9 April 1847, Empat Orang Bajak Laut yang Menyerang Wilayah Kepulauan Bangka Belitung Ditangkap dan Diadili di Mentok.
Akhmad Elvian DPMP., ECH 9 April 2026 1
Oleh Dato’ Akhmad Elvian *)
Berdasarkan data pada “Inofficieele gedeelte” dalam Javasche Courant, 28 April 1847, lembar ke-2, dan pada “Kolonien” dalam Nieuwe Rotterdamsche Courant, 30 Juni 1847, lembar ke-1, bahwa pada antara bulan Maret sampai April 1847, wilayah perairan dan Kepulauan Bangka Belitung diserang oleh perompak atau bajak laut.
Puncaknya pada Tanggal 9 April 1847, Sembilan perahu milik Depati Belitung berhasil mengejar dan menangkap serta membawa Empat perompak untuk ditetapkan hukumannya di Kota Mentok.
Untuk mengatasi Bajak Laut, pihak Pemerintah Belanda telah memberikan perhatian khusus dengan melakukan pengawasan di mana-mana, bahkan dengan melibatkan para penduduk. Kapal penjelajah pemerintah di laut, selalu saling bertukar informasi dengan penduduk tentang gerakan para perompak.
Walaupun perompakan sebelumnya yang terjadi pada bulan Februari 1847 dipimpin Panglima Dapan, perampok terkenal dan ditakuti terhadap kapal Kim Soen Gek sudah dikalahkan, berkat usaha Pemerintah Belanda dan kepala kepala rakyat (Depati Belitung, Kepala Kepulauan Lepar dan para batin, gegading dan lengan di Pulau Bangka), dan sebagian besar para perompak berhasil ditangkap serta sudah dihukum di Mentok, namun Panglima Dapan berhasil meloloskan diri dan terus dikejar hingga ke Riau.
Dalam koran koran Belanda di atas, tercatat beberapa perompakan yang terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, misalnya pada tanggal 21 Maret terjadi peristiwa yang luar biasa, ketika para perompak dengan 22 perahu yang diawaki oleh 300 orang mendarat di Pulau Lepar dan menyerang benteng di sana.
Penguasa setempat yang bernama Mas Agus Mohamad Asik, dengan sangat berani menangkis Tiga kali serangan perompak, sehingga memaksa mereka untuk mundur dengan kerugian Sembilan orang perompak meninggal. Kepala para perompak dipenggal, kemudian dikirimkan ke Toboali.
Sementara itu, penduduk Lepar, sebaliknya tidak seorangpun yang terbunuh atau tertangkap. Setelah serangan bajak laut terhadap Pulau Lepar, para perompak tampaknya terbagi dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil.
Selanjutnya pada tanggal 23 Maret, Sembilan perahu besar perompak berkumpul di Teluk Dusun dekat ibukota Toboali, 25 orang perompak siap merampok di dua kampung besar, namun akhirnya mereka segera kembali ke perahu ketika melihat kampung yang lebih besar sudah dilengkapi dengan benteng.
Usaha administrator di masing masing distrik untuk mencegah para perompak dengan penduduk kampung bersenjata dan beberapa anggota militer ternyata sia-sia, mereka tidak berhasil memotong laju perompak di laut dengan perahu-perahu besar yang mereka miliki. Para perompak seakan-akan tidak pernah mengenal menyerah.
Pada Tanggal 25 Maret Sebanyak sembilan perahu besar dan empat perahu kecil perampok menyerang wilayah di Sungai Ballar (Sungeiselan), merampas dua kapal dagang bumiputera, beberapa orang berhasil lolos dan kembali ke Sungai Ballar.
Kemudian pada tanggal 26 Maret, Empat perahu besar dan Sepuluh perahu kecil perampok memblokade Sungai Kurau (Koba), namun mereka tidak berani. Administrator Koba dari Pangkalpinang segera mengirimkan bantuan.
Usaha administrator untuk menyerang para perompak gagal dan usaha kepala kampung Kurau untuk mengalahkan mereka di laut dengan perahu bersenjata juga menemui kegagalan.
Berikutnya pada tanggal 27 Maret, 60 orang perompak mendarat di Tanjung dekat Gudang (Sungaiselan) dan menangkap Delapan orang Cina. Pada Tanggal 28 Maret, kapal jelajah nomor 57 yang dipimpin oleh Juragan Abdul Latif bertemu dengan Enam perahu besar dan Lima sampan perompak di Kepulauan Nangka. Pada kesempatan ini seorang kelasi terluka parah. Juragan yang pertama melihat perahu perompak datang di depan sebuah cunia dan mengawasi dengan sampan bersenjatanya. Juragan Abdul Latif hampir tertangkap oleh para perompak apabila dia tidak membela diri dengan berani.
Pada peristiwa ini, Ia menyelamatkan sebuah cunia milik pemerintah dari Sungaiselan. Pada Tanggal 30 Maret, Tujuh perahu perompak melewati Sungai Kampa (Jebus). Kapal jelajah nomor 41 yang menunggu di dekat Tanjung Genting mengejar mereka, dan melepaskan tembakan ke kanan dan kiri. Akan tetapi saat itu ketika angin berbalik, kapal itu mundur ke belakang yang mengakibatkan para perompak berhasil meloloskan diri.
Selanjutnya pada Tanggal 30 Maret, Delapan perahu berlayar melewati Sungei Liat, menangkap dua orang Cina dan dua bumiputera. Akan tetapi mereka ditembaki oleh kapal patroli pemerintah Haai. Pada hari yang sama Lima belas perahu perompak muncul di Koba dan Toboali, yang oleh Mas Agus Mohamad Asik dari Pulau Lepar setelah memperbaiki bentengnya bersiap mengusir para perompak.
Sepanjang hari kapal jelajah nomor 56 yang dikemudikan oleh Juragan Laut di dekat Sungai Sika (Blinyu) diserang oleh Tujuh belas perahu perompak pada tanggal 31 Maret, pertempuran terjadi sampai siang hari, akan tetapi saat tiba di Pulau Mengkudu persediaan mesiu dan amunisinya habis.
Pada kesempatan ini berhasil diselamatkan satu perahu dagang dari Mentok. Selanjutnya pada tanggal 2 April, Dua belas sampan yang mengangkut 100 perompak berhasil mendarat di kampung Klabat Laut (Jebus), tapi perompak hanya berhasil menangkap seorang Cina. Saat itu sampan yang dikirim dan kapal jelajah nomor 56 tidak mampu menyita perahu perompak.
_________
*)Sejarawan & Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
luck8 là nền tảng cá cược trực tuyến uy tín, hoạt động hợp pháp với giấy phép từ Curacao và PAGCOR. Nhà cái gây ấn tượng với giao diện thân thiện, công nghệ mã hóa SSL 256-bit an toàn, tốc độ xử lý giao dịch nhanh chóng cùng nhiều chương trình khuyến mãi hấp dẫn. Ngoài ra, Luck8 còn cung cấp hơn 2000 trò chơi đa dạng từ các nhà phát hành hàng đầu và dịch vụ hỗ trợ khách hàng 24/7 chuyên nghiệp.