Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 08, Toponimi Belinyu.

IMG-20260511-WA0000 (1)

Dato’ Akhmad Elvian*)


Belinyu adalah satu kota yang secara gografis terletak di Utara Pulau Bangka dan pernah menjadi ibukota Kewedanaan Bangka Utara.

Toponimi spesifik Belinyu menjadi menarik untuk dikaji karena dalam peta peta lama pulau Bangka: Peta Het Eiland Banka 1819 de Rivier van Palembang 1821 ditulis Blinju, Peta M.H. Court Tahun1821 ditulis Blinyoe, Peta H.M. Lange Tahun 1845/1846, ditulis Blinjoe, Peta L. Ullman, Tahun 1852 ditulis dengan Blinjoe, Peta P.H. van Diest Tahun1858 ditulis Blinjoe, Peta J.W. Stemfoort 1885, ditulis Blinjoe, Peta Bahasa K.F Holle Tahun 1889 ditulis Belinjoe, dan peta Res. Bangka en Onder. Blad 33/XXIII m, Tahun 1932/1933 ditulis Belinjoe, selanjutnya pada Peta Sumatra Tahun 1941 Blad Belinjoe ditulis dengan Belinjoe.

Umumnya peta peta lama menulis wilayah geografis dan wilayah pemerintahan dengan Toponimi “Blinjoe atau Belinjoe atau Blinju”.

Secara spesifik toponimi Belinyu, berdasarkan tulisan pada peta peta lama menunjukkan asal usul penamaannya berasal dari nama pohon atau tanaman (flora) Belinjoe/Blinju/Blinjoe (Gnetum gnemon).

Penulisan dan pelafalan menjadi “Belinyu” seperti saat ini bila dikaji karena proses perubahan pelafalan dan ejaan karena ada pertemuan dua konsonan “n” dan “j”, (nj) yang kemudian diubah menjadi “ny” sehingga Belinjoe/Blinjoe/Blinju kemudian ditulis dan dilafalkan dengan “Belinyu”. Mudah mudahan tetap dimaknai dengan Belinju atau Belinjo sebagai pohon atau buah yang sering dibuat emping.

Dalam buku M. H. Court, An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, halaman 150 disebutkan bahwa Blinyoe (huruf Y tetap dilafal sebagai satu huruf) on the east side of Klabat Bay. Saat pemerintahan Residen Inggris untuk Palembang dan Bangka, Mayor M.H. Court, wilayah Blinyoe dimasukkan dalam Northern division meliputi wilayah Jebus (stocade of Teboos), Belinyu (stocade of Belinyoo), Sungailiat (stocade of Soongie-liat), serta Merawang (stocade of Marawang).

See also  Masjid-Masjid Tua Di Pulau Bangka. #79, Masjid Annur, Sungkap.

Pada halaman selanjutnya 179,180, Court menjelaskan: The stockade of Blinyoe is about three miles from the mouth, where an inspector of mines is posted, and which is the depot for all the mines in the neighbourhood. The former Congsee’s house, Avhich is the residence of the inspector, has marks of the shot-holes which it received some years ago, during a desperate attack of the pirates, who Avere repelled by the in habitants”.

Maksudnya benteng Blinyoe berjarak sekitar tiga mil dari muara, tempat seorang inspektur tambang ditempatkan, dan merupakan depot untuk semua tambang di sekitarnya. Bekas rumah Congsee, yang merupakan kediaman inspektur, memiliki bekas lubang tembakan yang diterimanya beberapa tahun yang lalu, selama serangan gencar para bajak laut, yang berhasil dipukul mundur oleh penduduk setempat.

Dalam Almanak 1815, Captain M.H.  Court diangkat sebagai Resident en Commandant yang dibantu oleh Lieutenant C Forbes sebagai Assistant dengan pejabat Timah lainnya.yaitu Inspector of Mines in The Blinyoe District, M.r.. L.C. van Ranzow. Pada masa Inggris walaupun singkat, cukup banyak Timah yang dihasilkan. Dari table catatan residen diketahui, bahwa produksi timah dari tahun 1813 sampai tahun 1816 yang dihasilkan dan yang diserahkan kepada East-India Company dari Blinyoe, including Loemoot and Klabat Laot, sebanyak 4675 pikul, 75 kati (Court, 1821: 258). Sementara itu jumlah penduduk Blinyoe, termasuk wilayah Pandjee dan Loemoot terdiri atas orang China 403 orang, Orang Melayu 114 orang dan Orang Gunung 149 orang.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

**) Keterangan gambar: Pohon Belinju dan Emping, olahan dari buah belinju.

Comments

comments