: Ternate.

Bahan koleksi: Selat Bangka, November 1904, dikumpulkan oleh Buitendijk (RMNH, nomor katalog 30).

  1. Fregata andrewsi (Mathews)

Spesies ini dideskripsikan Mathews pada 1914. Lokasi tipe: Pulau Christmas, Samudra Hindia.

Bahan koleksi: Dua spesimen bertanggal 20 Juli 1872 dan dua spesimen tanpa tanggal, dikumpulkan oleh Vosmaer. Spesimen yang tidak bertanggal diterima pada 1874 (RMNH, nomor katalog 1 dan 2).

De Schauensee (1958: 281) mencatat pernah melihat beberapa burung fregat jenis ini terbang melintasi Selat Bangka pada 24 November 1932. Menurutnya, spesies tersebut belum pernah dilaporkan dari Bangka sebelumnya.

Saya menyayangkan bahwa catatan itu tidak disertai deskripsi yang memadai. Tiga puluh tahun kemudian, pada Februari 1962, ketika melintasi Selat Sunda dan Selat Bangka dalam perjalanan dari Fremantle menuju Singapura, saya justru lebih sering melihat burung fregat Fregata ariel.

Meski demikian, persoalan ini tidak terlalu penting karena kedua spesies, F. ariel dan F. andrewsi, telah tercatat dari Bangka sejak lebih dari seabad sebelumnya.

  1. Fregata ariel ariel (G. R. Gray)

Spesies ini pertama kali dicatat dengan nama Atagen ariel oleh G. R. Gray pada 1845. Lokasi tipe kemudian ditetapkan di Pulau Raine, sebagaimana dirujuk Mathews (1914: 121).

Bahan koleksi: Satu spesimen bertanggal 1 Agustus 1872, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 11).

  1. Butorides striatus javanicus (Horsfield)

Dideskripsikan Horsfield pada 1821 dengan nama Ardea javanica. Lokasi tipe: Jawa.

Bahan koleksi: Dua spesimen dari periode 1859–1861, dikumpulkan oleh v. d. Bossche (RMNH, nomor katalog 27 dan 28); dua spesimen bertanggal 12 Juni 1872; serta satu spesimen dewasa tanpa tanggal yang diterima pada 1874. Ketiganya merupakan koleksi Vosmaer (RMNH, nomor katalog 25 dan 26).

  1. Nycticorax nycticorax nycticorax (Linnaeus)
See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #118, Masjid Al Makmur, Lalangtunu Toboali.

Dideskripsikan Linnaeus pada 1758 dengan nama Ardea nycticorax. Lokasi tipe: Eropa Selatan.

Bahan koleksi: Satu spesimen dari periode 1859–1861, dikumpulkan oleh v. d. Bossche (RMNH, nomor katalog 35).

  1. Gorsachius melanolophus (Raffles)

Dideskripsikan Raffles pada 1822 dengan nama Ardea melanolopha. Lokasi tipe: Sumatra.

Bahan koleksi: Satu spesimen juvenil dari periode 1859–1861, dikumpulkan oleh v. d. Bossche, serta satu spesimen bertanggal 8 April 1873, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 7 dan 8).

  1. Egretta sacra sacra (Gmelin)

Dideskripsikan Gmelin pada 1789 dengan nama Ardea sacra. Lokasi tipe: Tahiti.

Bahan koleksi: Satu spesimen bertanggal 10 Juni 1873, dikumpulkan oleh Vosmaer (RMNH, nomor katalog 11).

Spesimen dari Bangka ini termasuk morf abu-abu. Pada sebagian besar wilayah persebarannya, morf abu-abu lebih umum ditemukan daripada morf putih (Mayr & Amadon, 1941; Hoogerwerf, 1967: 55).

Koleksi RMNH juga memperlihatkan dominasi morf abu-abu. Dari wilayah barat hingga kawasan Pasifik, catatan koleksinya meliputi:

  • Kepulauan Andaman dan kawasan barat: Andaman (4 abu-abu), Nikobar (1 abu-abu), Simalur (10 abu-abu, 2 putih), Nias (2 abu-abu), Kepulauan Batu (3 abu-abu), Enggano (1 abu-abu, 2 putih), Sumatra (2 abu-abu), Bangka (1 abu-abu), Jawa (12 abu-abu, 8 putih), Bali (2 abu-abu), dan Flores (1 abu-abu).
  • Sulawesi dan sekitarnya: Sulawesi (6 abu-abu), Kepulauan Sangihe (2 abu-abu), dan Muna (1 abu-abu).
  • Maluku dan sekitarnya: Raoe dekat Morotai (1 abu-abu), Morotai (1 abu-abu, 1 putih), Halmahera (2 abu-abu), Ternate (4 abu-abu, 2 putih), Obi (1 abu-abu), Buru (1 putih), Amblau dekat Buru (1 abu-abu), Seram (1 abu-abu), Ambon (9 abu-abu, 3 putih), Kepulauan Kai Besar (1 abu-abu, 1 putih), dan Babar (1 abu-abu, 1 putih).
  • Papua Nugini dan pulau-pulau sekitarnya: Kepulauan Aru (1 abu-abu, 1 putih), Gebe (1 abu-abu, 1 putih), Gagi (3 abu-abu), Waigeo (5 abu-abu), Gemien dekat Waigeo (1 abu-abu), Biak (1 abu-abu, 2 putih), daratan Papua Nugini bagian barat dari Sorong hingga Teluk Etna (5 abu-abu), dan Duke of York (1 abu-abu).
  • Wilayah lainnya: Jepang (2 abu-abu), Kepulauan Palau (1 abu-abu), Queensland (1 putih), Selandia Baru (2 abu-abu, 1 putih), Fiji (1 abu-abu), dan Tongatabu (1 spesimen belang).
See also  Tiba Di Jebus, Buddingh Terkesan Dengan Pekerja Tambang Dari Tiongkok.

Dari seluruh kawasan antara Kepulauan Andaman dan Kepulauan Bismarck, tercatat 92 spesimen: 78 spesimen (sekitar 85%) bermorf abu-abu dan 26 spesimen (sekitar 28%) bermorf putih. Angka dalam sumber asli perlu diperiksa kembali karena jumlah spesimen yang disebutkan mencapai 118, sedangkan persentase yang dicantumkan tidak sesuai dengan jumlah tersebut.

  1. Leptoptilos javanicus (Horsfield)

Dideskripsikan Horsfield pada 1821 dengan nama Ciconia javanica. Lokasi tipe: Jawa.

Bahan koleksi: Satu spesimen bertanggal 6 Juni 1873, dikumpulkan oleh Vosmaer, serta satu tengkorak dari 1864 yang diterima pada 1874 (RMNH, nomor katalog 4 dan G; lihat v. Oort, 1907: 25).

Bersambung.


Foto: Amaurornis phoenicurus (burung keruwak).

Sumber foto: Mary Evans Print Online.

Related Images:

Comments

comments