Proses Peleburan Timah Dalam Catatan Buddingh Tahun 1852-1857

IMG-20260813-WA0034

Oleh : Meilanto


Pada edisi sebelumnya, Buddingh diantar oleh Kepala Kongsi Pertambangan melihat dari dekat proses penambangan timah. Ia menulis secara detail alat-alat dan cara kerja di tambang timah. Selanjutnya ia menulis lagi tentang peleburan timah yang dilakukan pada malam hari. Untuk melebur bijih timah, diperlukan kayu bakar yang banyak sebagaimana yang ia tulis Halaman 56-59 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

De ertslagen vindt men gewoonlijk in aders, die tusschen een mengsel van leemachtige stof en wit rul zand hecnloopen.

De rigting is doorgaans oost en west, en de aderen geven vaak verdeelde takken even als boomtakken van zich af, welke al kleiner en dunner worden en als draden eindigen. Somwijlen wordt ook de tin-erts (of de cassiteron of cassiteriel, in het Maleisch: batoe-tima ) in rijen of losse klompen, die men “stroomen” noemt, verspreid gevonden.

Op het oog en op eenigen afstand ziet de erts er als gewone zwarte aarde uit, ten minste voor hem, die geen kenner is; doch in waarheid bestaat die uit onregel-matige en hoekige kristalachtige korrels, welke op fijn en door-schijnend roodachtig glas gelijken.

Hoe zwaarder, harder en grooter deze korrels zijn, des te meer tin bevatten ze, en des te ligter worden ze onderscheiden van den valsclien tin-erts (batoe—tima koppong), en van de Siamang, of die ligte en kleine korrels, welke bij de smelting geen metaal achterlaten, en zelfs bij de wassehing in de bandar’s mede wegvlocijen.
(dan seterusnya).
.

Maksudnya

Biji timah ini umumnya ditemukan dalam urat-urat yang membentang di antara campuran tanah lempung dan pasir putih yang gembur. Arah uratnya biasanya dari timur ke barat, dan sering kali bercabang layaknya ranting pohon—semakin ke ujung semakin kecil dan tipis, hingga berakhir seperti benang. Kadang-kadang, biji timah (cassiteron/cassiterit, dalam bahasa Melayu disebut batu timah) juga ditemukan tersebar dalam barisan atau gumpalan lepas yang disebut “aliran”.

See also  EKSPEDISI SUNGAI BALLAR: Menelusuri Jejak Perjuangan Pengikut Setia Depati Amir di Selatan Bangka.

Dilihat sekilas dari kejauhan, biji ini tampak seperti tanah hitam biasa, setidaknya bagi mereka yang bukan ahli. Namun sesungguhnya ia terdiri dari butiran kristal tidak beraturan dan bersudut tajam, yang menyerupai kaca kemerahan halus dan tembus pandang. Semakin berat, keras, dan besar butirannya, semakin tinggi kandungan timahnya, dan semakin mudah dibedakan dari biji timah palsu (batu timah kopong) serta dari siamang—butiran ringan dan kecil yang tidak menghasilkan logam saat dilebur, bahkan ikut terbawa arus saat pencucian di tempat pengolahan (bandar).

Setelah dimurnikan, butiran tersebut berubah warna menjadi abu-abu gelap; begitulah warna biji dari Lakfoentiouw ini, yang setelah dikerjakan dengan cangkul di bandar, tenggelam karena beratnya, lalu sesekali diangkat untuk dijemur di bawah angin dan matahari sebelum dibawa ke rumah peleburan.

Setelah melihat seluruh proses pekerjaan di ruang terbuka, kami menuju salah satu tungku peleburan. Tungku tersebut dibangun dari tanah liat berwarna putih keabu-abuan dan pasir, beratap rumbia atau nipah yang juga menaungi satu tungku lagi. Di tengah tungku—yang tingginya sekitar 6 kaki dan lebarnya mungkin 10 kaki—terdapat lubang bundar, dan di bagian depan terdapat lubang dalam yang digali ke dalam tanah, tempat ubin peleburan tanah liat yang mengalir dari lubang tengah tadi berakhir.

Saat hendak melebur biji timah (yang seperti disebutkan, selalu dilakukan pada malam hari karena panas yang menyengat), arang kayu dimasukkan ke lubang yang menyempit itu, dan api ditiup menggunakan alat penghembus (poepoet¹)—biasanya berupa batang kayu berlubang yang dilengkapi pendorong. Biji timah dimasukkan sedikit demi sedikit ke atas arang yang membara, dan timah yang meleleh karena panas mengalir melalui saluran peleburan ke dalam lubang di bawah tungku yang memang digali untuk keperluan ini.

See also  31 Juli 1960, Diresmikannya Gereja HKBP di Jalan Wim Tamawiwi Pangkalpinang.

Timah yang telah terkumpul di lubang tersebut pertama-tama dibersihkan dari potongan arang, abu, dan kotoran lain yang mengapung di permukaannya menggunakan sendok penyaring besi, lalu diambil dengan sendok besi dan dituang ke dalam cetakan kayu yang diletakkan di atas tanah basah halus di dekat tungku. Cetakan ini memiliki dua bagian seperti telinga, dan bentuknya menyerupai perahu kecil—itulah sebabnya timah ini biasa disebut “timah perahu”.

Segera setelah timah di dalam cetakan setengah dingin, ia dibersihkan kembali dari segala kotoran, dan setelah benar-benar dingin dikeluarkan dari cetakan. Terlihatlah “perahu” timah yang berkilau, dengan tanda nama tambang dan nama pulau Bangka yang tercetak di kedua sisi “telinganya”—berbekas dari cetakan kayu yang di satu sisinya diukir huruf B (singkatan Bangka), dan di sisi lainnya huruf pertama nama tambang dalam aksara Tionghoa. Kadang-kadang huruf ini digoreskan dengan tongkat kecil saat timah masih setengah dingin dan lunak.

Setiap balok atau perahu timah beratnya setengah pikul, atau dua perahu setara dengan 125 pon Amsterdam¹. Seorang pelebur dapat menghasilkan 50 hingga 60 perahu setiap malam, yang kemudian ditumpuk di rumah peleburan. Sisa peleburan atau terak timah yang disebut tra, dipukul halus dengan alat besi, disaring, lalu dilebur kembali.

Dari rumah peleburan kami kembali menuju kediaman kongsi, dan melewati tempat pembakaran arang untuk keperluan peleburan. Yang saya lihat hanyalah empat dinding tinggi dari tanah lempung yang memiliki beberapa lubang, dan di atasnya tampak ditutup dengan lapisan tanah.

Tuan VON FABER menjelaskan bahwa di balik dinding itu tersimpan tumpukan kayu besar yang siap dibakar menjadi arang. Tumpukan kayu ini tidak dinyalakan dari bawah, melainkan dari atas, sehingga api menyebar ke bagian bawahnya. Lapisan tanah penutup yang harus terus ditambah selama proses pembakaran perlahan turun seiring kayu yang terbakar, sekaligus memadamkan bagian yang sudah selesai dibakar. Lubang-lubang di dinding berfungsi sebagai saluran udara, memaksa api membakar ke bawah karena tidak memiliki jalan keluar ke atas.

See also  Makam Asisten Residen Bangka Di Tengah Jalan Kota Sungailiat.

Comments

comments