4 Agustus 1850, Depati Amir dengan 300 Pasukan Turun dari Markas di Gunung Maras Berunding dengan Lettu Dekker Komandan Militer Belanda di Kampung Layang.

Kampung Layang (lingkaran putih) Tempat perundingan antara Depati Amir dan _20260804_145535_0000

Oleh. Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH, CIRBC*)


Berita tentang perundingan antara Depati Amir dengan komandan detasemen militer Layang, Lettu Dekker dapat diketahui secara jelas dari surat Inspektur Pengawasan Zending di pulau Bangka kepada Gubernur Jenderal,
Layang tertanggal 16-8-1850 No. La R (Rahasia) (ANRI geh. Bt 17-91850 Nomor 1).

“Melanjutkan laporan saya tanggal 3 September 1850, Nomor La R (rahasia), saya kabarkan kepada anda yang terhormat, bahwa saya pada petang ini tanggal 4 September 1850, mendapat pemberitahuan dari komandan detasemen Letnan Dekker, bahwa Letnan Dekker telah bertemu dengan Amir dan Amir mohon pada saya untuk datang ke Layang, Amir akan melakukan perundingan kepada pemerintah tapi tidak ada tempat lain, Ia hanya berani datang ke Layang.

Sepucuk surat datang dari mayor Cina menunjukkan kepada saya dan seorang duta, bahwa surat memberitahukan kepada saya nampaknya Amir sepanjang waktu memang di Blinju tapi sekarang ia masih takut untuk mengulangi datang ke Pangkalpinang, Ia masih sangat yakin, ia curiga dan takut luar biasa.

Di sisi lain saya mendapat sepucuk surat dari Letnan Dekker kepada saya sekali lagi, Amir mohon untuk datang kemari (Layang). Letnan Dekker memberi tahu kepada saya atas kedatangan saya itu, bahwa Amir bersedia menjelaskan, untuk itu ia akan diantar hanya dengan prajurit, mengantarkan Amir kepada saya di rumah Cina yang akan saya datangi, prajurit Depati Amir sekitar 300 orang diperkuat dengan persenjataan lengkap.

Kemauannya untuk datang ke Layang, tak dapat dijelaskan, sedang kekuatan tentara di Layang ada 35 Serdadu, ada 3 Serdadu Eropa, beberapa sakit demam, sementara itu tangsi di Layang terdiri dari tempat yang kecil, sedang Amir yang ada di sekitar wilayah itu dengan pengikutnya sekitar 300 orang jumlahnya 40 orang bersenjata, 160 dilengkapi senapan siap pakai.

See also  12 Mei 1971, DKT Pernah Menjadi Jawatan Kesehatan TNI-AD (JANKESAD)

Letnan Dekker Komandan Detasemen di Layang, mulai mengadakan pertemuan dengan Amir, pembicaraan dilakukan dengan baik dan menyenangkan. Opsir itu telah beberapa hari yang lalu, pergi ke Amir tanpa bersenjata, di suatu rumah di kampung Layang, ditunggu 5 tentara bersenapan sangat bagus, Amir telah menunggu kedatangan Letnan Dekker, alasan sederhana saya akan datang ke Layang karena Amir hanya berani muncul di Layang, dan Ia percaya kepada Letnan Dekker, dan opsir itu telah biarkan kampung itu kosong, lainnya telah dibakar,

Depati Amir jelaskan kepada tuan Dekker, bahwa dirinya tak pernah akan biarkan dirinya bersedih, karena itu ia kirim hadiah ayam dan durian dengan tempat pengambilan pada jarak jauh, ia coba menunjukkan persahabatan tak lama kemudian setelah kedatangan saya di Layang, tuan Dekker diterima seperti itu setelah mendapat hadiah dari Amir.

Oleh satu dan lain hal saya atur pertemuan dengan Amir, sehubungan dengan jawabannya, perundingan menuju penyelesaian dinilai gagal, juga sama seperti mediasi yang juga telah dilakukan Mayor Cina yang pertama juga gagal.

Sementara itu akhirnya saya sama sekali menjadi gagal melakukan perundingan menuju penyelesaian, kepada Amir diberitahukan secara tertulis, anda memerintahkan saya menghalangi serahkan keluarganya padanya. Sebelum ia kirim hadiah pada saya, ia ingin bersumpah kapan ia dapat secepatnya bertemu familinya, ia ingin datang pada saya, bila saya segera kembalikan (keluarganya), sesudah itu ia bersumpah dan untuk kepentingan di Layang, untuk tetap tenang tidak mulai dengan lakukan tindakan-tindakan perang, yang oleh saya itu termasuk tindakan yang dilarang, yang pemberitahuannya melalui besluit.

Selanjutnya saya mohon Letnan Dekker dan administratur Heydeman untuk gunakan pengaruh mereka agar Amir berpikir lebih bagus membuat suasana tenang dan mendapat kepercayaan, pada waktu itu ia telah melakukan kerusuhan dengan ayahnya, dan dirinya di Tahun 1829, dari pandangan Amir kerusuhan itu mereka buat karena pemerintah membebani pajak berat kepada rakyat.

See also  Macem Memerang

Selama saya berada di Layang, setelah mengalami kecewa, sia-sia, tak pantas (gagal berunding), petang ini saya berangkat ke Tanjung Mantong, berharap di sana telah ada kapal Api Phoenix berangkat, dan kepada anda yang telah mendapatkan berita lisan yang sungguh-sungguh tak benar yang telah dikirimkan mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi (perundingan). Setelah 48 jam (dua hari) tetap bertahan (berada di Layang), berusaha keras, di luar kota membuat berita secara tertulis, dengan surat ini saya berharap tepat waktu tiba di Muntok, karena kapal api Phoenix akan berlayar ke Batavia.

Saya harus menjelaskan kepada anda, bahwa tindakan saya (perundingan) dengan Amir tak bagus, karena ia menuntut pembebasan keluarganya yang dalam hal ini terpaksa diambil keputusan tidak bisa dilakukan, bahwa dugaan saya mengenai pertanyaan apakah saya harus beri bukti kepada Amir, yang mana akhir-akhir ini Ia mulai lagi tindakan perang yang tak dapat dielakkan (maksudnya dengan dibebaskan keluarganya apakah Amir akan berhenti memberontak).

Menurut keyakinan saya memberi izin atas tuntutan Amir tak sependapat dan harga diri serta kepentingan pemerintah, akan jatuh. Keinginan saya ke Layang, akan jelaskan pada Amir keadaan, dan saya telah banyak berbuat, namun demikian Amir bagi pemerintah telah menghina, tak dapat dipercayai, kepala batu, gigih dalam usaha beserta kelompoknya untuk tidak melakukan perundingan menuju penyelesaian sampai keluarganya akan dikembalikan (dibebaskan).”


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

Comments

comments