Dalam Gelap Malam, Buddingh Menyeberangi Sungai Kampa Menuju Jebus.
Admin 5 August 2026
Oleh : Meilanto
Pada edisi sebelumnya, Buddingh dan para pemikul tandu sempat dihadang angin kencang dan hujan yang disertai petir, akhirnya mereka tiba di Sungai Kampa saat obor hampir habis. Simak tulisannya pada halaman 40-41 pada bukunya yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857:
Eindelijk bereikten we, nadat reeds de laatste dammar bijna verteerd was, de breede soengi of rivier van Kampa of Kampak (ook de Jeboes-iivier geheeten), en, terwijl ik hier stilstond om de veer-pont (penambang) af te wachten, die ons moest overzetten, hoorde ik duidelijk het gebral der zee op de stranden. De overvaart is namelijk niet ver van de monding of kwala, en uit de deining van liet diepe rivier-water kon men ook de nabijheid der zee ligtelijk opmaken. Voor deze monding houden zich, even als voor de mondingen (kwala’s) der andere groote rivieren op Banka, rivier-paarden, kaaimans en zee-koeijen of doejong’s op, en onder deze laatste water-zoogdieren, die van agar-aga r en zeewier leven en welker vleesch gedroogd en gegeten wordt, zijn er, die soms 400 à 500 ponden wegen. Ons geroep om overgezet te worden (liggende de veerpont aan de andere zijde der rivier) werd spoedig gehoord, dewijl men op mijn bezoek was voorbereid en de noodige waakzaamheid aan het veer bevolen was.
Weldradan ook was ik aan den overkant, alwaar de Gegading of het inlandsch Hoofd van de pankal-jeboe s mij met eenige brandende flambouwen, en vergezeld van eenige inlanders, op-wachtte. Ik ging nu nog een groot half uur te voet, en had alzoo dien dag 7 uren van de 13 geloopen, daar ik de schok-kende beweging van den draagstoel onmogelijk lang achtereen had kunnen verduren. Onderweg ontmoette ik den Luitenant Kommandant van het fortje te Jeboes, den heer VAN VUUREN die mij de afwezigheid van den Administrateur van het Tin—mijn-distrikt Jeboes, den heer RULOFFS berigtte en tevens de vriendelijkheid had om mij ten zij neut gastvrijheid aan te bieden.

Maksudnya:
Akhirnya, tepat saat obor terakhir hampir habis terbakar, kami tiba di Sungai Kampa atau Kampak (juga disebut Sungai Jeboes). Saat saya berhenti menunggu perahu penyeberangan yang akan membawa kami ke seberang, terdengar jelas suara gemuruh ombak laut yang menghantam pantai.
Penyeberangan ini memang tidak jauh dari muara sungai, dan dari gerak air sungai yang dalam itu pun terasa betapa dekatnya lautan. Di dekat muara ini—seperti juga pada muara sungai-sungai besar lainnya di Bangka—hidup buaya, kadal air, serta duyung atau sapi laut. Hewan laut pemakan rumput laut dan agar-agar ini dagingnya dikeringkan untuk dimakan, dan beratnya bisa mencapai 400 hingga 500 pon.
Seruan kami meminta penyeberangan segera terdengar, sebab kedatangan saya sudah diharapkan dan penjagaan di tempat penyeberangan sudah diperintahkan. Tak lama kemudian saya sampai di seberang, di mana Kepala Wilayah Jeboes sudah menanti dengan beberapa obor yang menyala, didampingi oleh sejumlah penduduk setempat.

(Gambar bukan bagian dari tulisan)
Sisa perjalanan saya tempuh berjalan kaki selama setengah jam lebih, sehingga hari itu saya telah berjalan kaki selama tujuh jam dari total perjalanan tiga belas jam—karena saya tak sanggup lagi lama-lama menahan guncangan tandu. Di tengah jalan saya berpapasan dengan Komandan benteng Jeboes, Tuan VAN VUUREN. Beliau memberitahukan bahwa Pengelola Wilayah Tambang Timah Jeboes, Tuan RULOFFS, sedang tidak berada di tempat, sekaligus dengan ramah mengundang saya untuk menginap di kediamannya.
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
