18 April 1949. Setelah Menginap dan Bertemu Presiden, Diplomat Kedubes RI di Amerika Serikat, Dr. Soedarpo Sastrosatomo Meninggalkan Bangka.

0
IMG-20260417-WA0024

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada tanggal 16 April 1949, diplomat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amerika Serikat, Dr. Soedarpo Sastrosatomo mengunjungi Pulau Bangka untuk memberitahukan perkembangan dari Lake Succes, terutama pandangan negara barat atas perkembangan konflik Indonesia-Belanda pasca keluarnya Resolusi 67 Dewan Keamanan PBB tanggal 28 Januari 1949 dan Ruling Tanggal 23 Maret 1949.

Sementara itu pada tanggal yang sama 16 April 1949, M. Rum, Mr. Ali Sastroamijoyo dan Djuanda yang sedang mengikuti pertemuan pra-konferensi juga turut kembali ke Bangka.

Dr. Soedarpo kembali ke Batavia pada hari Senin, 18 April 1949 setelah semalam menginap di Bangka.

Dr. Soedarpo Sastrosatomo adalah salah satu dari diplomat RI di PBB yang pernah dikirimkan tembusan surat oleh Wakil Presiden Mohd. Hatta dari Menumbing Mentok.

Dalam Arsip ANRI ditemukan Surat berkop Wakil Presiden REPUBLIK INDONESIA, Muhammad Hatta yang ditujukan kepada L.N. Palar, Perwakilan Republik Indonesia di PBB, New York.

Surat 3 halaman berkop Wakil Presiden REPUBLIK Indonesia, diketik dan ditandatangan oleh Mohd. Hatta di Menumbing bertanggal 2 Mei 1949, sedangkan tembusan surat ditujukan kepada J.M. A.A. Maramis, Menteri Luar Negeri a.i. Rep. Indonesia di New Delhi, selanjutnya arsip surat tersebut diketik warna merah REPUBLIC OF INDONESIA kemudian di bawahnya diketik Date reed dan ditulis tangan tanggal 5/14/49 dan di bawahnya berurutan Palar, Sumitro, Sudjatmoko, Sudarpo, Basoeki, J.Mintz, B.Belt dan tulisan Remark: dan surat diawali dengan Salam Merdeka,.

Surat ini menjadi penting bagi rakyat Bangka karena diketik menggunakan kertas surat berkop Wakil Presiden Republik Indonesia yang menunjukkan bahwa, Pemerintahan Republik Indonesia masih berlangsung di pengasingan di pulau Bangka setelah Agresi Militer Belanda dan pengasingan beberapa pemimpin republik ke Bangka dan ke Brastagi kemudian dipindahkan ke Parapat.

See also  Sejarah Penemuan Timah Di Pulau Bangka.

Kesimpulan sejarah ini lebih diperjelas lagi dalam alenia kesepuluh, sebelas dan dua belas surat yang berisi:…. Pendapat saudara bahwa “Kabinet Hatta masih tetap Pemerintah resmi, sedang Pemerintah Darurat (adalah) Pemerintah jang mendjalankan pekerdjaan sehari-hari” adalah dari semulanja pendapat kami, berdasarkan alasan jang djuga saudara kemukakan.
Apalagi K.T.N. hanja mau mengakui kami disini dan tak mau berhubungan dengan dengan Pemerintah Darurat, jang memang sukar didapat waktu itu. Kekuatiran kami makanja kami beranggapan begitu ialah supaja pemindahan kekuasaan sepenuh-penuhnja kepada Pemerintah Darurat djangan diartikan oleh Dunia International bahwa kekuasaan di Republik telah pindah ketangan Pemerintah jang belum diakui. Artinja memberi djalan kepada aliran jang mau menjingkirkan Republik sebagai partai jang bersengketa dimuka Dewan Keamanan.
Tjuma dalam segala hal, kami di Bangka berpendapat bahwa harus diadakan perhubungan jang rapat dengan Pemerintah Darurat jang tidak mudah dan lekas mendapatnja.
Politik jang kami djalankan – dan inilah satu-satunja dasarnja sehat menurut pendapat saja-didasarkan kepada pertimbangan kekuatan kita kedalam dan kekuatan kedudukan kita keluar.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.


** Foto: Ilustrasi Dr. Soedarpo Sastrosatomo menaiki pesawat B-25 Mitchell yang difasilitaai PBB. (gambar menggunakan AI)

See also  Makam Irene Mathilde Ehrencron di Kerkhof Pangkalpinang, Istri Orang Penting Di Bangka Waktu Itu.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *