IMG-20260823-WA0002


Oleh : Meilanto


Pada halaman 23 buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857, Buddingh menuliskan tentang panorama Kota Muntok.

Van de hoofdplaats Muntok, althans voor zoo ver ze Européesch kwartier is, kan men zeggen, dat ze bijzondernet is aangelegd.

In het midden groent een groot vierkant
plateau of grasplein, dat met waringien-, kanarie- en andere boomen bewassen is, en, door eenige perken of parterres afge-wisseld , door kronkelende lanen en paden, die met kalk en sohelpzand bestrooid zijn, doorsneden wordt.

Aan de noord-zijde van dit plein staat het fraaije wit-gepleisterde Residentie-huis, waaraan een groote tuin of park belendt, dat met velerlei boomen en gewassen beplant, en, rondom een ruime permandian of badplaats van helder bronwater, met zorg en smaak is aangelegd.
(Dan seterusnya)

Maksudnya
Dari pusat kota Muntok, setidaknya untuk bagian kawasan Eropanya, dapat dikatakan bahwa tata letaknya sangat rapi.

Di tengahnya terbentang sebuah dataran luas berbentuk persegi atau lapangan rumput, yang ditumbuhi pohon beringin, kenari, dan jenis pohon lainnya; diselingi oleh hamparan tanaman hias, serta dilintasi oleh jalan-jalan berkelok yang ditaburi kapur dan pasir halus.

Di sisi utara lapangan ini berdiri rumah Kedudukan Residen yang indah berplester putih, yang dihubungkan dengan sebuah taman luas yang ditanami beraneka ragam pohon dan tanaman, serta tertata dengan rapi dan elok mengelilingi sebuah kolam pemandian yang airnya jernih dari mata air alami.

Berhadapan dengan rumah tersebut, di sisi lain lapangan yang rindang itu sedikit condong ke arah barat, menjulanglah benteng besar yang pantas dipuji sebagai salah satu yang terindah di Nusantara.

See also  KERKHOF, Kompleks Makam Belanda dan Pimpinan Gereja Katolik Bangka, Belitung dan Riau

Dibangun di atas sebuah bukit atau tanjung setinggi sekitar 80 hingga 90 kaki, serta dikelilingi oleh tembok benteng yang lebar dan tinggi serta parit yang dalam dan terawat baik, di dalamnya terdapat perkemahan yang luas.

Kawasan ini dibagi menjadi beberapa lapangan yang teduh dan jalan-jalan yang ditanami pohon-pohon tinggi yang menghubungkan berbagai bangunan, gudang penyimpanan, dan tempat tinggal para perwira.

Dari tembok benteng bagian selatan yang dilapisi rumput, atau dari dinding pertahanan yang menghadap ke laut, saat cuaca cerah terbentang pemandangan yang luas dan indah menuju Selat Bangka, serta hamparan pepohonan di pesisir timur Sumatera, pantai dataran rendah endapan Indragiri, Palembang, serta Kerajaan Jambi yang secara administratif berada di bawah kekuasaan Palembang; tak ketinggalan pula muara-muara sungai Musi dan Sungai Banyuasin yang lebar.

Sementara itu, dari dinding pertahanan sisi timur, pandangan akan tertuju ke dataran persegi yang telah disebutkan di depan rumah Kedudukan Residen, serta jalan raya yang mengelilingi lapangan tersebut, lalu terpecah ke kanan dan ke kiri rumah itu menjadi beberapa cabang jalan ke arah timur dan barat laut.

Sepanjang jalan ini berdiri bangunan kantor, gudang, balai administrasi, serta rumah-rumah tempat tinggal orang Eropa yang ada yang dibangun dari batu maupun papan.

Rumah-rumah ini sebagian ditempati oleh pejabat Eropa pusat kota dan daerah Kedudukan Residen, sebagian lagi oleh para perwira pasukan garnisun dan beberapa warga sipil.

Di salah satu rumah itu—tempat tinggal Sekretaris sekaligus Hakim yang telah disebutkan sebelumnya (di samping bangunan penginapan kecil)—kami disambut dengan ramah oleh pejabat tersebut.

Kami memanfaatkan keramahan itu dengan penuh rasa syukur hingga tanggal 14 (Oktober), di mana pada hari itu saya memulai perjalanan menyusuri Pulau Bangka.

See also  8 April 1848, Pemerintah Belanda Memutuskan Sewa Rumah Residen Bangka di Mentok.

Istri saya kemudian diundang untuk tinggal di rumah Nyonya Residen Bangka saat itu, Tuan A. M. BOUSQUET—begitu pula saya sendiri yang diundang oleh Tuan BOUSQUET (yang rumahnya yang penuh keramahan telah menampung sejumlah pejabat yang sedang melakukan perjalanan sebelum kami tiba di Muntok) untuk singgah di kediamannya setelah perjalanan saya menyusuri Pulau Bangka selesai.


Foto : Laan Langs Societeit en der officierwonningen te Muntok. Ca.: 1914-1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan: AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments