Sungailiat Kota yang Indah dan Tertata Rapi. Tertulis Dalam Buku Buddingh, 1852-1857.

IMG_20260817_075318

Oleh : Meilanto


Setelah tiba di Sungailiat dengan melewati Kampung Riouw (Riau), Sekka atau Siliep (Silip), Plawan (Pelawan), Kajoe-arang (Kayuarang), Tjet (Cit), Djoeniang (Deniang), Aijer-ketjouw (?), dan Sigimbier (Sigembir), Buddingh tiba di Sungailiat pukul 5 sore.

Buddingh menulis tentang Kota Sungailiat yang tertata rapi dan megah dengan jalan-jalan lebar yang terawat baik.

Selain itu ia menuliskan tentang H.N. LEVIJSSHON dan sersan KEMPE. Simak tulisannya pada halaman 60-62 pada bukunya yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857:

De hoofdplaats Soengi-liat, digt aan de Chinésche zee of de oostkust van Banka , en tevens digt aan de, zich op dit punt iu een aantal bogten kronkelende, Soengi of rivier Liat gelegen, bezit eene groote inlandsche kampong en een groote Chinésche wijk.

Ruim en goed aangelegd prijkt ze met breede wegen, die er wèl-ouderhouden uitzien, een goed Gouverne-mentshuis, eene goede Chinésche woning van den Luitenant-Chinees TAN-ATJOU, eu eene nette Benting of’ Redoute.

Terlinkerzijde van het Gouvernementshuis of het huis van den Ad-ministrateur en digt bij het fort ziet men een klein Christen-kerkhof, waarop een fraai monument het graf van een’ voor-nialigen Administrateur, wijlen den heer H. N. LEVIJSSHON,

(dan seterusnya)
.

(1) De tulban d bewees bier wel bet godsdienstig fanatisme. Godsdienstijver
schijnt den man vervoerd te hebben om de ongeloovigen of kapier-boeroe of
orang-kafier (d.i. de Christenen of “christen-bonden” van Soengi-liat) nit te roeijen. — Ik heb in 1857 den gewezen deerlijk-verminkten korporaal, DE BRUIN geheetcn, als opziener bij eene suiker-fabriek te Bek as si e bij Batavia aangetroffen , en vernam ook van hem de bovenstaande feiten.

See also  Lima Abad Lalu Orang Bangka Sudah Di Lingga

(1) Matta-glap beleekent : verduisterd e of verdonkerd e oogeu.
De inlanders zeggen van een’ amok-make r of van iemand, die, door jaloezij of wraak vervoerd, alles nederbakt, wat hij ontmoet, dat hij matta-glap is.

Maksudnya

Kota Sungai Liat, terletak tepat di tepi Laut Tiongkok Selatan di pantai timur Pulau Bangka, serta berdekatan dengan Sungai Liat yang berkelok-kelok di titik ini. Di sana terdapat kampung penduduk asli yang besar dan pemukiman Tionghoa yang luas.

Kota ini tertata rapi dan megah dengan jalan-jalan lebar yang terawat baik, rumah dinas pemerintah yang bagus, kediaman Tionghoa yang layak milik Letnan Tionghoa TAN-ATJOU, serta sebuah benteng pertahanan yang rapi.

Di sebelah kiri rumah Administratur dan dekat benteng, terdapat pemakaman kecil umat Kristen, dengan monumen indah yang menandai makam mantan Administratur, almarhum Bapak H. N. LEVIJSSOHN.

Di sana juga dimakamkan mantan Sersan pasukan pengawal Sungailiat bernama KEMPE, yang tewas secara mengenaskan pada Juli 1845 akibat serangan Amok seorang pemeluk agama Islam yang fanatik.

Kejadian ini telah diketahui penulis dari penuturan tuan VON FABER — yang pada tahun 1845 menjabat sebagai Administratur Sungailiat sekaligus pengawas wilayah tambang Marawang — dan dijelaskan secara rinci dalam karya tuan LANGE.

Saat itu, rumah Administratur masih berada di dalam benteng — sebagaimana kebiasaan di seluruh Bangka bagi kediaman para Administratur distrik — berbeda dengan sekarang yang sudah berada di luar benteng.

Pada pukul 1–2 siang, saat tuan VON FABER sedang beristirahat siang di kursi goyangnya, seorang penduduk mendekati penjaga benteng seolah-olah damai, membawa surat yang katanya ingin diserahkan langsung kepada Administratur. Penjaga mengarahkannya kepada pelayan Administratur, yang menjelaskan bahwa tuannya sedang tidur dan belum dapat ditemui. Ia juga mendapat jawaban serupa dari rumah Letnan Komandan benteng.

See also  Di Sungailiat, Bung Karno Berpidato "Sebelum Matahari Terbit Tahun 1950, Kemerdekaan Indonesia Akan Tercapai!"

Ketika seorang Kopral Eropa menghampiri pria yang tampak tidak bersenjata itu, pria tersebut tiba-tiba mengenakan sorban yang tersembunyi di balik sarungnya, lalu mencabut klewang yang juga tersembunyi di sarung, dan menebas kepala serta lengan kopral itu dengan ganas.

Selanjutnya ia memenggal kepala Sersan KEMPE yang sama sekali tidak menduga bahaya, serta melukai beberapa prajurit lain yang tidak bersenjata dan sedang mendekat.

Saat dikejar oleh prajurit yang bergegas mengambil senjata, ia berpapasan dengan tuan VON FABER yang keluar membawa pedang. Si penyerang langsung menyerangnya. Tuan VON FABER jatuh ke dalam selokan yang dalam, dan pembunuh itu mengayunkan klewang secara liar dan tidak waras ke arahnya — namun tidak melukainya secara serius, karena ujung klewang terus-menerus menghantam tepi seberang selokan, yang tidak disadari oleh orang gila itu karena matanya yang gelap karena amarah.

Akhirnya ia tertangkap, terluka parah oleh prajurit, dibelenggu dan dimasukkan ke penjara, namun meninggal dunia keesokan harinya akibat luka-lukanya.

Catatan kaki penulis: Sorban yang dikenakan menunjukkan semangat keagamaan yang fanatik. Semangat keagamaan tampaknya mendorong pria itu untuk membunuh orang-orang kafir — yaitu orang-orang Kristen di Sungailiat. — Pada tahun 1857, saya pernah bertemu mantan Kopral DE BRUIN yang terluka parah dalam kejadian ini, yang saat itu bekerja sebagai pengawas di pabrik gula di Bekasi dekat Batavia, dan mendengar langsung kisah ini darinya

(1) Matta-glap berarti: mata yang gelap atau tertutup pandangannya.
Penduduk asli menyebut seseorang yang sedang mengamuk, atau yang karena rasa iri atau dendam berniat membunuh semua yang ia temui, sebagai orang yang matta-glap — artinya akal dan pandangannya menjadi gelap, tidak lagi melihat benar-salah.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #14, Toponimi Kampung OPAS.

Foto : Voetbalveld en kerkhof te Soengeiliat
anonymous, 1914 – 1919. Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan: AI

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments