Dalam Perjalanan Dari Mantung, Buddingh Mengamati Rayap Yang Merusak Rumah Penduduk

IMG-20260810-WA0022

Oleh: Meilanto


Hujan turun saat Buddingh di Tanjung Mantung. Ia berteduh di sebuah pos jaga. Setelah hujan reda satu jam kemudian, ia melihat pemandangan yang indah dari Tanjung Mantung. Kemudian ia pulang. Dalam perjalanan pulang, ia melihat sebuah rumah berdinding papan yang dimakan rayap. Simak tulisannya pada buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 49-51.

Weldra moesten we in het wachthuis de wijk nemen, want debui kwam regt op Tanjong-Manton g af, en, niet de vdauw
van Hermon, “maar de dauw van den Panjang en den Marras, droop op ons neder. Die dauw kletterde in de baai en klaterde op de heete graniet- of trachyt-blokken, en mischte in de boomen!
Een stortvloed van regen overgoot de nette kronkel—paden en de levende haagjes en de parkjes van bloemen op Tanjong-Mantong’s hoogte, en vormde in een oogenblik en op honderd plekjes te gelijk kleine watervallen of cascades, die haastig en plassend van de rotsen stortten!… Een uur later was de wolk verdwenen, en zag erde natuur, die in den regen haar toilet
gemaakt had, nog veel frisscher uit dan toen ze in den morgen-stond ontwaakte. De meeuwen streken weder over de baai, en
de vogels gaven weder geluid van tusschen de takken, en de balsems der bloemen en kruiden geurden weder door de lucht, en de zon goot goud en zilver in de schepping uit.

Maksudnya:
Tak lama kemudian kami terpaksa berlindung di pos jaga, sebab badai bergerak tepat ke arah Tanjung Mantong. Bukan embun dari Gunung Hermon, melainkan embun dari pegunungan Panjang dan Maras turun membasahi kami. Embun itu berjatuhan ke teluk, menimpa bongkahan granit dan trakit yang masih panas, serta membasahi dedaunan pepohonan!

Hujan deras menyiram jalan setapak yang berkelok rapi, pagar tanaman, dan taman bunga di dataran tinggi Tanjung Mantong. Dalam sekejap, ratusan air terjun kecil terbentuk sekaligus, mengalir deras dan memecah di atas bebatuan!

Satu jam kemudian awan gelap pun lenyap. Alam yang baru saja “berhias” dengan air hujan tampak jauh lebih segar daripada saat ia terbangun di pagi hari. Burung camar kembali melayang di atas teluk, burung-burung hutan kembali berkicau di sela ranting, wangi bunga dan tanaman rempah kembali menguar di udara, dan matahari menyebarkan cahaya keemasan serta keperakan ke seluruh penjuru ciptaan.

Kemudian ia menulis lagi:
Op onzen terugtogt hielden we stil bij een inlandsen huisje, welks planken wanden door de rajaps of de witte mieren deerlijk geteisterd waren. “Gisteren, dacht ik, “of eergisteren zag ik zwarte en roode mieren, en heden witte mieren!

Het schijnt dat ik alle mieren-familieii op Banka en in den Archipe l te gelijk in haren arbeid en hare huishouding zien moet!” Nu de witt e mieren op Bank a zijn even verslindend en vratig als die op lava. Dal zag ik aan dit huisje! De benedenste planken toch van één’ der wanden waren letterlijk doorvreten , en de vele loopgraven van vaste klei, die de rajap’s gemaakt hadden, liepen langs den wand tot onder het dak toe naar boven.

De eigenaar van liet huisje had het mieren-nest onder den wortel van een’ pisang-boom gevonden en nu juist uitgegraven. We konden dus op ons gemak dat zonderlinge nest bezigtigen, hetwelk men op het eerste gezigt met een’ ruwen klomp kalksteen of verharde klei zou verwisseld hebben. Het had de grootte van wel tweemaal een menschen-hoofd, en was eenigzins konisch, doch tevens zeer knobbelig en knoesterig van vorm, alsof het met uitwassen en bulten bezet was.

