18 Mei 1812, Pasukan General Gillespie Meninggalkan Palembang Menuju Mentok, Bangka.

IMG_20260518_060852

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Setelah berhasil menguasai Kesultanan Palembang Darussalam, pasukan Inggris di bawah Jenderal Gillespie pada tanggal 18 Mei 1812, meninggalkan Palembang dengan seluruh pasukannya, kecuali seratus orang yang ditinggalkan atas permintaan Sultan baru, Sultan Ahmad Nadjamuddin, Pasukan Inggris menyeberangi Selat Bangla dan tiba di Mentok, kota utama di pulau Bangka, pada tanggal 20 Mei 1812.

Keesokan harinya pada Tanggal 21 Mei 1812, seluruh pemimpin rakyat Bangka harus hadir ke Mentok untuk menandatangani Akta Penyerahan, dengan stempel dan tanda tangan sebagai tanda tunduk dan takluk kepada Inggris.

Selengkapnya dijelaskan dalam An Exposition of the Relations of the British Government with the Sultaun and State of Palembang, London: Black, Kingsbury, Parbury and Allen, 1821, Hal.17: “On the 18th May, therefore, the Commander of the Forces quitted Palembang with all the troops, excepting one hundred men left at the desire of the new Sultaun; and crossingthe Straits of Banca, reached Mintok, the chief town on the island of Banca, on the 20th; where, on the following day, all the chiefs of the island who could conveniently attend, having by previous arrangement been assembled, the Deed of Cession, under the seal and signature of the Sultaun of Palembang and the Princes of that state, was formally proclaimed”.

Sebagaimana halnya dengan Sultan Palembang Darussalam, Mahmud Badaruddin II (masa pemerintahan 1803-1821 Masehi) yang tidak mengakui kekuasaan Inggris atas Kesultanan Palembang Darussalam, Raden Kling, seorang kerabat sultan yang berkuasa di Bangka juga tidak mengakui kekuasaan Pemerintah Inggris atas pulau Bangka.

Raden Kling secara terang-terangan menyatakan diri sebagai orang yang merdeka tidak takluk dan tunduk kepada kekuasaan Inggris. Raden Kling selalu menghindari setiap panggilan untuk hadir di Minto (Mentok) dalam rangka diambil sumpah setianya kepada kuasaan Inggris, seperti yang telah dilakukan oleh kepala-kepala rakyat lainnya di pulau Bangka.

See also  16 April 1929. Dari Kumamoto Jepang, Hamazaki Hana dimakamkan di Kerkhof Pangkalpinang.

Perlawanan Raden Kling memuncak, sekitar bulan Maret 1813, ketika Residen Inggris sedang mempersiapkan untuk mengirim salah satu kapal penjelajah perusahaan, dengan tujuan untuk membawa secara paksa Raden Kling ke Minto.

Beberapa hari sebelum kapal berlayar, Raden Kling beserta puteranya Raden Ali membawa Sembilan belas laskar kapal besar Abercromby, yang sebelumnya telah dihancurkan oleh perompak di lepas pantai Billiton (Wieringa, 1990:122). Para laskar melaporkan, bahwa mereka telah diberi makan dan diperlakukan dengan baik oleh Raden Kling dan pengikutnya.

Atas tindakannya ini Raden Kling diampuni dari kesalahannya. Alasannya terlambat dan tidak hadir di Minto untuk menyatakan sumpah setia adalah karena anak-anak dari Raden Kling yang sedang sakit. Kemudian Raden Kling juga diminta bantuan jasanya oleh Residen Inggris untuk menunjukkan dan membawa pergi sisa awak Abercromby yang masih tersisa dari pulau Billiton ke Minto (Mentok).

Pada kesempatan kunjungannya ke Minto, Ia menyampaikan Dua belas pikul Timah, sebagai siasatnya berpura-pura tunduk kepada pemerintah Inggris.

Pada saat bersamaan satu kapal perang Inggris dikirim ke Toobooallie, sesuai dengan permohonan bantuan yang diperlukan oleh Kepala Pemerintahan dan Inspektur Tambang Inggris di Toboali, Mr. Brown yang sebelumnya bertujuan ingin menangkap Raden Kling, akan tetapi komandan kapal kemudian kembali lagi ke Minto dan melaporkan, bahwa Ia tidak menemukan tempat pertahanan Raden Kling dan juga telah mendengar kabar, bahwa Mr. Brown telah meninggalkan Toobooallie dan sedang dalam perjalanan menuju Minto.

Tidak lama setelah itu, beberapa prajurit Amboynese yang telah dikirim sebagai pengawal Mr. Brown tiba di Minto, dan melaporkan, bahwa Raden Kling, dengan sejumlah rakyatnya, telah mengambil Mr. Brown secara mengejutkan, dan telah membunuhnya. Inspektur Brown dibunuh oleh Raden Kling karena telah menghina anggota keluarga Raden Kling (Sujitno, 2011:199), sedangkan menurut A.A. Bakar yang dihina oleh Inspektur Brown adalah puteranya (Bakar, 1969:13).

See also  14 April 1949. Dari Bangka, Mohamad Roem Bicara Atas Nama Presiden Pada Perundingan Roem-Royen Di Batavia.

Sebuah kekuatan militer segera dikirimkan kembali ke Toobooallie, dan perintah juga dikirimkan kepada petugas yang kebetulan dipekerjakan pada kapal penjelajah dari distrik Marawang, untuk mencegat Raden Kling melalui laut karena mengetahui bahwa Raden Kling melarikan diri beserta pengikutnya menuju ke pulau Belitung, dan bersama Depati Belitong kemudian mengobarkan perlawanan besar di Pulau Belitong.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.

*Keterangan gambar: Salah satu Tulisan Pada Meriam buatan Raden Kling.

Comments

comments