IMG-20260818-WA0005

Oleh : Meilanto.


Pada halaman 63-64 bukunya yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857, Buddingh menuliskan keunikan Distrik Merawang dan burung kecil. Simak tulisannya!

Twee bijzonderheden, welke men omtrent het distrikt Marawan g vindt aangeteekend, zullen we hier mededeelen.

TeMarawang namelijk woonde iu 1709 ot’ 1710 de inlander BATlN-ANGOB, die bij en in het riviertje Soeugi-Mabat , bij de kampong Tjampora n aan de rivier Manka , den aller –
eerste n tin-ert s van het eiland ontdekte! Een ladang , die voor den rijstbouw gebrand en gezuiverd werd, en ecu riviertje of kreekje, dat gereinigd werd, bragten den verborgen rijkdom van Banka’s bodem aan het licht, en BATIN-ANGOK’S naam staat in de Jaarboeken van Banka ids met gouden letters opgeteekeud
.

De tweede bijzonderheid, die van Marawang vermeld wordt, bewijst tevens, welke geduchte natuurtooneelen er op Banka in lang verloopen eenwen hebben plaats gegrepen.

Toen men namelijk in 1823 in het distrikt Marawang , bij de ont- ginning eener tin-mijn, ruim 20 voeten diep gegraven had, vond men een aantal verkoolde boomstammen, welker kruinen naar het zuid-oosten gekeerd waren, terwijl hunne wortels eene rigting naar het noord-westen hadden.
.
.
.

Maksudnya:
Ada dua hal istimewa yang tercatat mengenai distrik Marawang, yang akan kami sampaikan di sini.

Di Merawang, pada tahun 1709 atau 1710, tinggal seorang penduduk asli bernama BATIN ANGOK. Ia lah yang pertama kali menemukan bijih timah di pulau ini, di sekitar sungai kecil Soengi-Mabat, dekat kampung Tjamporan (Maksudnya Cempurak; pen) di tepi Sungai Manka.

Sebuah ladang yang dibakar dan dibersihkan untuk menanam padi, serta sebuah sungai kecil atau selokan yang dikorek, telah menyingkap kekayaan yang tersembunyi di dalam tanah Bangka. Nama Batin Angok tercatat dalam sejarah Bangka dengan huruf emas.

See also  25 Juni 1923, Awal Pemerintahan Fraser JJ, Residen Ketiga Residentie Bangka en Onderhoorigheden yang beribukota di Pangkalpinang

Keunikan kedua yang dicatat tentang Merawang sekaligus membuktikan peristiwa alam dahsyat yang pernah terjadi di Bangka pada zaman purba. Ketika pada tahun 1823 di distrik Marawang, saat penggalian tambang timah sedalam kira-kira 20 kaki, ditemukan sejumlah batang pohon yang sudah hangus/terbakar sebagian. Pucuk-pucuk pohon itu menghadap ke arah tenggara, sedangkan akarnya mengarah ke barat laut.

Jejak-jejak banjir purba yang luar biasa besar ini, yang dulunya datang dari arah barat laut dan membanjiri pulau ini, juga ditemukan di distrik Blienjoe dan Toboali. Pendapat umum menyatakan bahwa sebelum peristiwa bencana alam atau banjir besar tersebut, pulau ini belum mengandung bijih timah maupun logam lain — karena lapisan bijih timah biasanya justru ditemukan pada kedalaman yang kurang dari 20 kaki.
Mungkin ada satu hal kecil yang juga menarik untuk diceritakan di sini.

Hal itu menyangkut seekor burung yang sangat kecil, mungil, dengan bulu yang indah sekali!

Ketika sedang berjalan-jalan di sore hari bersama tuan rumah saya, kami bertemu seorang penduduk asli yang membawa sangkar atau koerongan-boerong — yaitu kandang burung berbentuk silinder yang dibuat dari dua keping papan bundar dan bilah-bilah kayu halus. Di dalamnya terdapat dua ekor burung yang begitu kecil sehingga boleh dikatakan hanya seperti “bayangan” atau “gambaran” burung belaka.

Jenisnya sama dengan yang pernah saya lihat di pohon pinang di kampung Aijer-biroe, yang saya samakan dengan burung kolibri.

Menurut penduduk yang membawa sangkar itu, dunia burung di Bangka memiliki banyak sekali jenis burung yang anggun dan mungil seperti ini.

Namun, saya serahkan kepada para ahli burung untuk menentukan apakah burung mungil Bangka ini benar-benar kerabat burung kolibri asli atau bukan.

See also  13 Juni 1817, Keputusan Pemberhentian Residen Bangka, K. Heynis Karena Melakukan Kesalahan Berat

Foto : De Waterboom in Kampoeng Merawang. Ca: 1914-1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan: AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments