Dari Belinyu Buddingh ke Sungailiat, Melewati Kampung Panji.

IMG-20260811-WA0032

Oleh : Meilanto


Di Belinyu, Buddingh telah berkunjung ke pasar, Tanjung Mantung, tambang timah, menemui butuh tambang yang telah memeluk Agama Katholik hingga akhirnya ia harus meneruskan perjalanan ke Sungialiat.
Simak tulisannya pada halaman 51-54 yang dikutip pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

In den namiddag bezocht ik ecnigen der 19 Chinezen, welke in het distrikt Blienjoc tot het Katholicisme bekeerd zijn, (doch over wie, even als over de lloomseh-Katholijke Chinezen te Soengi-sla n en Pankal-piuang , later nog zal gesproken worden); en tegen den avond ging ik met mijn’ gastheer naar
den smeltoven eener in Loemoet gelegen parit, alwaar men juist met het smelten van het tin bezig was.
…..
(dan seterusnya)
.
.
Selanjutnya ia menulis lagi:
Aan den zolder hingen eenige lolling’s of gekleurd-papieren lantarens, en op eenige plaatsen bij de deuren en aan de wanden
waren brecde strooken rood papier geplakt, waarop Chinesche spreuken met Chinesche karakters geschreven waren. Uit het hoofdgebouw gingen we een paar belendende lange houten loodsen door, die in talrijke kleine vertrekken afgedeeld en
tot logies voor eenige Chinesche mijn-werkers bestemd waren…….
.(
dan seterusnya)
.
.

Maksudnya:
Pada siang hari, saya mengunjungi beberapa dari 19 orang Tionghoa yang telah masuk agama Katolik di distrik Blienjoe (tentang mereka—serta umat Katolik Tionghoa di Soengi-slan dan Pankal-pinang—akan saya bahas lebih lanjut nanti). Menjelang malam, saya bersama tuan rumah pergi ke tungku peleburan di salah satu lubang tambang di Loemoet, yang saat itu sedang sibuk melebur timah.

Kami berangkat pukul tujuh malam, didampingi beberapa penduduk setempat yang berjalan di depan membawa obor menyala. Peleburan memang selalu dilakukan pada malam hari, pukul enam sore hingga delapan pagi, karena panas tungku terlalu menyengat jika dilakukan siang hari. Setengah jam kemudian kami tiba di ruang peleburan dan menyaksikan pekerjaan yang sangat menarik itu—hal ini akan saya jelaskan lebih rinci nanti, saat saya menguraikan berbagai hal tentang tambang timah.

See also  5 Juli 1949. “Fonds Penjokong Pembangunan Djogjakarta” Diserahkan Di balai Gemeente Pangkalpinang

Keesokan paginya, saya berangkat menuju Soengi-liat, pusat pemerintahan distrik yang sama namanya, berjarak 37 pal atau lebih dari 12 jam perjalanan dari Blienjoe. Bapak VON FABER akan menemani saya sebagian jalan, untuk memperlihatkan salah satu tambang timah paling penting di distriknya bahkan di seluruh pulau. Kami berdua menunggang kuda; setelah berkuda sejauh 3 pal, kami melewati kampung Pandjie (maksudnya Kampung Panji)—di tempat ini bekas perusahaan tambang timah Tionghoa tertua, yang didirikan tahun 1740 (seperti yang dulunya ada di Kotta-Wringien / Kota Waringin hingga tahun 1820), telah berhenti beroperasi beberapa tahun lalu. Selanjutnya kami melewati kampung dan lubang tambang Djeramba, Senèn, dan Pirang di kaki pegunungan Mapor dan Besâr, lalu tiba di Reding-Panjang (Riding Panjang), dan akhirnya sampai di tambang timah terbesar di Bangka, yaitu tambang Lakfoentiouw (Lapfantouw), yang berjarak tiga jam perjalanan dari pusat Blienjoe.

Tambang ini terbentang di kedua sisi jalan, dan kami langsung masuk ke Rumah Kongsi. Di sana, Kepala Tambang Tionghoa atau ketua perkumpulan Hoei—yaitu persekutuan pengelola tambang—bersama beberapa pemegang saham, juru tulis, dan dua orang Tjintjing (yang bertugas mengurus keuangan dan administrasi) menyambut kami dengan ramah, serta menyuguhkan teh, kue, dan manisan.

Rumah Kongsi Lakfoentiouw adalah bangunan papan besar yang terbagi menjadi beberapa ruangan, dibangun dengan gaya Tionghoa: di tengahnya disisakan halaman terbuka berbentuk persegi berukuran sekitar 30 kaki, panjang dan lebarnya sama. Di ruang utama yang luas terdapat meja panjang sempit seperti yang biasa dipakai orang Tionghoa, serta beberapa kursi dengan alas papan—sebagian berupa bangku kecil, sebagian lagi bersandaran tinggi—semuanya dicat cokelat dengan pernis mengkilap jenis tjetto khas Tiongkok.
Di langit-langit tergantung beberapa lampion kertas berwarna-warni, dan di beberapa tempat di dekat pintu serta pada dinding ditempel lembaran kertas merah lebar bertuliskan pepatah Tionghoa dengan aksara Tiongkok. Dari bangunan utama, kami melintasi beberapa gubuk kayu panjang yang bersebelahan, terbagi menjadi banyak ruangan kecil sebagai tempat tinggal para pekerja tambang Tionghoa (Rumah Kepong, pen).

See also  7 Mei 1949, Kesepakatan Rum-Royen (Roem-Royen Statement).

Kamar-kamar itu tampak sederhana dan kurang terawat, dan ruangan paling ujung berbatasan dengan sebidang tanah terbuka kecil yang dipisahkan oleh aliran sungai sempit. Di tepi sungai itu berdiri sebuah Teipekkong atau tempat pemujaan pribadi. Bangunan ini sangat kecil, terbuat dari papan, tingginya sekitar 6 kaki dan lebarnya 4 kaki, bagian depannya terbuka persis seperti etalase warung. Di bagian dalamnya, tergantung di dinding di atas meja kecil lukisan tokoh Djoesie atau Joosje yang terkenal—berkumis panjang, alis terangkat tinggi, dan memegang pedang terhunus. Di atas meja tersusun patung-patung kecil dari kertas emas, tumpukan kertas sembahyang, serta sepasang lilin dan beberapa ikat dupa.

Dari sana, Kepala Tambang mengajak kami dengan bangga melihat kandang babi milik Kongsi, yang terletak di seberang sungai berjejer rapat di tepian air. Seluruh bangunan kandang itu berupa gubuk panjang sekitar 7 kaki tinggi dan 70–80 kaki lebar, beratap daun, bagian depannya terbuka, dan terbagi menjadi sekat-sekat berukuran 5–9 kaki.

Di setiap sekat dipelihara 2–3 ekor babi besar yang gemuk, terkadang disertai 5–7 ekor anak babi; keseluruhan terdapat sekitar 70–80 ekor babi di sana. Mustahil membayangkan betapa bersih dan rapinya kandang-kandang itu, serta betapa bersihnya babi yang biasanya dianggap kotor! Lantai papannya tampak seolah baru saja disikat dan dilap, sedangkan bulu dan kulit babi-babi itu putih bersih bagaikan salju!

Bapak VON FABER bercerita bahwa kandang dan babi di seluruh tambang timah di Bangka senantiasa dijaga kebersihannya secara luar biasa—hal ini pun saya buktikan sendiri saat berkunjung ke beberapa tambang lain kemudian. Satu orang pekerja khusus ditugaskan merawat babi ini, dan kabarnya daging babi dari tambang-tambang di Bangka adalah yang paling lezat sedunia.

See also  Setiap Tanggal 5 April, Perayaan Ceng Beng pada Pemakaman Tionghoa di Pat Kong Mun

Catatan kaki: Berdasarkan apa yang sering saya dengar, tokoh Djoesie itu melambangkan dewa jahat dalam sistem kepercayaan dualisme Tionghoa; konon orang Tionghoa hanya mempersembahkan sesajen kepada dewa jahat ini, dengan alasan bahwa Dewa Baik atau Thi-the senantiasa berkehendak baik bagi manusia sehingga tidak perlu ditenangkan atau dipengaruhi dengan persembahan. Hanya dewa jahatlah yang dihormati dan dipersembahkan sesajen, supaya ia tidak mendatangkan malapetaka! — Namun saya sampaikan ini sekadar sebagai “kabar yang beredar” dan tidak dapat menjamin kebenaran sesungguhnya.


Foto : Varkensstal te Pangkalpinang
anonymous, 1914 – 1919
Albumblad met 2 foto’s van de varkensstal bij Mijn 24 van de mijnbouwonderneming te Pangkalpinang.
Sumber : Rijksmuseum.nl.

Comments

comments