Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 09, Toponimi Tempilang.

IMG-20260518-WA0007 (1)

Dato’ Akhmad Elvian, DPMP


Tempilang adalah salah satu kota kuno di Pulau Bangka. Dalam catatan sejarah bahkan keberadaan Benteng dan gudang yang diperkuat dengan meriam dan persenjataan di Tempilang telah dibangun masa Abang Pahang bergelar Tumenggung Ditamenggala, sekitar Tahun 1769.

Dalam peta Het Eiland Banka (1819) and De River van Palembang (1821) Tempilang ditulis dengan Tampillang. Letak geografisnya berada di pesisir Barat Pulau Bangka, dengan Pulau Semopong di sebelah Baratdaya, kemudian Tanjung Toda di sebelah Baratlaut dan pada sisi Tenggara Kota Tampillang terdapat Tanjung Kaay.

Dalam Map of the Island Banca, Tahun 1821 oleh M. H. Court, seorang Residen Inggris untuk wilayah Palembang dan Bangka Tempilang ditulis dengan toponimi Tempelang. Dalam Peta Pulau Bangka yang lebih muda, J.W. Stemfoort Tahun 1885, Tempilang ditulis dengan Tampilan. Pada peta ini juga ditulis keberadaan aera Fort atau wilayah Benteng Tempilang yang terletak di sisi Tenggara Tampilan dan Tanjung Semoela.

Toponimi Tempilang berasal dari nama spesifik Kayu Tempelang (Pterocarpus indicus Willd.) yang juga dikenal sebagai Kayu Merah. Keberadaan Fort Tempilang beserta gudang, dibangun untuk melindungi pertambangan Timah milik Sultan Palembang. Pertambangan Timah awalnya dibuka di Mentok kemudian dibuka di Belo, pertambangan Timah selanjutnya dibuka di Panji dekat Belinyu dan selanjutnya dibuka di wilayah Tempilang (Tanpi).

Dalam Laporan Belanda, pada Tahun 1803, terdapat teko atau tiko bernama Kimas Tumenggung Astra Dikara, seorang teko raja, yang membawahi Distrik Bangka Tampelang (Tempilang), mempekerjakan 10 pekerja tambang Cina.

Penamaan Kota dengan Toponimi Tempilang dapat dilihat dari peta-peta pulau Bangka yang lebih muda, seperti peta Tahun 1897, 1910 dan seterusnya. Kota Tempilang oleh pemerintah Hindia Belanda dimasukkan dalam wilayah “Underdistrik Kadiala” dalam wilayah Distrik Mentok, dengan mayoritas penduduk Orang Darat dengan dialek Bahasa Orang Darat.

See also  10 April 1942, Pimpinan Gereja Katolik, Para Imam dan Bruder Berkebangsaan Belanda Ditahan Tentara Jepang.

Tampaknya toponimi wilayah geografi lainnya setelah Tahun 1897 sudah seperti sebutan pada saat kondisi sekarang, misalnya Kota Tempilang pada sisi sebelah Baratnya terdapat Aik Tempilang dan pada sisi Timurnya terdapat Aik Kelantji dan bukit Pereban, selanjutnya pada sisi Utara terdapat bukit Singiri, gunung Plawan dan gunung Pandan, sedangkan pada wilayah pesisirnya terdapat pulau Semoemboeng (Satu pulau yang bila air laut surut terhubung dengan wilayah daratan Tempilang).


*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaaan.

Comments

comments