Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 03, Toponimi Sungailiat.
Akhmad Elvian DPMP., ECH 6 April 2026 0
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP*
Sungai Liat adalah satu nama bentang alam atau topografi sungai di Pulau Bangka dan pada wilayah di sekitar sungai kemudian didirikan pangkal tempat kedudukan demang dan jenang yang selanjutnya berkembang menjadi wilayah pemukiman penduduk dan kemudian terus berkembang menjadi satu kota yang diberikan nama (toponimi) sama dengan nama sungainya yaitu “Sungailiat”.
Berdasarkan Toponiminya Sungailiat berasal dari nama generik “Sungai” yang berarti aliran air di permukaan besar dan berbentuk memanjang yang mengalir secara terus-menerus dari hulu atau sumber air menuju hilir atau sering disebut muara atau kuala dan berasal dari nama spesifik “Liat atau Leat” (Lobocheilos falcifer) yaitu nama species ikan yang endemik hidup di air tawar atau sering disebut Ikan Sungai.

Sumber Pieter Bleeker,1853
Sungailiat disebut “Kota” atau pemukiman yang terdapat benteng atau parit pertahanan oleh Kerajaan Inggris (Tahun 1812-1816) atau Stocade of Soongie Liat (benteng di Sungailiat) dapat dilihat pada tulisan Map of the Island of Banka Compiled from Remarks and Materials Collected during a Journey Through the Island Annexed to a Report on the same and Addressed to the honourable Thomas Stamford Raffles.
Terkait keberadaan benteng atau kota pada pangkal pangkal tempat kedudukan demang dan jenang, dijelaskan oleh Wieringa (1990:111), sebagaimana dikutip Akhmad Elvian dalam bukunya Benteng Toboali (Fort Toboalij) Tahun 2022 pada halaman 6; …”maka tempoh ini baginda susuhunan memerintahkan membuat kota benteng tanah atau kayu di pangkal-pangkal tanah Bangka….”.
Bukti tertulis yang cukup tua yang menunjukkan keberadaan Satu Sungai dengan toponimi Sungai Liat dapat dilihat pada Peta [Bangka Strait] Plan of the Straits of Banca Surveyed by Captn. Lloyd of the Elliot Country Ship and Mr. Bampton in his Passage from China to Batavia and from Batavia to Malaca . . . 1796, London 1796, oleh Laurie & Whittle.
Dalam peta tersebut Sungai Liat secara geografis terletak di Pesisir Timur Pulau Bangka tepatnya di sisi Selatan Tanjong Lyang dan Sungai Liat ditulis dengan Soongy Leeat.
Selanjutnya bukti peta yang menunjukkan keberadaan Sungailiat sebagai satu Pangkal dan ditulis dengan Pangkalsungailiat dapat dilihat pada peta yang lebih muda Tahun 1858-1861 oleh P.H. Van Diest: Geognostisch-mijnbouwkundige kaart van het eiland Bangka, distrikt Soengeiliat-volgens de opneming van den ingenieur voor de mijnen P.H. Van Diest, gedurende de jaren 1858-1861.
Pada peta tersebut Pangkalsungailiat ditulis dengan Pangkalsoengeiliat dan sungainya ditulis dengan Soengei Liat.
Catatan awal tentang Sejarah Sungailiat sebagai satu Pangkal di Pulau Bangka dapat dipelajari pertama kali pada masa Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adikusumo (Tahun 1757-1776) ketika sultan memerintahkan kepada Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala di Mentok untuk mendirikan Pangkal pangkal di Pulau Bangka sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang dalam rangka pengelolaan pertimahan dan melakukan hubungan dengan berbagai Bangsa seperti Orang China, Sijam, Cochin dan Melayu.
Dalam Semaian Carita Bangka, Het Verhaal Van Bangka Tekstuitgave Met Introductie en Addenda, E.P Wieringas, 1990, Halaman 106 ditulis: “lebih dahulu sudah … menyuruh kepada Dipati Depak membuat Pangkal di Layang, Sungai Liat, Cengal dan Pangkal Pinang dan ….”.
Dalam versi lain menurut F. S. A. De clercq, menjelaskan dalam “Bijdrage Tot De Geschiedenis van Het Eiland Bangka (Naar een Maleisch Handschrift)”, dalam Bijdragen Tot De Taal, Land, En Volkenkunde in Netherlands Indie (BKI), 1895, halaman 146: tentang pendirian tempat tempat eksploitasi deposit Timah ditulis: “Voorts droeg de Sultan den Temenggoeng Dita Mengala op, over het geheele eiland Bangka een nauwkeurig onderzoek in te stellen naar de plaatsen, waar tinerts kon verkregen worden. Dientengevolge werden mijnen ontgonnen ten oosten van Muntok te Pahit, Beloeh enTempilang en ten westen van Muntok (te Bijat, Boenoet, Bendoel, Remboet en Soengei-Boeloh). Bovendien werd den Batin-Pasirah van Pandji gelast te Pandji, den Depati van Depak te Lajang, Soengei-Lijat, Tjengal en Pangkal-Pinang, en den Depati van Pakoe te Koebak, Balar en Toeboealih-Lama mijnen te ontginnen; behalve de oude mijnen te Oelim, Bangka-Kota, Djeroek en Kota Waringin. De Sultan zond nu Demang’s en Djenang’s om de werk zaamheden te leiden en teveus Chineezen, Sijameezen, Cochinchineezen en Maleiers”.
Maksudnya F. S. A. De clercq adalah: Selanjutnya Sultan memerintahkan Temenggoeng Dita Mengala untuk melakukan penyelidikan menyeluruh di seluruh Pulau Bangka untuk mengetahui tempat-tempat yang dapat diperoleh bijih timah. Akibatnya, pertambangan dieksploitasi di sebelah timur Muntok di Pahit, Beloeh dan Tempilang serta di sebelah barat Muntok (di Bijat, Boenoet, Bendoel, Remboet dan Soengei-Boeloh). Selain itu, Batin-Pasirah Pandji diperintahkan untuk mengeksploitasi tambang di Pandji, Depati Depak di Lajang, Soengei-Lijat, Tjengal dan Pangkal-Pinang, serta Depati Pakoe di Koebak, Balar dan Toeboealih-Lama; kecuali tambang tua di Oelim, Bangka-Kota, Djeroek dan Kota Waringin. Sultan kini mengutus Demang dan Djenang untuk bekerja untuk memimpin kegiatan dan bertemu orang Tionghoa, Sijam, Cochin dan Melayu.
__________
*Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.