19 Juni 1949, Wartawan Amerika Serikat Tiba di Bandara Kemayoran Dalam Rangka Peliputan di Bangka.

Your paragraph Masyarakat Bangka bergotong royong merenovasi Masjid Jamik P_20260619_111728_0000

Oleh Dato’ Akhmad Elvian*)


Pada tanggal 19 Juni 1949, rombongan wartawan Amerika Serikat tiba di Bandara Kemayoran Jakarta dalam rangka peliputan di Bangka pasca ditandatanganinya kesepakatan Rum-Royen tanggal 7 Mei 1949.

Setelah menginap di Batavia, pada tanggal 21 Juni 1949, jam 05.00, rombongan wartawan dari Amerika bertolak dari Lapangan Udara Kemayoran menuju Lapangan Udara Kampung Dul, Pangkalpinang Pulau Bangka. Rombongan terdiri 15 wartawan Amerika, 4 wartawan Belanda dan dibagi dalam 2 pesawat.

Para wartawan mendapat kesempatan pada malam harinya untuk bertemu dengan Sukarno dan Hatta serta para pemimpin republik lainnya yang berada di Pulau Bangka.

Dalam kesempatan itu, Presiden Sukarno menyatakan Konflik Belanda-Republik Indonesia sebagian besar karena masalah psikologi. Sehubungan dengan itu sangat disesalkan bahwa penandatanganan perjanjian Van Royen-Rum oleh delegasi Indonesia di bawah jaminan kekuasaan pribadi Sukarno dan Hatta tidak serta merta mengembalikan pemerintahan republik.

Segala macam alasan menyebabkan pengembalian tertunda, dari evakuasi warga sipil, penarikan pasukan Belanda, genjatan senjata dan wacana pendirian Negara Tapanuli.

Sukarno berharap diskusi pendahuluan di Jakarta segera membuahkan hasil. Pemerintah Republik dapat dikembalikan ke otoritasnya di Yogyakarta dan banyak hal yang saat ini mengalami kesulitan yang rumit dapat diselesaikan dengan mudah. Sebaliknya, penundaan lebih lanjut akan mengakibatkan memburuknya suasana, yang mungkin merupakan benih untuk kesulitan baru.

Sementara Wakil Presiden Muhammad Hatta mengatakan ada kemajuan setelah penandatanganan Rum-Royen, tetapi hal-hal tidak bergerak secepat yang diinginkan. Ada ketidaksepakatan tentang perintah gencatan senjata dan seharusnya dapat diselesaikan setelah pemulihan pemerintahan Republik Indonesia, tetapi Belanda percaya bahwa perumusan harus diselesaikan sebelum Republik dipulihkan. Tidak ada kontak dengan para pemimpin militer Republik karena sangat sulit berkomunikasi.

See also  30 April 1949. Harian De Volkskrant Menulis Ketua Delegasi Belanda, Dr. Van Royen Adalah Seorang yang Licik.

Selanjutnya mengenai Komunisme, di depan para wartawan, Sukarno menyatakan masalah ini tidak dapat dipisahkan dari kolonialisme dan oleh karena itu sangat terkait dengan penyelesaian perselisihan Belanda-Republik. Sukarno memberikan gambaran tentang gerakan komunis di Indonesia yang muncul sejak awal kemerdekaan dan karena itu bisa bahu-membahu dalam gerakan nasional.

Ajaran Komunis hanya mempengaruhi gagasan beberapa pemimpin, mayoritas pengikut saya adalah bukan komunis. Setelah realisasi kemerdekaan Indonesia, kita dapat menunjukkan kepada rakyat bahwa kebijakan nasional kita baik dan yakin dengan kekuatan kita dapat perangi komunisme. Rakyat Indonesia adalah petani, dan di tanah muslim tidak ada pengaruh komunis yang kuat. Kita mengawasi semua kegiatan ini (Harian Het nieuwsblad voor Sumatra edisi 23 Juni 1949).

Para wartawan yang melakukan peliputan di Bangka akan bermalam di Mentok dan pada Rabu pagi hingga pukul 12 siang berkesempatan melakukan perjalanan keliling pulau bangka, termasuk kunjungan ke pertambangan Timah Bangka. Setelah itu rombongan wartawan Amerika berangkat menuju Semarang. Para wartawan Amerika yang berkunjung dan melakukan peliputan di Bangka diantaranya adalah dua pemenang Pulitzer dan wartawan dari majalah Time, The New York Times, Christian Science Monitor, Chicago Daily News, Houston Post, dan Denver Post.

Selanjutnya ada Hubert Renfro Knickerbocker, seorang jurnalis lepas terkemuka, Ia memenangkan Hadiah Pulitzer pada tahun 1933 untuk liputannya mengenai pengadilan pembersihan (purge trials) di Rusia. Jurnalis top lainnya yang hadir adalah Charles Gratke, editor luar negeri untuk Christian Science Monitor, George Moorad  dari Portland Oregonian, John Werkley dari majalah Time, Thomas A. Falco dari Business Week, S. Burton Heath dari Newspaper Enterprise Association.


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia

Comments

comments