10 April 1942, Pimpinan Gereja Katolik, Para Imam dan Bruder Berkebangsaan Belanda Ditahan Tentara Jepang.

1
IMG-20260410-WA0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


PADA saat berkecamuknya Perang Dunia Kedua, Keresidenan Bangka Belitung dipimpin oleh Residen Belanda, P. Brouwer yang menjabat sebagai residen hingga pulau Bangka dan pulau Belitung diduduki bala tentara XXV Jepang yang berkedudukan di Shonanto atau Singapura.

Pulau Bangka diduduki oleh sekitar 800 balatentara Jepang pada Tanggal 17 Februari 1942 atau dua hari setelah Singapura dikuasai Jepang pada Tanggal 15 Februari 1942 atau sekitar Tiga minggu sebelum penandatanganan penyerahan kekuasaan Belanda atas Hindia Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang Jawa Barat pada Tanggal 9 Maret 1942.

Kemudian selanjutnya pulau Belitung diduduki oleh sekitar 200 balatentara Jepang pada tanggal 10 April 1942.
Masa pendudukan Jepang juga berdampak buruk bagi umat Katolik.

Pada Tanggal 10 April Tahun 1942 Masehi, pimpinan gereja Katolik Bangka-Belitung-Riau, Mgr. Bouma ss.cc, para imam dan para bruder berkebangsaan Belanda ditahan oleh tentara Jepang dan dimasukkan di kamp tahanan di Pangkalpinang, selanjutnya pada bulan Mei Tahun 1944 mereka dipindahkan ke kamp di Mentok dan pada bulan Maret Tahun 1945 dipindahkan ke kamp di Belalau, Lubuk Linggau.

Pada masa pendudukan Jepang, untuk perawatan umat Katolik di Pangkalpinang dan Bangka Belitung dilakukan oleh Pastor Boen dan Bruder Angelus Manopo, dan kondisi ini berlangsung sampai takluknya Jepang dan Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945.

Pada Tanggal 19 April 1945 dari 11 orang misionaris yang masuk tahanan hanya 3 orang yang masih hidup waktu dibebaskan, dan dari 15 orang bruder Budi Mulia yang ditahan hanya 8 orang yang masih bertahan hidup.

Pada awal Tahun 1950 tulang belulang para misionaris dan bruder yang meninggal di kamp tawanan Jepang dikumpulkan dan dimakamkan lagi di kompleks bruderan Budi Mulia di Jalan Sungai Selan (sekarang Jalan Solihin GP) Pangkalpinang.

See also  Makam Asisten Residen Bangka Di Tengah Jalan Kota Sungailiat.

Geliat Gereja Katolik dimulai lagi setelah Perang Dunia Kedua. Pada bulan April 1946 para bruder Budi Mulia mulai membuka kembali sekolah-sekolah, demikian pula dengan rumah perawatan orang tua mulai diurus kembali. Untuk menggantikan Mgr. Bouma, diangkatlah Pastor Van Soest ss.cc (Prefek Apostolik), yang tiba di Bangka pada tanggal 30 November 1946.

Pada tanggal 8 Februari 1951 Prefektur Apostolik Bangka, Belitung dan Riau diubah statusnya menjadi Vikariat. Pada tanggal 20 Mei 1951 dan Mrg Van Der Westen ss.cc ditahbiskan sebagai Uskup di Pangkalpinang, upacara berlangsung meriah di Pendopo SD Budi Mulia.

Pada tanggal 3 Januari 1961 didirikan Hirarki Gereja Katolik di Indonesia, Vikariat Apostolik Pangkalpinang diubah statusnya menjadi Keuskupan Pangkalpinang dan Mgr Gabriel Van Der Westen ss.cc diangkat menjadi Uskup pertama Pangkalpinang.

Peresmian Mrg Van Der Westen ss.cc menjadi Uskup Pangkalpinang dilakukan di Kathedral Santo Yosep pada tanggal 17 September 1961. Wilayah Keuskupan Pangkalpinang saat ini meliputi Pulau Bangka, Belitung dan Kepulauan Riau.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

**) Keterangan gambar: ilustrasi Makam Para Bruder di Kompleks Bruderan Budi Mulia Pangkalpinang.

Comments

comments

1 thought on “10 April 1942, Pimpinan Gereja Katolik, Para Imam dan Bruder Berkebangsaan Belanda Ditahan Tentara Jepang.

  1. Tài Xỉu MD5 là hình thức cá cược trực tuyến hiện đại, áp dụng công nghệ mã hóa nhằm đảm bảo tính minh bạch và công bằng. Thông qua thuật toán MD5, người chơi có thể dễ dàng kiểm tra kết quả, hạn chế gian lận và nâng cao độ tin cậy khi tham gia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *