Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. #14, Toponimi Kampung OPAS.
Admin 22 June 2026
Oleh Dato’ Akhmad Elvian.
(Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia)
DALAM Peta Belanda Res. Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen dienst in 1928-1929, Blad 34/XXVd, KK 083-04-01/085-04-10_087- 05978–086, pada bagian Legenda Peta Toelichtingen atau pada penjelasan, terdapat keterangan Kampung Oepas yang sekarang berkembang menjadi Kelurahan Opas Indah Pangkalpinang.
Kampung Opas pada awalnya terletak di sisi sebelah Timur rumah residen (residentshuis te Pangkalpinang op Bangka). Lokasi kampung Oepas sangat strategis letaknya karena di kampung ini berdiri kawasan perkantoran, terutama pada priode kolonial-gemeente setelah ibukota Keresidenan Bangka dipindahkan dari Kota Mentok ke Pangkalpinang pada tanggal 3 September 1913.
Beberapa kantor yang terletak di kampung Oepas antara lain kantor Keresidenan Bangka (resident cantoor), kantor Asisten Residen Bangka Belitung, Kantoor v/d Tinwinning (Kantor Banka Tin Winning Bedryf), Kantor Pengadilan Negeri (Landraad), Gouvts Pasanggrahan (Pesanggrahan Gouvernement), Politiekantoor (Kantor Polisi), Opiumregie (Gudang Opium), Zoutpakhuis (Gudang Garam, posisinya tepat di sisi Utara Kantoor B.O.W), Kantoor B.O.W/ Burgerlijke Openbare Werken (kantor PU, sekarang menjadi Bank Sumsel Babel) dan beberapa kantor lainnya, termasuk Kerkeraad Der Protestansche Gemeente to Pangkalpinang (sekarang GPIB Maranatha) berlokasi di kampung Oepas.

Secara geografis kampung Oepas berbatasan sebelah Selatan dengan kampung Katak, sebelah Utara berbatasan dengan kampung Lembawai, dan sebelah Timur berbatasan dengan jalan Trem, serta sebelah Barat berbatasan dengan kawasan Tangsi.
Kampung diberi Toponimi Oepas karena pada kawasan ini terdapat kantor Opas dan banyak bermukim Opas atau Opsir Belanda. Pada waktu Belanda berkuasa di pulau Bangka, pemerintah Hindia Belanda di samping menjadikan Pangkalpinang sebagai salah satu distrik penambangan timah yang produktif dan pusat pemerintahan (bestuur), juga menjadikan Kota Pangkalpinang sebagai pusat atau basis kekuatan militernya.
Peran Opas Belanda semakin besar setelah usainya perang Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir (Tahun 1851 Masehi). Peran opas terutama menjaga keamanan dan ketentraman penduduk pulau Bangka. Hampir di seluruh kampung di bagian pulau Bangka terdapat kebiasaan penduduk yang umumnya petani peladang untuk menyimpan padi di lumbung-lumbung rahasia di dalam hutan. Kebiasaan ini dilakukan karena takut pada pencurian yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan yang berkeliaran dan takut juga terhadap pemerasan yang dilakukan oleh para kepala adat, kepala kampung atau kepala dusun. Penempatan pasukan dan patroli pasukan Belanda yang dilakukan secara rutin sejak perang Bangka terutama pada saat perlawanan rakyat yang dipimpin Depati Amir sampai ke pelosok kampung dan dusun menyebabkan terciptanya keamanan dan ketertiban di masyarakat. Kehidupan masyarakat dapat dikontrol dengan baik dan kebiasaan penduduk menyimpan padi di hutan secara berangsur-angsur mulai ditinggalkan.

