Foto_DjeboesOudtypeBankaneeschewoninginKampongMaselikSumber_Rijk_20260729_150413_000

Oleh : Meilanto


Dalam bukunya, NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857, Buddingh menuliskan tentang kondisi Kampung Air Biru yang mana rumah penduduk dibuat panggung berdinding papan, lantai bilah pohon nibung, beratap juga daun nibung. Seperti yang ia tulis pada halaman 32-34:

Terwijl de koelie’s hun riposo namen, trad ik eenige oogen-blikkcn binnen bij het Dorpshoofd, of den Gegading of Mandoor of Petingi, – voerende de Dorpshoofden op Banka gewoonlijk den titel van Petingi, of Gegading of Mandoor, welke laatste naam op Java gegeven wordt aan opzieners van werkvolk als anderszins, (b. v. Mandor-stal,
Mandor—koppi, Mandor-goedang , dat is: stal-, koffijen pakhuis-mandoo r of opziener.) Het huisje van den Mandoor of Gegading (1) van Aijer-biro e stond op palen, ongeveer 5 à 6 voeten hoog boven den grond, en was in drie vertrekken afgedeeld. De muren of wanden waren van planken, en de vloer was van latten van den Nibong-boom, die digt nevens elkander gelegd en met rottan verbonden waren, terwijl het dak uit Nibong-schors bestond, en aan de voorzijde der woning eene open galerij was aangebragt. Zoodanig is trouwens ook de bouwtrant van alle huizen der o rang-a b an g of meergegoeden
(eigenlijk oudsten) in de Bankasche dorpen, doch de overige huizen hebben wanden of muren van Nibong-schors, en zijn met de bladeren van nipa of atap gedekt. In het midden van het dorp Aijer-biroe , hetwelk ongeveer 12 à 15 huizen
telt, staat de Balei of het Raadhuis, hetwelk tevens (gelijk overal in de Bankasche kampongs) tot logement voor reizigers
dient, en aan drie zijden open en door een houten hekwerk of leuning (balustrade) omgeven is. Aan weerszijde van de/:e
balei, welke het middelpunt van een vierkant plein uitmaakt, staan de huizen in geregelde rijen gerangschikt. Dewijl juist
het dak van het Raadhuis gerepareerd werd, zoo zag ik eenige inlanders bezig om de noodigj Nibong-boomen, die een’ tijd
lang in water geweekt waren, aan te dragen, terwijl anderen deze boomen met ronde stukken hout van een paar voet lengte en 5 à 6 duim dikte gestadig klopten, ten einde den bast los te maken,” en weder anderen de reeds losgelaten schorsen in
reepen van p. m. 2 voet breedte en van 3 à 4 voet lengte sneden, en nog weder anderen deze reepen met de randen een weinig over elkander op het dak schikten. Men kan zeggen, dat de Nibong-boom en de Nibong-schors op Banka grootendeels of liever geheel en al de bamboe op Java vervangen. Zelfs kleine praauwtjes, die zoo ligt zijn, dat één man ze dragen kan en die ook maar één’ man bevatten kunnen,
worden van Nibong-schors vervaardigd; en de eenige roeiriem (pengajoe), waarmede deze schuitjes worden voortgestuwd en
die aan beide uiteinden een blad of spaan hebben, worden uit den Nibong-boom gekapt. (1)

(1)  De Distriktshoofden op Banka worden Krio of Batin geheten.
Enkele Distriktshoofden voeren den Javaanschen titel van Demang en Depatti.

(1) De pengajoe is ongeveer 12 ù 14 voeten lang. De man in het praauvvtje
houdt ze in het midden met beide handen vast, en slaat de beide spanen of lepels
beurtelings te water, dan eens aan de regter-zijde der praauw en dan weder aan
de linker-zijde. Ook te Riouw zag ik de Chinezen van zoodanige dubbelde roei-
spaan gebruik maken.

Maksudnya:
Saat para pengangkut beristirahat sejenak, saya singgah sebentar ke kediaman kepala kampung—yang di Bangka biasanya bergelar Gegading, atau Mandor; sebutan Mandor sendiri di Jawa digunakan untuk pengawas pekerja atau petugas lainnya, misalnya Mandor Kandang, Mandor Kopi, atau Mandor Gudang.

See also  29 Mei 1948, Konferensi Federal Bandung, Dihadiri Utusan Bangka, Masyarif Datuk Bendaharo Lelo, Se Siong Men, dan A.M.Yusuf Rasidi

Rumah Mandor atau Gegading (1)  Kampung Air Biru itu dibangun di atas tiang setinggi sekitar lima hingga enam kaki, dan terbagi menjadi tiga ruangan. Dindingnya terbuat dari papan, lantainya dari bilah pohon nibong yang disusun rapat dan diikat rotan, sedangkan atapnya dari kulit kayu nibong. Di bagian depan rumah terdapat beranda terbuka. Demikian pula bentuk rumah golongan orang abang atau warga yang lebih berada (sebenarnya berarti sesepuh) di kampung-kampung Bangka; sedangkan rumah warga lainnya dindingnya dari kulit nibong dan atapnya dari daun nipah atau rumbia.

Di tengah kampung Air Biru yang berisi sekitar dua belas hingga lima belas rumah itu berdiri Balai Kampung yang seperti umumnya di seluruh kampung di Bangka juga berfungsi sebagai tempat istirahat bagi pengelana. Bangunan ini terbuka pada tiga sisi dan dikelilingi pagar kayu atau pembatas rendah. Rumah-rumah warga tersusun rapi berderet di kedua sisi balai yang menjadi pusat lapangan persegi itu.

Kebetulan saat itu atap Balai sedang diperbaiki. Saya melihat penduduk setempat mengangkut pohon nibong yang sebelumnya telah direndam air cukup lama; sebagian lainnya memukul-mukul batang itu dengan kayu bulat sepanjang dua kaki dan setebal lima hingga enam inci agar kulit kayunya terlepas; ada pula yang memotong kulit yang sudah lepas menjadi lembaran selebar sekitar dua kaki dan panjang tiga hingga empat kaki; dan sisanya menyusun lembaran-lembaran itu di atap dengan sedikit tumpang tindih.

Boleh dikatakan, pohon dan kulit nibong di Bangka hampir sepenuhnya menggantikan fungsi bambu yang lazim digunakan di Jawa. Bahkan perahu kecil yang sangat ringan—hanya sanggup memuat satu orang dan bisa diangkut seorang diri—pun dibuat dari kulit nibong. Satu-satunya dayung yang digunakan untuk menggerakkan perahu itu, yang berujung seperti bilah di kedua sisinya, juga dipahat dari kayu pohon nibong (1).

See also  20 Juli 1949, Delegasi BFO pada Konferensi Inter Indonesia Menyokong Republik Atas Penyerahan Kedaulatan Tanpa Ikatan Politik dan Ekonomi.

CATATAN KAKI

(1) Kepala Wilayah di Bangka disebut Krio atau Batin. Sebagian Kepala Wilayah lainnya menggunakan gelar Jawa yaitu Demang dan Depati.

(1) Dayung itu panjangnya sekitar 12 hingga 14 kaki. Orang yang berada di dalam perahu memegangnya di bagian tengah dengan kedua tangan, lalu mengayunkan kedua ujung bilahnya secara bergantian ke air—terlebih dahulu ke sisi kanan perahu, kemudian ke sisi kiri. Di Riau pun saya melihat orang-orang Tiongkok menggunakan dayung bermata ganda semacam ini.

 Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments