JelajahBangka_20260727_192849_000

Oleh : Meilanto


Dari Mentok, Buddingh menuju Jebus, yang berjarak 38 pal yang ditempuh dengan perjalanan 13 jam. Ia mendeskripsikan kampung yang ia temui dengan sangat detail.

Simak tulisannya pada buku yang berjudul NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 halaman 31-32:

Deze reis ving (zoo als gezegd is) aan op den 14 den Oktober. Per draagstoel (hier het eenige vervoermiddel over land) vertrok
ik met het aanbreken van den dag naar het distri kt Jeboes, welks pankal of hoofdplaats; almede Jeboes geheeten, 38 palen en dus ongeveer 13 uren van Muntok verwijderd ligt, Tot aan de kampong Maijang toe loopt de kronkelende en slingerende weg, welke ten N. O. van Muntok aanvangt, over de bergketenen van den Manoembing, Goenong-panjang en Kekoekoes en door eenige diepe kloven of ravijnen. Overal was het terrein met alang-alang (wild hoog gras) of glaga bewassen, en hier en daar met boschjes en groepjes van boomen en wilde struiken, waarin ik soms de boschhanen hoorde kraaijen of de koolmeezen fluiten, en van tijd tot tijd ook werd het door eenige rivieren, als de Aijer-belo , Aijer-nioo en de Soengi-sankei, doorsneden. Weldra bereikte ik de kampong Aijer-biroe , welker huizen geheel van koeliet (boom-schors of boom-bast) van den Nibong—palm of Nibong-boom gebouwd zijn. Zoodanige huizen vindt men in alle kampongs, dewijl Banka slechts zeer weinig bamboe, hetwelk anders op de meeste eilanden van den Indischen Archipel het bouw-materiaal voor inlandsche woningen is, oplevert, en de Bankanézen bovendien de r e bong of de jonge loten van den bamboe-struik altijd afsnijden, om ze als moes-groenten (de bekende Saijor-loddé ) te eten, en gevolgelijk dit riet-gewas alleen als voedingsmiddel, en niet voor huisbouw, aankwecken. De groote weg loopt midden door Aijer-biroe (welk woord paars water beteekent) heen, hebbende te midden der kampong eene breedte van welligt 25 à 30 voeten, en boven de huisjes dezer kampong welven talrijke kokos-palmen hun dak van wuivende bladeren, terwijl groote Doerian-,Nangka – en Maiiga-boomen hunne groene en gele vruchten boven pisang-struiken en Ananas-planten ten toon spreiden, en de kleine bijna bij elk huisje gelegen groenten-tuintjes, – waarin de lobak (lange knollen of rapen of radijzen) een groote plaats beslaan, – tegen de felle zonnehitte belommeren, gelijk ook verscheidene Pinang-boomen hunne ranke asch-graauwe en ongeveer 6 à 8 duim dikke slainmen 40 à 50 voeten hoog verheffen, en hunne sierlijke kroonen of pluimbossen van 7 à 8 bladeren in den morgenwind wiegelen (1). Onder het witte papierach-tige bloemdek dezer Aréea – palmen, welk bloemdek ongeveer 2 voet groot is en de bloemkoif beschermt, zag ik een zeer klein vogeltje, zoo als ik er later meerderen te Marawang of in het distrikt Batoe-roessak zag, hetwelk een sierlijk
gekleurde pluiinaadje heeft, en niet grooter is dan de bekende kolibri, en hiermede ook veel overeenkomst heeft. Het zocht de vliegjes of hoclat-wormpjes, die op de honigstofjes der duizenden van bloempjes of bloesems van den aréca-palm azen.
Bij sommige pinang-boomen klom de b e tel-peper-rank of siri-rank slingerend om den geleeden stam naar boven en liet
hare hartvormige ledèrachtige bladeren in het zonnelicht blinken (2).

(1) De bladeren van den Pinang-boom (aréca-catechu of katsjoe (waar-
van ik reeds elders, en vooral op bladz. 100, sprak,) hebben eene lengte van G tot 14 voeten, en elk zamengesteld blad beeft lancet—vormige blaadjes, die, 3 à 4
duim breed en 3 à 4 voeten lang, stijf en draadachtig en in 2 à 5 plooijen ge-
vouwen zijn. De vrucht of noot, die met een dunne groene schaal of huid bedekt
is, heeft de grootte van een galnoot. Ze hangt in digte trossen onder de bladeren
kroon, en heeft, als ze rijp is, eene levendig-roode kleur.

(2) Keeds hoogcr is gezegd, dat het si r i-blad bij de sepah of de Hirnlos
tausche paän, d. i. het siri – of hé tel-pruimpje der inlanders, onmisbaar is.
liet blad bevat een scherp-biitend vocht of sap, en wordt met M uschel-kalk
(in Ifindostan »Choenam” geheet en) bestreken. Een afgeknipt stukje van de
pinang-noot wordt, met een weinig terr a japonic a of gambier, in het
blad gewikkeld en vervolgens tnsschen de lippen genomen.

TERJEMAHAN
Perjalanan ini dimulai pada tanggal 14 Oktober, sebagaimana telah disebutkan. Dengan menggunakan tandu—yang saat itu menjadi satu-satunya alat angkut darat—saya berangkat tepat saat fajar menyingsing menuju wilayah Jebus. Pusat pemerintahan atau pangkalnya yang bernama sama, Jebus, berjarak 38 pal, atau sekitar tiga belas jam perjalanan dari Muntok.

See also  Sejarah Penamaan Wilayah Di Pulau Bangka. 06, Toponimi TOBOALIH.

Jalan yang berkelok dan berliku itu bermula di sebelah timur laut Muntok, melintasi pegunungan Manoembing, Gunung Panjang, dan Kekoekoes, serta menyeberangi beberapa jurang yang dalam, hingga sampai ke Kampung Maijang (Mayang, pen). Sepanjang jalan, tanahnya ditumbuhi ilalang dan gelagah (semacam rumput gajah/ apit-apit), diselingi rimbun semak belukar dan pepohonan liar. Sesekali terdengar suara ayam hutan berkokok dan burung kutilang bersiul; perjalanan juga memotong beberapa sungai seperti Air Belo, Air Nio, dan Sungai Sankei.

Tak lama kemudian saya tiba di Kampung Air Biru. Rumah-rumah di sana seluruhnya dibangun dari kulit kayu pohon Nibong (Nibung). Bangunan semacam ini dapat ditemukan di semua kampung, karena Pulau Bangka hampir tidak menghasilkan bambu—padahal di sebagian besar wilayah Nusantara tanaman ini adalah bahan utama rumah penduduk. Selain itu, warga Bangka selalu memotong tunas muda bambu atau rebung untuk dijadikan sayur masak lodeh, sehingga tanaman ini hanya dibudidayakan sebagai bahan pangan, bukan untuk bahan bangunan.

Jalan utama membelah tengah kampung yang namanya berarti “Air Biru” ini, dengan lebar sekitar 25 hingga 30 kaki. Di atas atap rumah-rumah itu, rimbun pohon kelapa mengibarkan dedaunannya; pohon durian, nangka, dan mangga menggantungkan buahnya yang hijau dan kuning di antara rumpun pisang dan tanaman nanas, serta menaungi kebun sayur kecil di depan setiap rumah—yang sebagian besar ditanami lobak—dari terik matahari. Pohon pinang pun menjulang tinggi setinggi 40 hingga 50 kaki dengan batang berwarna kelabu pucat setebal enam hingga delapan inci, sementara tajuknya yang terdiri dari tujuh hingga delapan helai daun bergoyang ditiup angin pagi (1).

Di balik seludang bunga pinang yang berwarna putih sehalus kertas, berukuran sekitar dua kaki dan melindungi bakal bunganya, saya melihat seekor burung yang sangat kecil—jenis yang kelak saya temui lebih banyak di Marawang atau wilayah Batu Rusak. Burung ini memiliki bulu yang indah, ukurannya tak lebih besar dari burung kolibri, dan memiliki banyak kemiripan dengannya. Ia sedang mencari serangga kecil yang menghisap madu dari ribuan kuntum bunga pinang. Pada beberapa batang pohon pinang, tanaman sirih merambat melilit batang yang beruas-ruas itu, memperlihatkan daunnya yang berbentuk hati berkilau terkena cahaya matahari (2).

See also  23 April 1949, Seluruh Delegasi Indonesia Bertemu Soekarno dan Mohd. Hatta di Pangkalpinang.

 TERJEMAHAN CATATAN KAKI

(1) Daun pohon pinang (Areca catechu atau katsjoe—yang pernah saya bahas di bagian lain, terutama pada halaman 100)—memiliki panjang 6 hingga 14 kaki. Setiap helaian daun majemuk tersusun atas anak daun berbentuk lanset, selebar 3 hingga 4 inci dan panjang 3 hingga 4 kaki, bertekstur keras berserat, serta terlipat dalam 2 hingga 5 bagian. Buah atau bijinya yang diselimuti kulit tipis berwarna hijau, berukuran sebesar biji kenari. Buah ini menggantung bergerombol rapat di bawah tajuk daun, dan berubah menjadi merah cerah saat matang.

(2) Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, daun sirih adalah bagian yang tak terpisahkan dari kebiasaan mengunyah sirih atau penyajian sirih pinang masyarakat setempat. Daun ini mengandung getah yang rasanya tajam dan sepat, lalu diolesi kapur kerang (di Hindustan disebut Choenam). Sepotong biji pinang yang sudah dipotong, ditambah sedikit gambir, kemudian dibungkus dengan daun sirih dan diselipkan di antara bibir untuk dikunyah.


Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.

Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.

Comments

comments