Menuju Kampung Baru, Buddingh Melewati Jembatan Sungai Pelangas. Begini Detail Suasana Saat Itu.
Admin 2 August 2026
Oleh : Meilanto
Pada edisi sebelumnya, dari Kampung Mayang, Buddingh ke Pelangas dan di sana ia membeli nasi bungkus yang dibungkus dengan daun pisang.
Kemudian pada halaman 37 ia menulis tentang kunjungan ke Kampung Baru. Simak tulisannya pada buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.
Thans liep de weg bijna aanhoudend door groote lalaps (1) of moerassen (waarbij de rawa’s of moerassen gandoe, rawa-boàja,
gelang, glaga, oedjong-krawang, Besan, Bessek en ande-ren op Jav a slechts natte plekjes mogen heeten,) en bijna ondoor-dringbare wouden. Op de meeste plaatsen stond de route onder water, en waren duizenden en tienduizenden van jonge boomen of rond-houten dwars over den weg, als eene onafzienbaar-lange brug, o-ereo-eld naast elkander gelegd, en aan beide uiteinden verbonden door overdwars-gelegde boomen of rondhouten, die met rottan aan de anderen waren vastgemaakt. Aan de kanten van den weg of de zoomen der bosschen zag ik aanhoudend dergelijke boomen, als die op den weg tot overbrugging dienden. Ze waren rank en dun en roodachtig van kleur, en Imune stammen naakt of zonder schors of bast. Het is namelijk de eigenschap van deze boomen, dat hunne schors van zelfs loslaat en afvalt, en dat deze schors, even als de so emak of verw-bast, hare roode kleur aan het water mededeelt. Overal toch was het water, dat aan de beide zijden van den weeken en modderigen weg vloeide, ofschoon zeer helder en frisch, rood-gckleurd, en mijn geleide zeide mij, dat dit door het loslaten van den bast dier naakte boomen veroorzaakt werd.
(1) Làla p bcteekent ook Salade in bet Maleisch.
Maksudnya
Kini perjalanan hampir terus-menerus melintasi rawa-rawa luas (ditulis “lalaps”, atau “Lelap” dalam bahasa Bangka. *red) (1) dan hutan belantara yang hampir tak tertembus—sehingga rawa-rawa yang ada di Jawa seperti Rawa Gandoe, Rawa Boa, Gelang, Glaga, Ujung Karawang, Besan, Bessek, dan lainnya seakan hanya terlihat seperti genangan kecil saja dibandingkannya.
Sebagian besar jalur tergenang air, sehingga ribuan hingga puluhan ribu batang pohon muda atau kayu bulat disusun berjajar memanjang melintang di atas jalan, membentuk jembatan yang tak berujung. Ujung-ujungnya diikat dengan batang kayu lain yang diletakkan melintang dan dirapatkan menggunakan rotan.

Sepanjang sisi jalan dan pinggiran hutan, saya terus melihat pohon-pohon yang sama persis dengan yang digunakan untuk jembatan itu: batangnya ramping, berwarna kemerahan, dan sebagian besar batangnya gundah tanpa kulit. Memang demikian sifat pohon ini, kulit kayunya akan terkelupas dan rontok dengan sendirinya, dan kulit itu—persis seperti kulit kayu semak atau kulit pewarna—akan mengubah warna air menjadi merah.
Benar saja, air yang mengalir di kedua sisi jalan yang lunak dan berlumpur itu, meskipun sangat jernih dan segar, tampak berwarna merah kemerahan. Pengantar saya menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kulit kayu dari pohon-pohon yang batangnya gundah itu telah luruh dan bercampur ke dalam air.
(1) Kata lalap dalam bahasa Melayu juga berarti sayuran segar yang dimakan mentah atau lalapan.
Kemudian ia menulis lagi:
Digt bij Kampong-baro e gekomen, passeerde ik de rivier van Plannas, waarover een zeer lange brug geslagen is. Deze brug was almede van dezelfde roode boomen vervaardigd, als die op den weg lagen, en rustte op zware jukken van boom-
stammen. Van daar af bevond ik mij met mijne dragers uren lang in een ontzaggelijk woud en in volstrekte eenzaamheid. Nergens een kampong of een ladang , en nergens een voetganger. En toch was het woud niet onbewoond. Meermalen hoorden we het schreeuwen van beo’s, kakatocà’s, parkieten, loer i’s, toegang’s (faisanten) en paauwen (merak), of de pombo’s of pergam’s hunne diepe zwaarmoedige toonen uiten, of het kirren van wilde duiven of poenei’s, waarvan er meer dan 20 soorten op Banka voorkomen. Somwijlen verschenen er een badjing (eekhoorn), een loetong of een Lampongsche aap, of vele grijze apen te gelijk, in de boomen langs den weg, en de dragers zeiden, dat er in de Bankasche wouden ook brocang’s of honig-beeren, zwarte beeren, jakhalzen, civetkatten, kemalas-a n of luijaards, (ook koekang of poekang geheeten), tanggilang’s of mieren-eters, stekel-varkens of babi-landa ken slangen leven, terwijl in het heuvelland zich
vele herten (door de inlanders roessa geheeten), wilde geiten en wilde zwijnen, kidang’s of reebokken, en kantjil’s (1)
(het muskus-hertje of Guinésche hertje) ophouden, en de moerassen door otters (socnting of andjing-aijer, d. i. water-honden), bunsings en menjawak of leguanen of biawa’s bewoond worden.
(1) De heer LANGE in zijn aangehaald werk zegt, dat men onder de roessa’s, kidang’s en kantjil’s op Banka, ook den albinos of exemplaren van deze dieren, welke geen bruine, maar witte, haren en roode oogen hebben, aantreft.

Maksudnya:
Saat mendekati Kampung Baru, saya menyeberangi Sungai Plannas (maksudnya Sungai Pelangas) yang dihubungkan oleh sebuah jembatan yang sangat panjang. Jembatan itu pun terbuat dari jenis pohon kemerahan yang sama dengan yang digunakan untuk jalur jalan tadi, dan bertumpu pada penyangga kokoh dari batang pohon utuh.
Sejak saat itu, saya dan para pengangkut tandu berada berjam-jam di tengah hutan belantara yang sangat luas dan sepi sepenuhnya. Tak terlihat satu kampungpun, tak ada ladang, dan tak bertemu satu orang pejalan kaki sekalipun. Namun, hutan itu sama sekali bukan tak berpenghuni. Berkali-kali kami mendengar teriakan burung beo, kakatua, burung parkit, burung lori, burung pegar, dan merak; atau suara mendayu sedih dari burung pombo atau pergam, serta suara kicau merpati liar atau burung punai—yang di Bangka terdapat lebih dari 20 jenisnya.
Kadang-kadang tampak bajing, lutung, atau kera lampung, bahkan sekawanan kera abu-abu melompat di pepohonan tepi jalan. Para pengangkut bercerita bahwa di hutan-hutan Bangka juga hidup beruang madu, beruang hitam, serigala, musang, kukang atau pelanduk gantung, trenggiling, landak, babi hutan, dan berbagai jenis ular. Sementara di kawasan perbukitan banyak terdapat rusa (disebut warga setempat rusa), kambing hutan, babi hutan besar, kijang, dan kancil (1)—si rusa kecil yang cantik—sedangkan rawa-rawa dihuni oleh berang-berang, musang air, serta biawak.
(1) Tuan LANGE dalam karyanya yang telah dikutip tersebut menyatakan bahwa di antara rusa, kijang, dan kancil yang hidup di Bangka, juga ditemukan jenis albino—yakni hewan-hewan tersebut yang tidak berbulu cokelat, melainkan berbulu putih dan bermata merah.
*Keterangan gambar : Burung Pergam (Carpophaga vanwyckii, cass.)
Sumber : Biodiversity Heritage Library
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