De stof of de compositie, die tot de zamenstelling was gebezigd, was zoo hard en vast als cement of stevig met-selwerk, en het ganschc gebouw was met een aantal kleine ronde gaatjes doorboord, die tot de binnenvertrekken toegang verleenden. Haast zou ik genegen zijn om dat bogtio-e en grijskleurige mieren-paleis te vergelijken met eene vesting of forteres, welker steenen muren en borstweringen van talrijke geschutpoorten en schietgaten voorzien zijn. De man van het huisje had weldra het paleis met zijn patjol of spade stuk geslagen, en nu zagen we dat het van binnen in vele afdeelingen gesplitst was, en dat, elke afdeeling, die schijnbaar geen gemeenschap met eene andere had, honderden van cellen bevatte, die den vorm en grootte hadden van een miniatuur-vingerhoedje. Deze cellen waren allen ledig, doch in het midden van het paleis sloeg de patjol het boudoir der koningin open. Hier zat in een groote naakte cel een monsterachtig geel-wit wezen, met een’ uiterst-kleinen naauwelijks zigtbaren kop, doch met een ligchaam, hetwelk de grootte en ook eenigzins den vorm had van een hoenderei, of liever van ecu toegebonden zakje, en niets anders scheen te zijn dan een walgelijke vetklomp. De mieren-koningin besloeg de gansche cel, waarin ze als geperst en ingemetseld zat en zich niet bewegen kon, terwijl men ook nergens eenige deur of venster of poort zag, die voor hare majesteit geopend of gesloten konden worden. Of ze het ongepast vond, dat haar slaapsalet geschonden werd! . . . Of ze het majesteitsschennis achtte, dat haar heiligdom door zooveel oogen ontwijd werd!… Of ze verlegen, of verschrikt, of boos was!… Wie zal het zeggen? De vetklomp bewoog zich als een levend wezen en scheen zich somwijlen in te krimpen of aan rillingen en zenuw-trekkingen te lijden! “Wie weet,” dacht ik, “welkeen lekkere beet dat wanstaltig insekt, die afschuwelijke vet-koningin der rajap’s voor de inlanders op Jav a zijn zou, die de vliegende witte mieren, even aan een brandend lampje geroosterd, zoo gaarne eten!” Die inlanders beweren ook, dat de mieren-koningin door hare onderdanen zorgvuldig en overvloediglijk gevoed wordt, en dat ze hare zwaarlijvigheid aan die Sibaritisehe verzorging en aan haar stilzittend leven te danken heeft.

Maksudnya:
Dalam perjalanan pulang, kami berhenti sejenak di sebuah rumah penduduk, yang dinding papannya telah rusak parah dimakan rayap atau semut putih. “Kemarin atau lusa saya melihat semut hitam dan merah, dan hari ini semut putih pula! Sepertinya saya harus menyaksikan sekaligus seluruh keluarga semut di Bangka dan Nusantara dalam kesibukan serta urusan rumah tangga mereka!” pikir saya.

See also  30 Juli 1965, Terbakarnya Kapal KM BT-32 dan Gugurnya Bupati Bangka Mayor Syafrie Rachman.

Semut putih di Bangka sama rakus dan perusaknya dengan yang ada di Jawa. Hal ini terlihat jelas pada rumah itu! Papan-papan bagian bawah dindingnya benar-benar telah habis dimakan, dan lorong-lorong dari tanah liat padat buatan rayap itu memanjang di sepanjang dinding hingga ke bawah atap.

Pemilik rumah baru saja menggali sarang rayap yang ditemukannya di bawah akar pohon pisang. Kami pun berkesempatan mengamati sarang yang aneh itu dengan saksama; sekilas tampak seperti gumpalan batu kapur kasar atau tanah liat yang mengeras.

Ukurannya hampir dua kali kepala manusia, berbentuk agak kerucut namun penuh benjolan dan tidak beraturan, seolah-olah tertutup tonjolan-tonjolan. Bahan pembentuknya sekeras semen atau tembok yang kokoh, dan seluruh bangunan itu dilubangi banyak lubang kecil bulat yang menjadi jalan masuk ke ruang-ruang di dalamnya.

Hampir saja saya menyebut sarang berwarna abu-abu itu sebagai benteng pertahanan, yang dinding tembok dan parapetnya penuh dengan celah dan lubang senjata.

Pemilik rumah segera memecahkan “istana” itu dengan cangkulnya, dan kami melihat bagian dalamnya terbagi menjadi banyak sekat yang seolah saling terpisah, masing-masing berisi ratusan ruangan berbentuk dan seukuran tutup jari kelingking mini. Ruangan-ruangan itu semuanya kosong, hingga akhirnya cangkulnya membuka ruang khusus di tengah tempat sang ratu berada.

Di sana, dalam ruang besar yang kosong, duduklah makhluk raksasa berwarna kuning pucat: kepalanya sangat kecil hingga nyaris tak terlihat, namun tubuhnya sebesar dan berbentuk seperti telur ayam—atau lebih tepatnya seperti kantong yang terikat—dan tampak tak lebih dari gumpalan lemak yang menjijikkan. Sang ratu memenuhi seluruh ruangan itu, terjepit dan terkurung rapat sehingga tak bisa bergerak, padahal tak ada pintu atau jendela yang terlihat untuknya.

See also  Makam Tua Di Kaki Bukit Penyengat, Benteng Penutuk Pulau Lepar. Tokoh Ulama Negosiator Ulung.

Apakah ia merasa terganggu karena ruang pribadinya didobrak? Atau dianggap penghinaan karena tempat sucinya dilihat begitu banyak mata? Entah malu, takut, atau marah… siapa yang tahu? Gumpalan lemak itu bergerak bagai makhluk hidup, sesekali menyusut atau terlihat gemetar dan kejang! “Siapa tahu,” pikir saya, “betapa nikmatnya serangga aneh ini, sang ratu gemuk yang mengerikan, bagi penduduk Jawa—yang sangat suka memakan rayap bersayap yang baru saja dipanggang di dekat pelita!”

Penduduk setempat juga mengatakan bahwa sang ratu dipelihara dengan sangat teliti dan diberi makan berlimpah oleh rakyatnya, dan kegemukannya itu berkat perawatan mewah serta hidupnya yang diam saja tanpa berpindah tempat.


Foto : Woning in de Chineesche kamp te Blinjoo, door den heer Boors als toegevoegd ingenieur in Juni 1897 bewoond.
House in the Chinese camp at Blinjoe.
Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments