10 Juni 1949, Kunjungan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, ke Bangka dan Sumbangan cek 6 Juta Gulden.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260610_095530_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada tanggal 10 Juni 1949 Sri Sultan Hamengkubuwono IX berangkat ke Bangka untuk membicarakan percepatan pemulihan pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta bersama Muhammad Rum dan anggota delegasi Republik lainnya. Sri Sultan Hamengkubuwono IX berada di Bangka selama Tiga hari, bertemu dengan Sukarno dan Hatta yang baru kembali dari Kotaraja Aceh (tanggal 11 Juni 1949) dan pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX kembali lagi ke Jakarta pada hari Minggu, 12 Juni 1949 bersama Muhammad Rum, Menteri Penerangan Moh. Natsir, Sekretaris Negara Mr. AG Pringgodigdo, Dr Halim, Mr Nazir Sutan Pamuntjak dan Baharuddin. Keesokan harinya, tanggal 13 Juni 1949 Sri Sultan Hamengkubuwono IX melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta.

Dalam konferensi persnya pada hari Selasa, tanggal 14 Juni 1949, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan kunjungan ke Jakarta dan ke pulau Bangka cukup memuaskan. Dalam waktu dekat akan diumumkan jadwal proses pemulihan Republik Indonesia di Yogyakarta dan para pemimpin Republik Indonesia akan hadir setelah 2-3 hari setelah pemindahan secara resmi, namun tergantung keadaan di Kota Yogyakarta.

Dalam terbitan ulang buku “Tahta Untuk Rakyat”, yang disunting oleh Atmakusumah dkk, disertakan kesaksian seorang tokoh bahwa dalam kesempatan kunjungan kedua ini Sri Sultan Hamengkubuwono juga memberikan sumbangan kepada Sukarno dalam bentuk cek sebesar 6 juta gulden untuk meneruskan perjuangan menegakkan kembali kedaulatan negara Republik Indonesia yang telah dirongrong kembali oleh Belanda (Margana, dkk., 2023:115).

Mengutif dari Historia.ID, edisi 4 Juli 2025: “Bantuan Sultan namun bukan uang semata. Pasca-Perjanjian Roem-Royen (7 Mei 1949), pada Juli 1949 Sultan ditemani Jusuf Ronodipuro terbang ke Bangka untuk menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Menurut aktivis Partai Sosialis dalam memoarnya yang dituliskan bersama Abrar Yusra, Memoar Seorang Sosialis: Djoeir Moehamad, kedatangan Sultan sekaligus membicarakan pemulihan Yogyakarta sebagai ibukota republik sebagaimana salah satu poin Persetujuan Roem-Royen. 

See also  8 April 1848, Pemerintah Belanda Memutuskan Sewa Rumah Residen Bangka di Mentok.

Tapi pertemuan itu juga dicekam keprihatinan yang nyata. Dalam suatu acara makan pagi, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta memperdengarkan suara kurang gembira bahwa pemerintah tidak punya dana untuk kembali ke Yogyakarta. Tidak juga dana untuk membiayai pegawai-pegawai Republik. Keluhan itu diikuti oleh macam-macam-macam saran dari para menteri dan tokoh Republik lainnya. Namun jalan keluar yang nyata belum terbuka.

Pada akhirnya berbicaralah Sri Sultan Hamengkubuwono IX,” tulis Djoeir dan Abrar. Sultan, lanjut Djoeir, menyatakan siap memberikan harta benda terakhirnya dan keraton dengan menawarkan cek sebesar enam juta gulden. Mendengar itu, Sukarno yang terharu pun seketika merangkul Sultan. 

Dukungan Sultan kepada RI demikian total. Sampai ke urusan finansial, Ia rela berkorban. Namun Ia tidak mau digembar-gemborkan. Itulah sebabnya artikel Jusuf Ronodipuro, ‘Episode Bangka’ yang menceritakan pemberian cek 6 juta gulden Sultan kepada Sukarno yang sedianya dimuat di biografi Takhta Untuk Rakyat, tak terjadi. Sebab, Sultan melarangnya,” tukas buku Hamengku Buwono IX: Pengorbanan Sang Pembela Republik.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments