Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 06, Toponimi TOBOALIH.
Admin 27 April 2026
Dato’ Akhmad Elvian*)
Toboalih merupakan kota tua yang terletak di pesisir Barat bagian Selatan Pulau Bangka dan diperkirakan mulai tumbuh dan berkembang diawal abad 18 Masehi.
Kota Toboali, dalam manuskrip yang disusun oleh Abang Arifin Tumenggung Kertanegara I, pada Tahun 1878 ditulis dalam huruf arab Melayu “تبواليه ”, dibaca “Toboalih” (Wieringa, 1990:51).
Pada awalnya Kota Toboali terletak di sisi Selatan Sungai Tagak (Melayu: tahan/menahan atau tangguh) dan di sisi Utara Bakon (maksudnya Bakung), serta dalam peta Inggris A Map of the Island of Banca by M.H. Court, Tahun 1821 ditulis dengan “Old Toobooallie” yang berarti “Toboali Lama” dan pada peta Belanda yang dibuat lebih muda Kaart van het Eiland Banka, zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange ditulis dengan “Oud Toboali” yang berarti “Toboali Lama”.
Menurut Dr. S.A. Buddingh, dalam Neerlands-Oost-Indie Reizen Over Java, Madura, Makasser, …Banka, … ; gedaan gedurende het tijduak nan 1852-1857, halaman 69: “ In vroeger jaren, en wel tot aan 1819, was de pankal van Toboàli meer oostelijk gelegen ter plaatse,die nu nog Oud-Toboàli heet, digt bij de kampong Bakon en den berg Nanka”.
Maksud Budingh di sini adalah: “Pada tahun-tahun sebelumnya, dan bahkan hingga tahun 1819, pankal Toboàli terletak lebih jauh ke timur, di tempat yang masih disebut Toboàli Lama, dekat dengan kampong Bakon dan Gunung Nanka”.
Toboali disebut dengan kota, karena pada wilayahnya terdapat bangunan benteng pertahanan. Pengertian “kota” dalam KBBI adalah dinding atau tembok yang mengelilingi tempat pertahanan dan pemukiman.
Terkait keberadaan benteng pada pangkal Toboali, dapat dijelaskan; …”maka tempoh ini baginda susuhunan memerintahkan membuat kota benteng tanah atau kayu di pangkal-pangkal tanah Bangka….” (Wieringa, 1990:111).

Toboali Lama atau Oud Toboali didirikan pada masa Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (Tahun 1702-1711 Masehi) sebagai “daerah sindang yang memiliki status Mardika”. Tugas utama daerah Sindang adalah menjaga perbatasan (Hanafiah, 1995:171).
Kota di sisi Selatan sungai Tagak sebagai cikal bakal Kota Toboali atau Oud Toboali didirikan dengan fungsi pertambangan Timah (fungsi ekonomi) dan juga sebagai benteng pertahanan pemukiman (daerah Sindang) meneruskan kebijakan yang telah dibuat pada masa Susuhunan Sultan Abdurrahman terhadap wilayah Bangkakota.
Pada tanggal 13 Februari 1682 Masehi, Pangeran Aria, putera sultan Abdurrahman mendirikan Benteng di Bangkakota, di sungai bernama sama, dengan satu unit pasukan dari Makassar.
Pembangunan Benteng ini terutama bertujuan untuk mengamankan jalur sempit pelayaran dan perdagangan di Selat Bangka yang terletak dekat dengan Bangkakota (Den Pangeran Aria, twee de soon des ouden konings van Palembangs, soude (volgens bericht) met goede informatie en belijt van zijn vader na’t eijlant Banca vetrocken zijn om aldaar aen een reviertje genaemt Banca Kotta een goede heghte pagger op te werpen en sigh met rooven te behelven, mitgaders alle vijtge weeckene en omswervende Maccassaren van alle platsen, onder belovte van bescherminge na derwaarts materwoon te loocken om door …… Dagh-Register 13 Februari 1682 Vol.I, hal. 169).
Pembentukan Toboali Lama bersamaan dengan dimulainya eksplorasi besar-besaran terhadap biji Timah di sungai-sungai di pesisir Barat pulau Bangka.
Tidak hanya Tiga data Tahun 1709, 1710, 1711, eksplorasi Timah di pulau Bangka, karena kandungan biji Timah mendekati permukaan tanah, Timah tidak sulit untuk ditemukan (Heidhues, 2008:9). Tercatat dalam surat VOC Tanggal 30 November 1717 di Bangka telah ditemukan beberapa Tambang Timah oleh Sultan Anom (Schuurman, 1898:12).
Teknik penambangan Timah pada masa itu sebagaimana dijelaskan (Heidhues, 2008:16) dilakukan dengan teknik pelubangan. Penduduk asli, menggali lubang kecil sedalam Enam kaki, terkadang dihubungkan dengan terowongan. Satu atau Dua orang pria bekerja di lobang dan terowongan, mengangkut tanah berisi bijih Timah di keranjang untuk dicuci dan dipisahkan di sungai terdekat.

Toponimi Toboalih berasal dari tekhnologi penambangan Timah dengan penggalian atau pelubangan (sistem tebuk/tebok=tobo) dilakukan berpindah-pindah atau dialihkan (Melayu: “alih” berarti pindah atau geser, dalam dialek Toboali disebut “ale”) bila tidak dijumpai lagi Timah dalam jumlah atau deposit yang banyak.
Di daerah Toboali, pada Tahun 1803 Masehi, seluruh penambangan Timah dikerjakan dengan metode pelubangan (Tebok) semacam ini oleh orang-orang asli Bangka (Lihat laporan Heynis, ANRI, Arsip Nasional Republik Indonesia, Bangka 21 B).
Sejak awal ditemukan deposit, Timah ditambang dengan cara ini dan berlangsung berkisar 12 (Duabelas) tahun sampai Palembang di bawah Sultan Mahmud Badaruddin pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikromo (Tahun 1724-1757 Masehi). Setelah masa itu Timah ditambang dengan teknik Kulit (teknologi yang dibawa orang Cina) dan teknik Kolong.
Menurut M.H. Court, dalam bukunya An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, pada halaman halaman 230,231: “In the district of Toobooallie particularly, the native population have been accustomed, when finding a vein of ore not very deep, to dig a hole, and then scrape the ore out underground, to the extent they found it practicable to cany on such plan of operation, in their simple manner, which the Malayese, in describing, call working like rats. The ground about Toobooallie has been very much undermined in this way, as also that at Rangaw, above Kuppo”.
Maksudnya Court: Di distrik Toobooallie khususnya, penduduk asli biasanya, telah menjadi kebiasaannya bila menemukan urat bijih (Timah) yang tidak terlalu dalam, menggali lubang, dan kemudian mengikis bijih (Timah) tersebut dari bawah tanah, sejauh yang mereka anggap praktis untuk dilakukan dengan cara sederhana, yang oleh orang Melayu, mereka menjelaskannya, dengan bekerja seperti tikus. Tanah di sekitar Toobooallie telah banyak digali dengan cara ini (Tobo alih), seperti juga di Rangaw, di atas Kuppo.
Tekhnologi awal penambangan Timah dengan sistem pelubangan (tebuk/tebok/tobo+alih/ale) adalah kearifan lokal yang merupakan kekayaan intelektual masyarakat Bangka khususnya di distrik Toboali Bangka Selatan.
*Peta: A Map of the Island of Banca by M.H. Court, 1821.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
