Benda yang dilihat Buddingh di Kampung Sembilang.

IMG-20260730-WA0003

Oleh : Meilanto


Dari Kampung Air Biru, Buddingh meneruskan perjalanan ke Kampung Sembilang. Di kampung itu ia melihat ladang huma ada kayu-kayu hasil pembakaran serta rumah kepala kampung dan melihat sepasang tanduk rusa,  jerat dan tambang (tali) yang terbuat dari rotan untuk menangkap rusa. Simak tulisannya pada halaman 34-35 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.

Van Aijer-biro e bereikte ik na een paar uren, over en door het Goenong-paiijang-gebergte, het dorp Sembilang, hetwelk er even als Aijer-biro e uilziet. In het huis van den Mandoor zag ik eenige Tandoek menjangan of herten-horens aan den wand, en eenige strikken en banden en lange touwen of koorden, alles van rottan, om de herten te vangen. Onderweg was ik eenige ladang’s of drooge en hoogc rijst-vel- den gepasseerd, die zich door hunne verbrande boomstammen en tijdelijke huljes of afdaken (pondok’s) als zoodanig deden kennen, al was er ook soms geen padie-groen op te onderscheiden. De aanleg dezer ladang’s (waarvoor elk jaar een ander terrein gezocht moet worden, dewijl een geoogst veld 7 jaren braak moet liggen,) is even eenvoudig, als op Java de aanleg der gaga’s of tipar’s. Ongeveer in de maand Junij wordt slechts op een gekozen terrein het hout- en struik-gewas afgebrand, en daarna de zaadpadie in rijen uitgestrooid. De tijdelijke hutjes of pondok’s worden gedurende het plant- en oogst-saisoen door de dorpelingen bewoond, eensdeels omdat vaak de afstand der ladang’s van het dorp te groot is om dagelijks huiswaarts te keeren, en anderdeels omdat de rijpende padie door vogelverschrikkers , welke men, even als op Java , door touwen beweegt, tegen de rijst-vogeltjes of rijst—diefjes beschermd moet worden. Zoodanige hutjes vindt men ook vaak in het diepst der wouden, waar de houtskoolbranders, of zij, die zich op het
branden van arang of houtskool voor het smelten der tinerts toeleggen, tijdelijk wonen. Ook die inlanders, welke in de
bosschen dammar of hars (1) verzamelen, of amballo, – (2) marantegaroe,- sapan,- (3) ringas,- tengris, – ebben – en ander timmerhout eu ni bong-boomen kappen, of wel rottan, was en honig zoeken, of die aan de stranden en de oevers der lalaps of moerassen Nipa of Atap snijden, maken
zich soms dergelijke hutjes van riet of bladeren en boomtakken.

Maksudnya:
Dari Air Biru, setelah menempuh perjalanan beberapa jam melintasi Pegunungan; Gunung Panjang, saya tiba di Kampung Sembilang, yang tampak persis sama dengan Kampung Air Biru.

See also  20 April 1876, Surat Direktur Kehakiman, Nomor 2242/4317, Hamzah atau Depati Tjing Pantas Menjadi Mantri Cacar.

Di kediaman Mandor kampung itu, saya melihat sepasang tanduk rusa menjuntai di dinding, serta berbagai jerat, tali pengikat, dan tambang panjang—semuanya terbuat dari rotan—yang digunakan untuk menangkap hewan buruan tersebut.

Sepanjang perjalanan, saya melewati sejumlah ladang padi di dataran tinggi yang kering. Ciri ladang itu terlihat jelas dari batang-batang kayu yang hangus dan gubuk-gubuk sementara di sana, meskipun kadang belum tampak tanaman padi yang menghijau. Cara membuka ladang ini sangat sederhana, sama seperti sistem gaga atau tipar di Jawa; setiap tahun harus dicari lahan baru, karena sebidang tanah yang sudah dipanen harus dibiarkan selama tujuh tahun sebelum bisa ditanami kembali.

Kira-kira pada bulan Juni, semak dan pepohonan di lahan yang dipilih hanya dibakar begitu saja, kemudian benih padi ditaburkan berbaris. Gubuk-gubuk sementara ini ditempati warga saat masa tanam dan panen; selain karena jarak ladang yang cukup jauh dari pemukiman sehingga sulit untuk pulang-pergi setiap hari, padi yang mulai menguning juga harus dijaga dari serangan burung pipit menggunakan alat pengusir yang digerakkan dengan tali—persis seperti kebiasaan yang ada di Jawa.

Gubuk serupa juga sering ditemukan jauh di dalam hutan, tempat para pembuat arang menetap sementara—terutama arang yang digunakan untuk melebur bijih timah. Demikian pula warga yang mencari damar (1), atau memungut amballo, marantegaroe, sapan (2), ringas, tengris, kayu hitam, serta kayu bangunan lain dan pohon nibong; atau mereka yang mengumpulkan rotan, lilin lebah, dan madu; serta mereka yang memotong daun nipah atau rumbia di pesisir dan rawa-rawa—semuanya kerap membuat gubuk darurat dari rerumputan, dedaunan, dan ranting pohon.


*Keterangan gambar: Rijstvelden
Robert Julius Boers, 1900 – 1922
Landschap met rijstvelden op Banka. Onderdeel van een groep stereofoto’s van Robert Julius Boers, chef van het staatsbedrijf de Banka-tinwinning op Banka, uit de periode ca. 1900-1922

Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

See also  8 Mei 1849, Surat Direktur Sumber Keuangan dan Barang-Barang Milik Negara, Nomor 935, Tentang Usul Pembagian Tambang Sungailiat dan Merawang.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments