Tentang Belinyu, Dalam Catatan Buddingh Tahun 1852-1857.

KelentengdiBelinyusekitartahun1907-1919Sumber_Rijksmuseum.nl.Pewa_20260809_095749_000

Oleh: Meilanto


Belinyu, salah satu pusat pertambangan timah yang terletak di dekat Sungai Belinyu. Belinyu merupakan pemukiman besar yang dilindungi benteng, lengkap dengan kampung penduduk asli, pasar, serta kawasan pemukiman Tionghoa yang luas.

Di sana berdiri megah kelenteng atau kuil Tionghoa, yang di Pulau Bangka umum disebut Teipekkong. Buddingh menulis pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 46-47. Selain itu ia berkunjung ke pasar dan melihat aktivitas perdagangan di pasar tersebut. Simak tulisannya!

Des middags ten 4 uren was ik te Blienjoc, alwaar de heer Administrateur VON FABER , sedert overleden, mij gulle
gastvrijheid bood.

De pankal-Blienjoe ligt juist aan de Blienjoe-rivier, die ik was opgevaren, en wordt ten noorden door de Chine’sche zee bespoeld. Ze is eene groote door eene Renting beschermde plaats, met eene groote inlandsche kampong en passer, en eene groote Chine’sche wijk, waarin een Chine’sche tempel of klinting, op Banka gewoonlijk teipekkong gehceten, prijkt.

Zoodanige teipekkong’s vindt men op Banka overal, waar Chinesen wonen, en ook bij elke parit of tinmijn worden ze, als huis-altaren, in de nabijheid van het kongsi-huis (roema-kongsi) of het huis der associatie van de leden eener tinmijn aangetroffen.

Onder de Chinésche huizen te Blienjoe, waarvan er eenigen, even als te Muntok, van leem gebouwd zijn, munt het huis van den Luitenant-Chinees TJOA-GOANHiN, door grootte en netheid uit. Op de inlandsche passer zag ik, onder anderen, gedroogd herten-vleesch of wilde- zwijnen-vleesch (dinding), tjoe of Chine’sche arak, koebies (een soort van kool), kladi, lobak en enkele andere inland-sche groenten, gedroogde visch, kokosnoten, manga’s, en de reusachtige doerian en nanka, welke in 8 parten, zoo als gewoonlijk, gesneden en verkocht worden, en verder risten of sisier-pisang (eigenlijk pisang-kammen). Onder de passer-gangers waren er enkelen, die de Vlekziekte hadden, of die ziekte, welke kesakitan-panno e of kesakitan -kerbö op Java geheeten wordt, en waarvan ik op bl. 159 reeds gesproken heb. De inlanders op Java beweren, dat men deze ziekte opdoet door het eten van het vleesch van gevlekte karbouwen, doch, dewijl er op Banka geen karbouwen zijn, zoo moet deze ziekte aldaar wel eene andere oorzaak hebben. Ook zag ik er inlanders, die de cascado hadden, waarvan ik op bl. 158 sprak. Deze schubachtige of zemelachtige huidziekte, in de Molukkos “cascado” geheeten, draagt op Banka den naam van “gadoes. ” Die het meest aan deze ziekte lijden, behooren tot de bovenvermelde zoogenaamde orang-laut of orang-seka , d. i. “bewoners der zee,” of “zec-menschen.” En van deze zeemeiischen zegt de heer LANGE, dat ze afkomstig zijn van de Rajat’s van Celebes (ook orang-laut, orang-Badjos of Prajenders geheeten), voormalige zeeroovers; – dat ze oorspronkelijke onderdanen van Djohor zijn; – dat ze zich op de kusten van Banka, Billiton en omliggende eilanden voortdurend ophouden; – dat ze nooit op het land wonen, maar (even als de Wadjorézen op Celebes) op hunne met k adj an g-matten overdekte praauwen, waarin zich ook hun ganschc huisgezin bevindt, leven, en dat gewoonlijk 8 à 10 zoodanige praauwen als eene vloot bij elkander blijven en als het ware een waterdorp vormen; – dat ze 200 pa-kadjang-an’s d.i. met kadjang gedekte praauwen bezitten, en zich met agar-agar, rijst of sago, enz. voeden; – en eindelijk dat ze stoute en bekwame zeelieden ‘zijn, van een ruw en grof voorkomen, en dat ze dikwijls in de Klabat-baai en de Koerouw-rivier op Banka, en te Blantoe , Siajak en Tjeroetjoep op Billiton , aan den wal gaan, om eenige levensbehoeften tegen visch of zeewier in te ruilen of hunne praauwen te herstellen.

Maksudnya
Pukul empat sore saya tiba di Blienjoe, di mana Bapak Pengelola VON FABER—yang kini telah tiada—menyambut saya dengan keramahan yang tulus.

See also  5 Juli 1949. “Fonds Penjokong Pembangunan Djogjakarta” Diserahkan Di balai Gemeente Pangkalpinang

Pusat pertambangan Blienjoe terletak tepat di tepi Sungai Blienjoe yang baru saja saya lalui, dan di sebelah utaranya berbatasan dengan Laut Cina. Ini adalah pemukiman besar yang dilindungi benteng, lengkap dengan kampung penduduk asli, pasar, serta kawasan pemukiman Tionghoa yang luas.

Di sana berdiri megah kelenteng atau kuil Tionghoa, yang di Pulau Bangka umum disebut Teipekkong. Kuil semacam ini dapat ditemukan di seluruh penjuru Bangka tempat orang Tionghoa bermukim; bahkan di setiap lubang tambang timah pun terdapat bangunan serupa sebagai tempat pemujaan, biasanya terletak berdekatan dengan rumah kongsi (Roema-kongsi), yaitu gedung perkumpulan pengelola tambang.

Di antara rumah-rumah Tionghoa di Blienjoe—sebagian dibangun dari tanah liat seperti halnya di Muntok—rumah Letnan Tionghoa TJOA-GOAN-HIN menonjol karena ukurannya yang luas dan kerapiannya.

Di pasar penduduk asli, saya melihat antara lain daging rusa atau babi hutan yang dikeringkan (disebut dinding), arak Tionghoa, kubis, talas, lobak, dan beberapa sayuran lokal lainnya, ikan kering, kelapa, mangga, serta buah durian dan nangka berukuran raksasa yang dipotong menjadi delapan bagian seperti biasa untuk dijual. Ada juga sisir pisang.

Di antara pengunjung pasar, beberapa tampak menderita penyakit bercak-bercak kulit, yang di Jawa disebut kesakitan-pannoe atau kesakitan-kerbö—penyakit yang pernah saya bahas di halaman 159. Penduduk Jawa percaya penyakit ini timbul akibat memakan daging kerbau yang kulitnya berbintik, namun karena di Bangka tidak ada kerbau, maka tentu ada penyebab lain di pulau ini.

Saya juga melihat warga yang menderita penyakit kulit bersisik atau berkerak yang di Maluku disebut cascado, sedangkan di Bangka dikenal dengan nama gadoes. Penderita terbanyak penyakit ini adalah kelompok yang disebut Orang Laut atau Orang Sekak, yang berarti “penghuni laut”.

See also  26 April 1803, Residen Palembang Aart Quiryn Palm Melapor Ke Gubernur Jenderal Johannes Sieberg Tentang Perampokan Panglima Raman Di Bangka.

Menurut catatan Bapak LANGE, kelompok ini merupakan keturunan suku Ra’jat dari Sulawesi (juga disebut Orang Laut, Orang Bajo, atau pelaut), yang dulunya dikenal sebagai pelaut pengembara laut. Mereka awalnya adalah rakyat taklukan Kesultanan Johor, kini menetap di pesisir Bangka, Belitung, dan pulau-pulau sekitarnya.

Mereka tidak pernah tinggal di darat, melainkan—seperti suku Wadjore di Sulawesi—menghuni perahu yang atapnya dilapisi tikar daun nipah, tempat seluruh keluarga tinggal. Biasanya delapan hingga sepuluh perahu berlayar bersama membentuk semacam kampung terapung. Mereka memiliki sekitar 200 perahu berlapis tikar nipah, dan bertahan hidup dari rumput laut, beras, atau sagu.

Mereka dikenal sebagai pelaut yang tangguh dan terampil, meski berpenampilan sederhana dan kasar. Seringkali mereka berlabuh di Teluk Klabat dan Sungai Koerouw (maksudnya Kurau, pen.) di Bangka, serta di Blantoe, Siajak, dan Tjeroetjoep di Belitung, untuk menukar hasil laut dengan kebutuhan sehari-hari atau memperbaiki perahu mereka.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments