Setiap 17 Agustus, Rakyat Bangka Merayakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

0_DThread_1786921230022_174817666793777

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah “jembatan emas” bagi bangsa Indonesia. Kalimat ini merupakan metafora dari Ir. Soekarno yang menegaskan, bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu gerbang atau transisi untuk membangun Bangsa Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Melalui metafora “jembatan emas”, Bung Karno ingin menyadarkan masyarakat Indonesia, bahwa setelah melintasi “jembatan emas” tersebut, perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.

Metafora “jembatan emas” dipakai Bung Karno untuk meyakinkan pihak yang masih ragu dan menganggap Indonesia belum siap untuk merdeka. Menurut Bung Karno, kesiapan justru dibangun setelah kita merdeka.

Masyarakat Bangka Belitung menyambut berita Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kegembiraan dan rasa sukacita. Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat Pemerintah tentang pekik perjuangan ”MERDEKA” sebagai “Salam Nasional”, dengan maklumat pemerintah Tanggal 31 Agustus 1945.

Pekik perjuangan Merdeka yang dimaklumatkan mulai berlaku Tanggal 1 September 1945 ditandatangani oleh Presiden RI, Ir. Soekarno, berisi: “Sedjak 1 September 1945 kita memekikkan pekik merdeka, dengoengkan terus pekik itoe sebagai dengoengan Djiwa yang merdeka !, Djiwa merdeka yang berjoeang dan bekerja !, BERJOEANG dan BEKERDJA !, Buktikan itu !”.

Pekik merdeka kemudian menggema dimana-mana dan oleh masyarakat Bangka dan Belitung tidak hanya diucapkan sebagai salam nasional melainkan kemudian dimanifestasikan atau disimbolkan dalam pemberian nama-nama tempat pada simpul-simpul penting di kota-kota di pulau Bangka.

Di Kota Pangkalpinang, misalnya simbol kata “merdeka” meliputi kawasan Alun-alun Selatan, diberi nama “Lapangan Merdeka”, jalan antara Alun-alun Selatan dengan Rumah Residen, diubah dari Resident straat menjadi “jalan Merdeka”, kemudian wilhelmina park diubah menjadi Tamansari, kemudian dibangun Tugu yang terletak di Tamansari yang diberi nama “Tugu Merdeka”.

See also  Di Koba Ada Lapangan Terbang. Yakin?

Penamaan tempat dengan nama spesific kata “Merdeka” sangat beralasan dilakukan oleh rakyat Bangka khususnya masyarakat Pangkalpinang, karena Kota Pangkalpinang adalah kota simpul “Pangkal Kemenangan” bagi eksistensi perjuangan kemerdekaan dan bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (Elvian, 2014:152-153).

Penamaan kata “Merdeka” untuk penamaan lapangan dan jalan raya juga dilakukan di beberapa daerah di Bangka seperti di Kota Mentok, Bangka Barat dan KotaToboali, Bangka Selatan.

Setiap tanggal 17 Agustus, rakyat Bangka merayakan Proklamasi Kemerdekaan dengan sukacita. Peringatan Proklamasi Kemerdekaan misalnya dapat dilihat pada satu foto yang unik yang bersumber dari koleksi foto keluarga Yang Kalsumi.

Tampaknya foto diabadikan di dalam satu ruangan rumah dengan hiasan latar belakang kain tenun Cual motif “Garuda” dan terdapat foto Bung Karno pada posisi Tengah, dibingkai dan dihiasi dengan kain batik.

Orang orang yang berfoto, baik laki laki dan perempuan berpakaian sangat rapi dan para perempuan menggunakan kain batik.

Selanjutnya yang menarik dari foto ini adalah tulisan pada papan tulis: 17 AG. 45-17 AG. 48 TIGA TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA. Maksudnya 17 Agustus 1945-17 Agustus 1948.

Foto dokumentasi serta tulisan sangat jelas menunjukkan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 17 Agustus 1948.

Foto perayaan ini menunjukkan bahwa rakyat Bangka sangat cinta kepada Republik Indonesia. Kecintaan itu bahkan telah dilakukan sebelum kedatangan pemimpin Republik Indonesia ke Pulau Bangka saat pengasingan tanggal 22 Desember 1948 setelah Agresi Militer Belanda Kedua tanggal 19 Desember 1948.


*Keterangan gambar: Foto peringatan 3 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada satu Keluarga di Bangka, sumber: Koleksi Keluarga Yang Kalsumi.

*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments