1907-1919.Sumber_Rijksmuseum.nl.PewarnaanAI_20260820_084045_000

Oleh : Meilanto


Buddingh menuliskan perjalannya di Kampung Belo. Di kampung itu dulunya ada pria Tionghoa bernama Assing seperti dikutip dari bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 Halaman 77.

Twee uren oostelijk van Muntok , niet ver van den berg of heuvel Asam, ligt de kampong Belo , welke met ongeveer 200 inlanders en Chinezen bevolkt is. Hier woonde in 1740 de Chinees ASSING, die bijzonder-veel tot de uitbreiding der tin-mijn-bewerking op Ban k a heeft bijgedragen, en hierdoor zijn’ naam, even als de inlander van Marawang, de bovenge-noemde BATIN-ANGOR, in B a n k a’s Jaarboeken vereeuwigd heeft. In de nabijheid dezer kampong ziet men, bij de rivier Belo of Aijer-Belo, nog de ruïnen van een voormalig Chineesch tin-établissement, een der drie eersten, welke in 1740, onder de regering van den Palembangschen Sultan MAHMOED-BADEU-OEDIEN, (aan wien B a n k a toen onderhoorig was), werd opgerigt. Westelijk van deze soengi vloeit, ten zuiden der hoofdplaats, de rivier Aijer-boegies, aan welke de kampong Aijcr-boegies bij den reeds genoemden hoek Ta njong-kaléan ligt, alwaar eene bezetting van het garnizoen van Muntok den zeeroof weert.
Ter zijde van den weg naar Belo en llangam ligt het Christen-kerkhof in de nabijheid van het fort.

Maksudnya:

Dua jam perjalanan ke arah timur dari Muntok, tidak jauh dari Bukit Asam, terletak Kampung Belo yang dihuni oleh sekitar 200 penduduk pribumi dan etnis Tionghoa.

Di tempat inilah seorang pria Tionghoa bernama Assing tinggal pada tahun 1740; ia memberikan kontribusi besar terhadap perluasan operasi penambangan timah di Bangka, sehingga namanya pun tercatat abadi—sama halnya dengan penduduk pribumi asal Marawang, Batin-Angor yang telah disebutkan sebelumnya—dalam sejarah Bangka.

See also  20 Agustus 1817, Surat Mr. J. Bousquet Kepada Mr. H. J. van de Graaff, Mempertanyakan Penyelidikan Kasus Praktek Curang Keuangan Oleh Residen Bangka K. Heynis.

Di dekat kampung ini, di tepi Sungai Belo atau Aijer-Belo, masih dapat dilihat reruntuhan bekas fasilitas pengolahan timah milik etnis Tionghoa—salah satu dari tiga fasilitas pertama yang didirikan pada tahun 1740 di bawah pemerintahan Sultan Palembang, Mahmud Badaruddin (yang saat itu menjadi penguasa wilayah Bangka).

Di sebelah barat aliran sungai ini, tepatnya di selatan kota utama, mengalir Sungai Aijer-Boegies; Kampung Aijer-Boegies (maksudnya Air Bugis, pen) terletak di sepanjang sungai tersebut, dekat dengan Tanjung Tanjong-Kaléan yang telah disebutkan sebelumnya, tempat sebuah detasemen dari garnisun Muntok berjaga untuk mengantisipasi pembajakan.

Pemakaman Kristen terletak di dekat benteng, tidak jauh dari jalan menuju Belo dan Rangam.


Foto : Muntok, Vuurtoren Tandjong Kalean, ca. 1907-1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments